WANITAINDONESIA.CO – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini kian mencemaskan, bahkan telah menembus level psikologis baru di angka Rp17.877 per dolar AS. Di tengah bayang-bayang lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya mengekor fluktuasi mata uang asing, para ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro kini bisa bernapas sedikit lega. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan garansi bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, dipastikan tidak akan naik.
Kepastian yang mendinginkan suasana ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri ESDM, Yuliot. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik karena komitmen menjaga harga BBM subsidi ini akan terus dipertahankan demi menjaga daya beli masyarakat.
“Untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan (tidak naik hingga akhir tahun),” ujar Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Tidak hanya urusan harga yang dikunci rapat, Yuliot juga membawa kabar baik mengenai ketersediaan pasokan. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aksi borong panic buying (pembelian karena panik) karena stok nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat prima, bahkan jauh di atas batas aman operasional nasional yang biasanya dipatok minimal 23 hari.
Menurut penjelasan Yuliot, pasokan untuk Pertalite dan solar CN48 berada dalam posisi yang sangat aman di atas cadangan minimal. Sementara itu, untuk pasokan BBM nonsubsidi, ketersediaannya secara nasional juga dilaporkan sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan aktivitas harian masyarakat.
Langkah senada juga dipertegas oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Ia memaparkan bahwa meskipun rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 sempat menyentuh angka 117,31 dolar AS per barel, kondisi keuangan negara untuk subsidi komoditas ini masih berada dalam batas kendali. Hal tersebut terjadi karena jika dihitung sejak awal tahun, fluktuasi harga minyak dunia belum melewati batas asumsi anggaran yang ditetapkan pemerintah.
“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS. Insya-Allah sampai akhir tahun,” kata Bahlil dengan nada optimistis.
Demi membentengi perekonomian nasional dari dampak buruk melemahnya rupiah—terutama setelah suku bunga acuan (BI-Rate) dinaikkan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen—pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian ESDM tengah menyiapkan strategi hulu hingga hilir dengan memacu peningkatan produksi minyak mentah di dalam negeri serta memaksimalkan kesiapan kilang-kilang minyak milik domestik agar tidak terus-menerus bergantung pada skema impor.
Komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi di tengah guncangan ekonomi global bagaikan payung pelindung bagi jutaan dapur keluarga Indonesia. Kebijakan ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk menjaga stabilitas domestik agar roda ekonomi keluarga tetap berputar tanpa beban tambahan yang menghimpit. Semoga langkah taktis menjaga pasokan dan memproduksi minyak mandiri ini berjalan mulus, sehingga ketahanan energi bangsa kian kokoh menghadapi badai ekonomi sedahsyat apa pun. (gdi)





