
WANITAINDONESIA.CO – Upaya JF3 sebagai platform ekosistem fesyen terdepan di Indonesia nyata, hal ini dirasakan oleh Indonesia Fashion Chamber (IFC)
Lenny Agustin, Ketua Indonesia Chamber ditemui Wanitaindonesia.co di Media Backstage, Gafoy Workshop, Summarecon Mall Kelapa Gading, merasa bungah turut ambil bagian sebagai kolaborator di ekosistem fesyen Indonesia, di bawah naungan JF3.
“Jika dirunut sejak kehadiran Indonesia Fashion Chamber di 2015, kami sudah lebur, turut berpartisipasi di ekosistem fesyen terdepan JF3. IFC merupakan organisasi nirlaba beranggotakan para perancang busana serta para pelaku industri mode profesional dari berbagai daerah di Indonesia. Peran IFC turut memperkuat fondasi industri fesyen lokal, dan memajukan karya mereka di kancah global. Selain mendukung event JF3, kami memiliki event regular sendiri berskala nasional, dan internasional.”
“Ihwal pemaparan Advisor JF3, Theresia Mareta, saya sangat setuju karena sebagai ekosistem fesyen terdepan, platform JF3 lekat dengan beragam terobosan inovatif seperti membuka ruang diplomasi budaya antar desainer internasional. Lewat upaya ini, eksposur tentunya akan semakin luas. Mereka juga banyak melakukan beragam terobosan yang sangat mendukung pengembangan serta keberlanjutan platform JF3.”
Lenny menegaskan IFC merupakan komunitas terbuka khususnya untuk para UMKM fesyen di Indonesia. Sebagai komunitas yang hidup serta produktif, kami memiliki banyak program pembelajaran, dan pelatihan bagi seluruh anggota menyelaraskan zaman.

Merawat Kolaborasi
Menurut wanita yang baru meraih gelar doktor di bidang Ilmu Pengetahuan Budaya dari Universitas Indonesia, momen tahunan JF3 Fashion Festival senantiasa disambut penuh suka cita oleh anggota IFC. Untuk tampil mewakili IFC, kami berikan kesempatan seluas-luasnya bagi semua anggota.
“Siapa saja yang mau berpartisipasi, organisasi sangat mendukung.Tentu saja untuk mempertontonkan karya mereka, kreator IFC harus unggul lewat konsep, desain serta karya inovatif, sesuai dengan persyaratan dari panitia JF3. Diantaranya mengikuti konsep yang sudah ditentukan dari sebuah tema serta mampu membuat 20 look.”
“Tahun ini parade show di Recrafed: Shaping The Future mengangkat tema “Quiet Defiance” yang menghadirkan busana bergaya casual edgy, yang mana karya desainer IFC harus menyerupai karya desainer lainnya, digelaran show bersama. Beranggotakan lebih kurang 300 anggota yang tersebar di berbagai daerah, IFC di perhelatan JF3 Fashion Festival 2026 nanti akan hadir lewat parade show brand Rengganis, OPIE OVIE & XANDER G, Kamis (23/7) di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta.”
“Anggota yang berpartisipasi di runway tentu sangat bersemangat, selain berkesempatan untuk mendapatkan eksposur dengan skala luas, mereka diberi booth secara cuma-cuma untuk mempromosikan brandnya.”
“Yang membuat kami selalu optimis, panitia JF3 tak membebani biaya tambahan yang cukup besar, seperti ketika anggota mengikuti event serupa lainnya di luar JF3, dan IFC.
Selain dapat berpromosi di event JF3 Fashion Festival, penetrasi pasarnya cukup bagus, langsung terintegrasi dengan mal, distribusinya jadi lebih jelas, mengingat platform JF3 dinaungi oleh Grup Summarecon Mall, ujar Lenny.”
“Aku pujikan juga cara kerja panitia, mereka sangat responsif dalam menyelesaikan kendala bila itu terjadi, semisal saat menjelang pagelaran. Namun karena telah terselenggara rutin dalam waktu yang panjang, yakni 22 tahun, kesalahan hampir dikata tak ada. Menjadi bagian dari platform JF3, kami tak lagi sebagai tamu, melainkan team work handal yang selalu siap, untuk menyukseskan perhelatan bergengsi tersebut.”
Di tengah persiapan perhelatan akbar tersebut, Lenny juga menyoal kondisi ekonomi global yang terbilang suram. Namun alih-alih mengeluh lalu tak melakukan inisiatif apapun, role model desainer senior Indonesia yang bersiap membesarkan brand baru Funky Kebaya, tetap membawa spirit pembaharuan.
