
WANITAINDONESIA.CO – Di balik lembaran uang yang disisihkan saban bulan, ada jejak kemanusiaan yang pelan-pelan merajut kembali benang-benang kerukunan bangsa.
Gerakan zakat, infak, dan sedekah kini tak lagi dipandang sebatas gugur kewajiban ibadah di atas sajadah, melainkan telah bertransformasi menjadi kekuatan sosial raksasa yang menyejahterakan jutaan jiwa sekaligus mempererat ikatan kebangsaan.
Ketua Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia, Sodik Mudjahid, menegaskan betapa krusialnya peran ganda yang dimiliki oleh instrumen keuangan syariah ini. Menurutnya, kepedulian berbagi ini merupakan wadah nyata untuk menguatkan nilai-nilai gotong royong dan persaudaraan antarsesama dalam ikhtiar mewujudkan kemajuan bersama.
“Zakat bukan hanya sekadar kewajiban ibadah ritual, melainkan instrumen kebangsaan yang sangat ampuh untuk mempererat tali persaudaraan, merekatkan kebhinnekaan, serta menyejahterakan umat secara adil dan merata,” ujar Sodik.
Dampak nyata dari gelombang kepedulian masyarakat ini tercermin jelas dalam angka-angka yang membanggakan. Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, memberikan apresiasi tinggi terhadap tata kelola lembaga derma (filantropi) di tanah air yang dinilainya terus menunjukkan tren positif dan transparan dari tahun ke tahun.
Penghimpunan dana kepedulian masyarakat pada tahun 2025 tercatat melonjak hingga 12 persen, mencapai angka fantastis sebesar 44,6 triliun rupiah. Dana raksasa tersebut terbukti menjadi penopang hidup dan penyuplai harapan bagi lebih dari 140 juta penerima manfaat (mustahik) yang tersebar di berbagai penjuru nusantara.
Keberhasilan pengelolaan dana derma ini berbanding lurus dengan makin kokohnya kedamaian di tengah masyarakat. Menteri Agama Republik Indonesia mengungkapkan bahwa Indeks Kerukunan Umat Beragama berhasil melonjak ke angka 77,89 pada tahun 2025, sebuah capaian tertinggi sepanjang sejarah pengukuran yang bahkan melampaui target pembangunan nasional. Sejalan dengan itu, Indeks Kesalehan Umat Beragama juga mengalami kenaikan signifikan hingga menyentuh angka 84,20.
“Bagi kami, seluruh capaian itu bukan garis akhir, melainkan amanah untuk terus meningkatkan pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara,” tutur Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.
Capaian manis ini menjadi pengingat hangat bahwa setiap rupiah yang disalurkan dengan tulus mampu mengukir senyum di wajah ribuan keluarga dan merawat kerukunan negeri. Mari terus menjadi bagian dari rantai kebaikan ini, sebab kepedulian kecil yang dikumpulkan bersama adalah kunci utama menuju bangsa yang sejahtera, damai, dan bermartabat. (Gdi)




