WANITAINDONESIA.CO — Perubahan dan tantangan bisnis mendorong koperasi untuk terus beradaptasi. Hal inilah yang dilakukan Pusat Koperasi Karyawan atau Puskopkar PTPN VIII dengan memperluas portofolio usahanya, dari bisnis distribusi teh hingga pengembangan agrowisata dan sektor jasa.
Koperasi sekunder yang menaungi 43 koperasi primer tersebut kini tidak lagi hanya mengandalkan bisnis yang berkaitan dengan perusahaan induknya. Berbagai sumber pertumbuhan baru mulai dikembangkan sebagai langkah untuk memperkuat kemandirian sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis koperasi.
Sekretaris Puskopkar PTPN VIII, Dina Novelia Hidayat, mengatakan selama ini aktivitas usaha koperasi memang banyak bertumpu pada ekosistem bisnis PTPN VIII yang kini menjadi PTPN I Regional II.
Model bisnis tersebut memberikan pasar yang relatif terjaga. Namun, di sisi lain, Puskopkar juga menyadari pentingnya membangun sumber pendapatan lain agar tidak terlalu bergantung pada kondisi bisnis perusahaan induk.
“Awalnya Puskopkar ini sangat tergantung dengan bisnis PTPN, sangat captive market. Harapannya kami tidak tergantung dari induk perusahaan, sehingga ketika kondisi PTPN sedang di bawah, kami tidak ikut ke bawah. Kami harus punya keranjang-keranjang lain,” ujar Dina.
Berangkat dari semangat tersebut, Puskopkar mulai memperluas lini usahanya ke berbagai sektor.
Saat ini, koperasi masih menjalankan bisnis angkutan produksi, termasuk mengangkut pucuk teh dari kebun menuju pabrik hingga mendistribusikan produk teh jadi kepada pembeli.
Puskopkar juga menjadi distributor sejumlah produk teh PTPN, seperti Walini, Goalpara, dan Gunung Mas. Pasarnya pun terus diperluas, termasuk menyasar segmen hotel, restoran, dan kafe atau Horeka.
Tak berhenti di sektor tersebut, Puskopkar juga mulai mengembangkan bisnis agrowisata di kawasan Ciwalini. Sementara di sektor jasa, koperasi turut merintis usaha laundry coin dan barbershop.
Diversifikasi ini menjadi bagian dari strategi untuk menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam sekaligus mengoptimalkan potensi dan aset yang dimiliki koperasi.
Butuh Modal untuk Berkembang
Memperluas bisnis tentu membutuhkan dukungan permodalan yang lebih kuat. Selama ini, modal internal koperasi bersumber dari simpanan para anggota. Namun, kebutuhan ekspansi membuat Puskopkar membutuhkan akses pembiayaan yang lebih besar.
Karena itu, Puskopkar telah memanfaatkan pembiayaan dana bergulir dari LPDB Koperasi sejak 2021. Kini, koperasi tersebut kembali mengajukan proposal pembiayaan untuk mendukung pengembangan sejumlah lini usaha, termasuk rencana optimalisasi aset di kawasan Ciwaruga, Bandung Barat.
“Kami membutuhkan modal yang lebih besar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan adanya kerja sama dengan LPDB, harapannya modal kerja kami semakin kuat sehingga bisnis bisa berkembang,” kata Dina.
Menurutnya, dukungan pembiayaan tidak hanya membantu dari sisi permodalan. Proses yang dijalani untuk mendapatkan pembiayaan juga mendorong koperasi menjadi lebih tertib dalam aspek administrasi, legalitas, tata kelola, hingga manajemen risiko.
“Kalau prosesnya melalui Good Corporate Governance atau GCG dan dokumen yang lengkap, justru itu menjadi pengamanan bagi kami juga,” ujarnya.

Optimalkan Aset, Bangun Sumber Pertumbuhan Baru
Ke depan, Puskopkar PTPN VIII berencana mengoptimalkan aset yang dimiliki di kawasan Ciwaruga.
Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan usaha baru, termasuk melalui konsep penginapan atau cottage serta berbagai peluang bisnis lainnya.
Selain dikembangkan sebagai unit usaha, kawasan Ciwaruga juga dipertimbangkan menjadi lokasi kantor tetap Puskopkar. Dengan demikian, aset yang dimiliki diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih optimal sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru.
Bagi Puskopkar, langkah diversifikasi bukan sekadar memperluas jenis usaha. Strategi ini menjadi bagian dari upaya membangun fondasi bisnis yang lebih kuat dan tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan.
LPDB Dorong Koperasi Lebih Mandiri
Direktur Utama LPDB Koperasi, Krisdianto, menilai perkembangan Puskopkar PTPN VIII menunjukkan bahwa koperasi memiliki peluang besar untuk terus bertumbuh ketika mampu membaca perubahan dan menangkap peluang bisnis baru.
Menurutnya, koperasi tidak harus berhenti pada model usaha yang selama ini dijalankan. Diversifikasi dapat menjadi salah satu strategi penting untuk membangun ketahanan bisnis, terutama bagi koperasi yang selama ini memiliki keterkaitan kuat dengan satu ekosistem usaha.
“Puskopkar PTPN VIII memberikan contoh bahwa koperasi tidak harus berhenti pada bisnis yang sudah berjalan. Koperasi dapat mengembangkan usaha baru dengan tetap memanfaatkan kekuatan yang dimiliki, sekaligus membangun sumber pendapatan yang lebih beragam,” ujar Krisdianto.
Ia mengatakan, dukungan dana bergulir LPDB Koperasi diarahkan untuk memperkuat kapasitas usaha agar koperasi mampu tumbuh secara sehat, produktif, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada para anggotanya.
“Yang kami harapkan bukan hanya pembiayaan tersalurkan, tetapi bagaimana pembiayaan tersebut menjadi pengungkit produktivitas dan kemandirian koperasi. Ketika unit usaha berkembang, aset bertambah, dan bisnis semakin kuat, pada akhirnya manfaatnya harus kembali kepada anggota,” katanya.
Krisdianto juga mengapresiasi komitmen Puskopkar dalam memperkuat tata kelola sekaligus membangun portofolio bisnis yang lebih beragam.
Menurutnya, keberanian koperasi untuk melakukan diversifikasi harus berjalan seiring dengan perencanaan bisnis yang matang, manajemen risiko, serta kemampuan mengelola pembiayaan secara bertanggung jawab.
“Puskopkar sedang membangun fondasi agar koperasi memiliki lebih banyak pilihan sumber pertumbuhan. Ini sejalan dengan semangat LPDB Koperasi untuk mendorong koperasi menjadi lebih produktif, mandiri, dan berdaya saing,” ujarnya.
Dengan menaungi 43 koperasi primer dan ribuan anggota yang sebagian besar berasal dari ekosistem PTPN, Puskopkar PTPN VIII kini tengah membangun arah baru bagi bisnis koperasi.
Dari angkutan produksi dan distribusi teh, pengembangan agrowisata, hingga bisnis jasa seperti laundry coin dan barbershop, diversifikasi menjadi strategi untuk memperkuat kemandirian koperasi sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi para anggotanya.
Dukungan pembiayaan dana bergulir LPDB pun diharapkan dapat menjadi pengungkit bagi Puskopkar untuk terus berkembang, mengoptimalkan aset, dan membangun bisnis yang lebih berkelanjutan di masa depan. (Srv)