“Apapun zamannya, sesulit apapun kondisi ekonomi yang harus dihadapi, produk fesyen tetap dibutuhkan masyarakat, karena terkait dengan estetika peradaban, sosialisasi serta aktivitas.”
“Memang sebelum era sosial media, terjadi penurunan penjualan khususnya untuk produk fesyen yang berkonsep idealis. Ketika era sosial media booming, karakter pembeli berubah lagi. Bila dahulu peminat adi busana masih terhitung signifikan, namun di era sosmed lebih berkurang.”
“Penyebabnya upaya pamer yang mengandalkan sosmed bak pisau bermata dua. Mereka mensikapinya dengan hati-hati. Takut di-bully karena harus memakai ulang koleksi art wear yang dibeli. Produk yang bernilai itu akhirnya diputuskan hanya sekali dikenakan. Berbeda dengan zaman sebelum marak pengunaan medsos, mereka pede menggunakan secara berulang karena tak khawatir di bully.”
“Daripada menjadi ‘penunggu’ walk in closet kemudian merugi, mereka kemudian beralih memakai busana dengan harga yang affordable, yang menjadi acuan pembeli di masa sekarang. Ini memungkinkan gaya flexing lewat medsos masih bisa dilanjutkan, dengan berganti-ganti busana, tanpa membuat isi dompet “menjerit”.
“Ihwal desain, pilihannya bebas. Lebih mengarah ke selera individu, juga kepada ke kepribadian. Ada yang cenderung ke fast fesyen, tapi masyarakat seperti Gen-Z serta Milenial yang sudah berkesadaran, mereka cenderung memakai produk slow fesyen.”

Buah Hati & Fesyen Berkelanjutan
“Anak-anakku yang mewakili Gen-Z merupakan penganut paham busana slow fesyen, yang memuja sustainable fesyen. Selain memilih brand lokal, mereka juga membuat diferensiasi produk dengan menggunakan busana thrifting. Padu-padan produk hasil berburu pakaian thrifting tersebut menjadi tantangan sekaligus uji kreativitas bagi mereka. Bila terlihat out mereka merasa akan sangat puas.”
“Agar tak menumpuk di lemari, sebagai bentuk dari tanggung jawab dari konsep sustainable fesyen, mereka menjual kembali baju -baju tersebut di bazaar thrift.
Lewat tren ini, saya melihat telah terjadi pergeseran bisnis fesyen di Indonesia. Kini tak lagi didominasi oleh desainer atau pemilik brand. Konsumen sekarang malah jadi penjual, bahkan ada yang kreatif dengan merycicle pakaian tersebut menjadi tampilan baru, unik. Upaya kreatif ini patut dipujikan. Kekinian, boleh dibilang bisnis fesyen terlihat sangat organik, dikarenakan banyak yang masuk menjadi pelaku.”
Sebagai Ketua IFC dalam mensikapi perubahan zaman, saya menekankan pentingnya pembelajaran. Belajar itu keniscayaan, tak kan pernah berakhir selama kita ada serta berkarya. Tentu saja di masa sekarang belajar bisa dilakukan di manapun, dengan media apapun. Selain lewat runway seperti di JF3 maupun IFC, kreator dapat melihat sosmed yang cakupannya terbilang sangat luas, dan lengkap.”
“Walau dibebaskan untuk belajar dari manapun, saya selalu berpesan agar anggota IFC dapat mematangkan konsep, personality produk yang tak lari dari DNA rancangan mereka. Khususnya nanti yang akan ditampilkan di JF3, dikarenakan kami membawa nama organisasi IFC yang memiliki marwah, “ucap Lenny.
“Mengapa DNA dari karya desainer itu penting?, dikarenakan enthusiast fesyen sudah paham dengan ciri khas sebuah rancangan. Mereka mencari produk yang memiliki ciri khas. Kreator dituntut untuk memperkuat DNA brand. Bila tidak, dikhawatirkan pasar mereka akan tenggelam. Kreatif di masa sekarang tentu saja tak lagi cukup bagi seorang desainer, “terang Lenny.
“Di masa sekarang, godaan memproduksi produk murah itu nyata. Karena ceruk keuntungannya ada, sangat menjanjikan. Member kami ada yang memproduksi, dan melempar produk fesyen ke pasar dengan harga Rp. 150.000. Total omset pertahun bisa mencapai miliaran rupiah lho.”
Menurut Lenny, ini soal pilihan, juga menjadi keberlanjutan sebuah usaha. Sebagai pengurus, saya tak bisa melarangnya. Namun saya juga menyayangkan karena akan melemahkan konsep desain mereka.
