“Ssst, Solo Punya Dua Penguasa Muda, Tampan, Berpendidikan & Masih Single Lho!

Kandjeng Gusti Adipati Arya Mangkunagoro X, Duta seni flamboyan Mangkunegaran muda, dan masih single tapi sanggup membawa gending perubahan bagi kerabat, abdi dalem, dan masyarakat Solo Raya. (Foto: Istimewa)

WANITAINDONESIA.CO — Selain membiaskan obrolan politik tak sedap, aura Solo terpancar dari persona dua penguasa baru. Surakarta Hadiningrat atau populer dengan nama kota Solo memiliki keunikan dari status pemerintahan yang mengacu pada aspek budaya.

Dikenal akan keberadaan dua pusat pelestari budaya, yang tetap eksis hingga sekarang yakni Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan Pura Mangkunegaran.

Kedua wilayah dipimpin oleh penguasa berbeda. Kekinian, tampuk kekuasaan dijalankan oleh pewaris tahta dari kalangan Milenial, dan Gen-Z.

Lekat dengan persona pria muda berparas tampan, cerdas karena memiliki background pendidikan dari Universitas ternama.

Mereka membawa spirit perubahan yakni Keraton, dan Pura harus menjadi pusat ilmu, seni, dan budaya menyelaraskan zaman bagi seluruh elemen masyarakat, dan kelompok generasi muda khususnya Milenial dan Gen-Z.

Seolah tak pernah terlepas dari kontroversi, kepemimpinan generasi muda penerus leluhur mereka juga lekat friksi, dan hiruk-pikuk suksesi.

Bersaing memperebutkan kekuasaan sebagai penerus legacy leluhur. Mengubur asa, dan cita-cita akan masa depan di luar tembok tirani, dan rela berpindah keyakinan.

Yang membuat mata awam tercengang ajaran adiluhung para leluhur seakan telah tercerabut dari akar peradaban. Intrik, dan perebutan kekuasaan yang diwarnai dengan aksi tak terpuji menjadi tontonan masyarakat.

Memang sejatinya perebutan kekuasaan menjadi bagian dari suksesi sejak dahulu, namun sebagai pusat peradaban hal ini tentu menjadi contoh yang tak elok bagi masyarakat. Dampaknya pun sangat signifikan, serta memengaruhi citra keraton yang lekat dengan aura spiritual, sejarah, dan budaya.

Bertekad lanjutkan legacy Wangsa Mataram lewat filosofi hanebu sauyun. (Foto: Istimewa)

Duta Budaya Flamboyan

Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo akrab disapa Gusti Bhre resmi menjadi Adipati Mangkunegara. Bergelar Kanjeng Gusti Adipati Arya Mangkunagoro X.
Dia mengemban amanah, serta tanggung jawab besar sebagai penerus legacy leluhurnya dengan berpegang pada filosofi hanebu sauyun.

Nomnoman lencir (pria berpostur tinggi langsing, berkulit putih) dengan sorot mata tajam namun lembut, (menggambarkan  perpaduan antara kekuatan karakter, kecerdasan, serta empati) dikenal masyarakat dengan panggilan Gusti Bhre. Bhre merupakan putra bungsu dari dua bersaudara.

Lelaki berparas tampan merupakan putra dari KGPAA Mangkunegoro IX dengan GKP Prisca Marina Yogi Supardi. Wanita kharismatik tersebut merupakan permaisuri kedua.

Ketika Mangkunegara IX wafat, muncul tanya di kalangan keluarga besar perihal suksesi, dikarenakan dia  tak meninggalkan wasiat, siapa yang akan melanjutkan tahtanya.

Selain Bhre, Mangkunegara IX memiliki putra lainnya dari Sukmawati Soekarno Putri yakni Paundrakarna.  Polemik muncul karena dua kubu masing-masing mengklaim, dan mengajukan calon pewaris tahta.

Paundrakarna merupakan anak tertua, dan selama Mangkunegara hidup, dia banyak melakukan tugas-tugas melestarikan budaya.

Sayang posisinya kurang kuat dibandingkan adiknya Gusti Bhre, dikarenakan orang tuanya bercerai sebelum ayahnya naik tahta menjadi KGPAA Mangkunegara IX.

Secara aturan Gusti Bhre lebih kuat untuk menggantikan posisi romonya tersebut, dikarenakan syarat untuk menjadi penerus adalah anak lelaki tertua dari isteri Adipati.

Polemik lain muncul mengganjal suksesi. Gusti Bhre beragama Katolik dari garis keturunan ibunya. Sedangkan peraturan mewajibkan Pemimpin Wangsa Mataram harus beragama Islam.

Kandjeng Gusti Bhre mengaku tak memiliki pengalaman maupun wawasan saat dirinya diangkat sebagai Adipati, namun tekadnya membaja ihwal belajar yang bisa dilakukan sembari praktik. (Foto: Istimewa)

Walau tak seheboh suksesi di Keraton Solo paska wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, Bhre akhirnya didapuk menjadi Adipati Mangkunegaran lewat musyawarah Sentono dalem, dan setelah resmi meninggalkan agama lamanya dengan masuk Islam.

