Mengenal Sosok ‘Women Champions’, Penjaga Hutan yang Menepis Krisis Iklim

Dr. Lilis Mulyani, peneliti dari BRIN, menyebut para perempuan hebat ini sebagai women champions. Menurutnya, saat laki-laki lebih banyak berfokus pada sisi ekonomi hutan, para perempuan justru berada di garis depan untuk menghalau illegal logging.

WANITAINDONESIA.CO — Siapa sangka, di balik rimbunnya hutan Indonesia, ada tangan-tangan tangguh para perempuan yang menjadi benteng pertahanan terakhir melawan krisis iklim.

Mereka bukan sekadar pendamping, melainkan penggerak utama dalam praktik perhutanan sosial yang berkelanjutan.

Peran penting perempuan ini diulas secara mendalam dalam peluncuran buku Echoes of Partnership karya KONEKSI yang berlangsung di Katadata Lounge, Kamis (9/4).

Buku ini membuktikan bahwa perempuan memiliki insting alami dalam menjaga keanekaragaman hayati dan merawat ekosistem demi masa depan keluarga mereka.

Dr. Lilis Mulyani, peneliti dari BRIN, menyebut para perempuan hebat ini sebagai women champions. Menurutnya, saat laki-laki lebih banyak berfokus pada sisi ekonomi hutan, para perempuan justru berada di garis depan untuk menghalau illegal logging.

“Perempuan punya peran aktif dalam merawat hutan. Namun sayangnya, meski aturan sudah ada, kesetaraan di lapangan belum sepenuhnya terjadi,” ungkap Lilis.

Ia pun menyuarakan pentingnya kuota khusus 20-30 persen bagi keterlibatan perempuan agar suara mereka lebih terdengar dalam pengambilan keputusan.
Isu lingkungan memang bukan hanya soal pohon, tapi juga soal kesejahteraan sosial.

Krisis iklim yang terjadi saat ini berdampak paling berat pada kelompok rentan, termasuk kita sebagai perempuan. Saat sumber air menurun atau hutan rusak, perempuanlah yang harus beradaptasi paling cepat demi keberlangsungan hidup rumah tangga.

Selain cerita dari hutan, buku ini juga membagikan kisah sukses dari bantaran Sungai Citarum. Melalui aksi ekonomi sirkular, masyarakat diajak mengolah sampah menjadi peluang ekonomi baru yang lebih ramah lingkungan.

Diskusi hangat ini menjadi pembuka jalan menuju gelaran besar Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Summit pada akhir April mendatang.

Harapannya jelas: agar setiap kebijakan iklim di masa depan tidak lagi meninggalkan suara perempuan di belakang. Karena saat perempuan berdaya, bumi pun terjaga. (gdi)