WANITAINDONESIA.CO – Kabar segar berembus ke pasar keuangan dalam negeri setelah sempat diselimuti ketegangan global yang mencekam. Mata uang Garuda berhasil melepaskan diri dari tekanan dan mencatatkan performa gemilang pada penutupan perdagangan Senin sore. Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merangkak naik sebesar 71 poin atau sekitar 0,40 persen, mendarat di posisi Rp17.851 per dolar AS setelah sebelumnya sempat tertahan di angka Rp17.922 per dolar AS.
Lompatan positif ini menjadi sinyal hijau yang membawa angin segar bagi stabilitas ekonomi domestik. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah kali ini sangat dipicu oleh respons positif pasar atas laporan bahwa AS dan Iran akan saling menahan diri setelah situasi geopolitik keduanya sempat memanas hebat dalam beberapa hari terakhir.
Sentimen perdamaian tersebut langsung direspons cepat oleh pelaku pasar di berbagai belahan dunia. Menurut penuturan Lukman, rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia umumnya menguat terhadap dolar AS merespons laporan bahwa AS dan Iran akan menahan diri untuk sekarang, serta pembicaraan diplomasi di antara kedua belah pihak dikabarkan masih berjalan sesuai rencana.
Sebelumnya, situasi sempat menegang saat Iran mengecam keras serangan militer AS terhadap sejumlah lokasi di sepanjang pesisir selatannya. Teheran menuduh Washington telah melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta pakta perdamaian yang sebenarnya baru saja ditandatangani untuk mengakhiri perang. Sebagai bentuk balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menghancurkan delapan fasilitas militer AS di kawasan Kuwait dan Bahrain.
Beruntung, eskalasi konflik tersebut tidak berbuntut panjang dan mulai mereda. Berdasarkan laporan dari media Axios, kedua negara adidaya tersebut akhirnya sepakat untuk menghentikan permusuhan. Mereka dijadwalkan segera menggelar pertemuan penting di Qatar pada Selasa (30/6) demi membahas perselisihan krusial terkait jalur perdagangan laut di Selat Hormuz. Bentrokan susulan yang sempat terjadi belakangan ini disinyalir kuat akibat adanya perbedaan penafsiran dalam penerapan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang mengakhiri perang, terutama ketentuan yang mengatur wilayah selat tersebut.
Kabar redanya konflik ini langsung memberikan dampak berantai yang menenangkan pasar komoditas dunia. Sisi positif lainnya, harga minyak mentah dunia terpantau relatif stabil, sehingga mampu meredakan kekhawatiran global akan adanya gangguan pasokan energi yang parah.
Meski demikian, jalan bagi mata uang rupiah belum sepenuhnya bebas hambatan. Sikap berhati-hati tetap diperlukan karena bayang-bayang kebijakan moneter ketat (hawkish) serta ekspektasi tingginya tingkat suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) diprediksi masih akan terus menyokong kekuatan dolar dan berpotensi menekan rupiah dari waktu ke waktu.
Untuk pergerakan sepanjang pekan ini, sentimen positif dari meredanya konflik Timur Tengah diperkirakan masih bisa berlanjut. Namun, para investor saat ini memilih untuk mengambil sikap menunggu dan mengamati (wait and see) rilis serangkaian data ekonomi penting dari negeri Paman Sam, seperti data sektor manufaktur dan data lapangan kerja nonpertanian (Non-Farm Payrolls/NFP). Menurut Lukman, apabila data-data ekonomi AS tersebut terbukti masih solid, maka para pejabat The Fed dipastikan akan melanjutkan retorika atau pernyataan-pernyataan kebijakan moneter ketat mereka ke depannya.
Kekuatan rupiah di pasar spot sore ini juga tecermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Melalui rilis resmi bank sentral, kurs referensi tersebut ikut bergerak menguat ke level Rp17.956 per dolar AS, membaik dari posisi hari sebelumnya yang berada di angka Rp17.962 per dolar AS.
Meredanya genderang perang di belahan dunia lain kini menjadi bukti nyata betapa dinamika global mampu mengubah arah dompet kita dalam sekejap. Seiring dengan melunaknya tensi geopolitik ini, harapan agar stabilitas ekonomi nasional terus terjaga tentu menjadi dambaan bersama demi masa depan finansial yang lebih kokoh. (Gdi)