Pengorbanan lainnya rencananya Bhre ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri, guna mewujudkan asa sebagai diplomat. Tapi niat tersebut harus terkalahkan karena panggilan hati sebagai pewaris legacy.

Sebagai penerus legacy, pemimpin milenial berusia (29) merupakan sosok
humanis. Dia mumpuni mempraktikkan ilmu padi saat berinteraksi dengan pinisepuh, orang tua, pinisepuh, sentono dalem, serta masyarakat.

Buktinya saat terjadi gesekan kecil sehubungan suksesi dengan kakaknya Paundrakarna, hal tersebut bisa segera diselesaikan secara damai.

Selama kuliah dia telah mencatatkan prestasi bersama Tim Mooting Vis Fakultas Hukum UI dengan meraih International Commercial Arbitration Moot ke -10 di Praha, Cekoslavia.

Agar dapat melayani masyarakat dan mempraktikkan ilmunya, Gusti Bhre pernah berkarir di sebuah firma hukum di Jakarta. Dia bersyukur selama bekerja dia jadi lebih mengenal, serta belajar memahami beragam karakter manusia.

Lewat kepemimpinan humanis, Bhre memiliki banyak rencana besar untuk membumikan keberadaan Pura Mangkunegaran di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Siapakah wanita inspiratif yang mampu menaklukkan hati Kandjeng Gusti Bhre?
(Foto: Istimewa)

Hanebu Sauyun Bhre Mundur dari Kontestasi Pilkada

Saat pengangkatan dirinya, Gusti Bhre menyoal prinsip hanebu sauyun yang menjadi filosofi dari keberadaan Pura Mangkunegaran.

Prinsip hanebu sauyun memiliki makna menjunjung tinggi sikap kesetaraan, kebersamaan, dan senasib sepenanggungan dengan mengedepankan budaya, yang membuat keberadaan Pura Mangkunegaran sustainabality.

“Pura Mangkunegaran telah melalui perjalanan sejarah yang lekat dengan pasang surut. Berpegang teguh kepada prinsip hanebu sauyun yakni bersatu teguh dalam Kebhinekaan, bak serumpun tebu yang diikat erat. Tetap bertahan hingga sekarang sebagai salah satu pusat budaya, sastra, serta falsafah bangsa, “ucapnya ketika berpidato.

Tentunya pembaca Wanitaindonesia.co ingin bukti dari praktik filosofi hanebu sauyun Gusti Bhre. Jadi saat kontestasi Gusti Bhre diusung oleh KIM sebagai calon Walikota Solo. Penghobi fotograpi ini sempat melakukan kampanye, blusukan. Spanduk, balihonya pun telah tersebar di Solo Raya.

Belakangan niatnya untuk mengikuti Pilkada tak mendapat restu dari para pinisepuh sentono dalem. Lantas dengan berbesar hati Gusti Bhre lalu mengundurkan diri.

Sejak resmi diangkat menjadi penguasa Pura Mangkunegaran,  Bhre yang memiliki pemikiran cemerlang ihwal keberadaan, dan peran salah satu cagar budaya cantik di Solo itu telah membuat beragam gebrakan.

Utamanya praktik nilai-nilai luhur budaya Mangkunegaran di kalangan generasi muda yang dikemas  menjadi konten menarik Ihwal beragam kegiatan di Pura Mangkunegaran, serta di luar Pura Mangkunegaran.

Menurutnya identitas, dan jati diri Pura Mangkunegaran sebagai pusat perkembangan kebudayaan haruslah terjaga sepanjang zaman.

Nilai, dan budaya Puri Mangkunegaran dapat dieksplorasi menjadi komoditas seni yang menarik. Sebutlah itu aktivitas Caos Dahar, dan pertunjukkan kesenian.
Dipilihnya medsos karena sangat efektif, menarik, serta mudah diakses masyarakat.

Dalam tataran global Bhre melanjutkan perhelatan akbar Pura Mangkunegaran Jazz Festival 2018 & 2019, yang menampilkan para musisi jazz internasional dalam, dan luar negeri.

Gusti Bhre telah menjalankan sebagian legacy dari romonya dengan mengajak seluruh sentono dalem, abdi dalem, dan masyarakat Solo untuk mengamalkan nilai-nilai luhur sembari mengembangkan budaya.

Di bawah kepemimpinan Gusti Bhre hadir angin segar bagi kehidupan di lingkungan Pura Mangkunegaran. Bhre bertekad untuk membumikan fungsi Puri Mangkunegaran secara inklusif sebagai pusat, dan pelestarian budaya adiluhung bangsa. Dia telah merevitalisasi Pura Mangkunegaran agar dapat menjadi pusat kebudayaan Jawa yang modern, terbuka, dan dinamis.

Ketika ditanya oleh media ihwal calon pasangan Gusti Bhre dengan malu-malu mengaku masih jomblo. “Wow ini merupakan momentum emas bagi Wanita Indonesia untuk lebih mengenal, serta mendekat ke pria lajang (29).

Tak lantas berkecil hati atau malahan ciut dikarenakan Anda keturunan ningrat. Jadikan pengalaman Kate Middleton sebagai role model untuk menaklukkan jiwa Adipati tampan ini, tentu saja tetap mengedepankan adab, dan bibit, bebet, dan bobot. (rp)