Pesan Menag di Tahun Baru Islam: Momentum Transformasi Sosial Besar-Besaran

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar. HO-Kemenag

WANITAINDONESIA.CO – Momentum pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sejatinya tidak sekadar dirayakan secara seremonial, melainkan harus diposisikan sebagai pemantik perubahan besar dalam kehidupan bermasyarakat. Peristiwa hijrah yang menandai kalender Islam ini menyimpan pesan mendalam tentang pentingnya melakukan perombakan menyeluruh, baik pada tingkat kepribadian maupun tatanan kemasyarakatan. Gerakan perubahan ini menuntut peralihan dari cara pandang yang kaku dan mengelompok menuju kehidupan yang lebih terbuka serta beradab.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam keterangannya, Selasa, menyebut esensi hijrah adalah melampaui batas-batas sejarah perpindahan fisik Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah.

Menurut Nasaruddin, peristiwa mahapenting tersebut merupakan sebuah cetak biru mengenai transformasi sistem kemasyarakatan. Perubahan tersebut bergerak dari pola masyarakat suku yang sempit serta bersifat primordial (ikatan tradisi yang mendarah daging) menuju tatanan masyarakat global, kosmopolitan (mempunyai wawasan luas), dan senantiasa diikat oleh rasa kasih sayang.

Baca Juga :  Menag Siapkan Aturan Ketat Demi Wujudkan Pesantren Aman

Sebelum nilai-nilai Islam menyebar, peradaban Arab sangat didominasi oleh sistem kesukuan yang hanya bertumpu pada hubungan darah. Kehadiran Nabi Muhammad kemudian mendobrak sekat tersebut dengan memperkenalkan sebuah konsep kemasyarakatan baru yang melampaui batas suku, ras, maupun golongan.

Menag Nasaruddin Umar memaparkan terdapat perbedaan yang sangat mendasar di antara berbagai bentuk komunitas sosial yang berkembang di dunia. Kelompok suku atau kabilah dibangun atas dasar hubungan darah, keluarga besar (sya’abun) berlandaskan ikatan kekerabatan, masyarakat (qawmun) terbentuk melalui kesepakatan sosial dan organisasi, sedangkan golongan (hizbun) merujuk pada kelompok atau partai politik.

Berbeda dari pengelompokan tersebut, sebuah masyarakat yang ideal hanya dapat terbentuk jika dipersatukan oleh empat pilar utama sekaligus. Pilar-pilar tersebut meliputi ikatan kasih sayang, visi masa depan yang jelas, kepemimpinan yang berwibawa, serta karakteristik masyarakat yang santun dan taat di dalam satu sistem kepemimpinan (imamah). Ketika keempat unsur mendasar tersebut telah menyatu dan hidup di tengah warga, barulah sebuah komunitas sosial layak disebut sebagai masyarakat yang sejati.

Baca Juga :  Berduka Paus Fransiskus Wafat, Menag: Jasa dan Persahabatan Beliau Tidak Bisa Kita Lupakan!

Kondisi tersebut kemudian menjadi cermin besar bagi refleksi kehidupan sosial bangsa saat ini. Menag Nasaruddin Umar melemparkan sebuah pertanyaan mendalam yang patut direnungkan bersama mengenai sejauh mana kualitas kehidupan sosial yang telah dibangun selama ini.

Dia mempertanyakan apakah masyarakat sudah benar-benar bergerak menjadi komunitas yang padu, atau justru masih sering terjebak dalam pola pikir kesukuan, kepentingan golongan, sentimen kedaerahan, serta ego kelompok sendiri-sendiri.

Salah satu indikator nyata dari komunitas yang masih terkungkung oleh mentalitas kesukuan yang sempit adalah tertutupnya akses kepemimpinan bagi pihak-pihak di luar kelompok tertentu. Sebaliknya, dalam sebuah tatanan masyarakat yang maju dan terbuka, kesempatan untuk memimpin terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki kapasitas serta mendapatkan kepercayaan publik, tanpa perlu memandang latar belakang suku maupun jenis kelamin.

Baca Juga :  Menag Salurkan Bantuan Rp596 Juta untuk Madrasah, Guru, dan Siswa Terdampak Longsor Cisarua

Kendati demikian, keterbukaan sistem saja dinilai belum cukup untuk membangun sebuah peradaban yang mapan. Menag Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa rasa persatuan, solidaritas sosial, serta kepedulian yang tulus terhadap sesama harus terus diperkuat di tengah kehidupan sehari-hari. Hanya dengan komitmen bersama untuk saling merangkul itulah, sebuah bangsa dapat benar-benar tumbuh menjadi masyarakat yang kokoh, tangguh, dan senantiasa berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Tahun baru selalu membawa harapan, namun harapan tersebut hanya akan menjadi angan tanpa adanya keberanian untuk meruntuhkan tembok-tembok perbedaan ego kelompok. Menjadikan momen hijrah sebagai pemacu transformasi diri dan sosial adalah langkah awal untuk mengukir sejarah baru, di mana setiap individu saling menguatkan demi terwujudnya kedamaian yang hakiki.