“Siapa yang bisa menjamin produksi yang digeber dalam waktu cepat akan menghasilkan produk berkualitas? Namun kesemuanya kembali lagi kepada para pelakunya. Ini adalah pilihan, dan apapun itu pilihannya, semuanya oke-oke saja, “ucap Lenny.
“Sebagai pengurus inti di IFC, kami sepakat dengan platform JF3 yang unggul dengan beragam program kreatif serta tak lagi identik sebagai panggung berekspresi, melainkan sebuah ekosistem mode Tanah Air yang saling melengkapi dari hulu hingga ke hilir.”
“Bangga ketika melihat Platform JF3 terus berinovasi, melakukan banyak terobosan kreatif untuk memperkuat perannya sebagai platform fesyen paling konsisten, dengan menghadirkan ruang yang mempertemukan kreativitas, kolaborasi serta akses bagi desainer lokal, dan internasional.”
“Selaras dengan JF3, di IFC kami memiliki banyak pelatihan untuk meng-up-grade skills para anggota, sebutlah cara untuk mengeksekusi ide, membuat desain yang bagus, money bisnis, marketing, publikasi dlsbnya. Organisasi ini juga memiliki banyak divisi diantaranya Bisnis Development, Edukasi, dan Riset. Kesemuanya didedikasikan untuk kemajuan anggota, juga untuk memperbaiki semua sisi kekurangan mereka, “terang Lenny.

Funky Kebaya, AI & Mentalitas Jurnalis
Ketika ditanya oleh Wanitaindonesia.co seputar aktivitas Lenny yang lebih aktif di bidang pendidikan, perempuan multi talenta ini menjawab lugas, ia tetap aktif berkarya sebagai desainer. “Saat ini aku sedang berfokus membuat Kebaya. Brand Funky merupakan produk kebaya yang didedikasikan untuk Wanita Indonesia masa kini. Diakui harganya lebih affordable dari brand Lenny yang sudah lekat di hati masyarakat Indonesia yaitu Lennor, dan Lenny Agustin.
“Selembar Funky kebaya dijual dari Rp. 500-700 ribu, jauh di bawah harga dari kedua brand saya sebelumnya yakni Lennor maupun Lenny Agustin. Namun demikian masih ada saja yang bilang harganya mahal. Sempat kepikiran untuk membuat brand kebaya dengan harga murah, kisaran Rp. 150.000 agar cakupan konsumennya meluas.Tapi aku terkendala untuk membentuk tim yang solid, dikarenakan hal ini sangatlah tidak mudah.”
Melakukan doorstop interview ke desainer kebanggaan Indonesia, Lenny Agustin waktu seolah berlari begitu cepat, perempuan yang terlihat awet muda ini, mampu memberikan jawaban lugas yang mengena.
Pun halnya ketika ditanya tentang pemanfaatan AI. Lenny menerangkan, “Tak ada yang boleh takut dengan AI, ucapnya tegas. Teknologi tersebut wajib diadaptasi agar orang tak ditinggal zaman. Sama sajalah ketika dahulu masyarakat pertama kalinya memakai kalkulator. Demikian halnya dengan google. Ini seperti tools.”
“AI itu toolsnya, manusia yang pegang kendali, karena pemikirannya ada pada kreator.
Oleh karenanya manusia tak boleh bergantung total, lalu menjadi malas berpikir kreatif gegara AI. Karena secanggih-canggihnya teknologi, manusialah yang pegang kendali. Hasil akhir sebuah karya, apapun itu, muaranya akan mencirikan style personal kreatornya.”
“Jurnalis juga bisa memanfaatkannya, namun mereka tetap dituntut untuk pintar serta menguasai materi yang hendak ditulisnya. Sanggup memberikan pengayaan tulisan lewat ilmu, wawasan serta pengalaman yang dimiliki.”
“Jurnalis pengguna AI adalah persona yang bermental jujur serta memiliki integritas tinggi untuk menjaga kredibilitasnya, dikarenakan secanggih-secanggihya AI, teknologi ini tetap rentan menghasilkan misinformasi juga bias. Penting dipahami teknologi AI merupakan alat bantu bukan pengganti penilaian editorial jurnalis.
Jurnalis investigasi mampu membedakan mana hal yang benar serta yang salah, tanpa harus terkungkung di zona abu-abu. Apapun itu dalihnya. Lewat ilmu serta wawasan, produk karya jurnalistik akan semakin bernilai, menginspirasi serta dapat berperan menjadi agen perubahan, sudah pasti tak bisa disandingkan dengan produk jurnalistik plagiat, “pungkasnya. (*)




