Pertama di Dunia, Kemenkes Luncurkan Purwarupa Vaksin Baru Demam Berdarah Berbasis mRNA Strain Asli Indonesia

Peluncuran ini dilakukan bersama oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin, Rektor UI Heri Hermansyah, Wamen Dikti Sains dan Teknologi Prof. Stella Christie, Kepala BRIN Arif Satria, Kepala BPOM Taruna Ikrar, serta perwakilan dari Tsinghua University Tiongkok.

WANITAINDONESIA.CO – Kabar gembira sekaligus membanggakan datang dari dunia kesehatan tanah air. Teknologi mRNA yang sebelumnya sukses diandalkan untuk melawan virus COVID-19, kini untuk pertama kalinya dalam sejarah kedokteran dunia dikembangkan guna menghadang ancaman virus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Langkah revolusioner ini ditandai dengan peluncuran resmi purwarupa (prototype) Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA di Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Rabu (8/7/2026). Hebatnya lagi, vaksin mutakhir ini memanfaatkan materi genetik dari virus dengue strain asli Indonesia!

Peluncuran ini dilakukan bersama oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin, Rektor UI Heri Hermansyah, Wamen Dikti Sains dan Teknologi Prof. Stella Christie, Kepala BRIN Arif Satria, Kepala BPOM Taruna Ikrar, serta perwakilan dari Tsinghua University Tiongkok.

Bagi para ibu, ancaman demam berdarah selalu menjadi momok yang menakutkan setiap tahunnya. Dilansir dari siaran pers di website resmi https://www.kemkes.go.id/, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa setiap tahun di Indonesia terjadi sekitar 151 ribu kasus dengue dengan angka kematian mencapai 650 jiwa.

Baca Juga :  Kemenkes Lacak 100 Persen Kontak Erat Pasien, Percepat Eliminasi TB 2030

Melihat tingginya angka tersebut, pemerintah memprioritaskan kehadiran vaksin baru ini demi melindungi buah hati dan keluarga Indonesia. Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa pemilihan dengue sebagai prioritas didasarkan pada beban penyakit dan angka kematian yang tinggi di masyarakat.

“Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas,” tutur Menkes Budi.

Jika riset ini berjalan mulus sampai akhir, produk ini akan mencetak sejarah sebagai vaksin mRNA pertama di dunia khusus untuk demam berdarah, sekaligus diproduksi secara mandiri dari hulu ke hilir di dalam negeri.

Baca Juga :  Demi Sehatkan Indonesia, INAYES-JXB Gelar Sentra Vaksin Targetkan 1.000 Orang per Hari

Proses terciptanya purwarupa vaksin ini merupakan hasil riset bersama yang melibatkan Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University (Tiongkok), dan PT Etana Biotechnologies Indonesia yang sudah dirintis sejak tahun 2023.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, menceritakan bahwa kerja sama ini berawal saat dirinya mempertemukan tim peneliti UI dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, salah satu ahli vaksin terkemuka dunia. Model kerja sama ini berfokus pada aksi nyata dan riset yang sungguh-sungguh terlebih dahulu.

Menkes Budi pun berpesan kepada para ilmuwan tanah air agar hasil riset berharga ini jangan hanya berhenti di tumpukan kertas publikasi ilmiah, melainkan harus bertransformasi menjadi produk nyata yang menyelamatkan nyawa manusia.

Baca Juga :  Kemenkes Perketat Pengawasan di Pintu Masuk Negara untuk Cegah Penyebaran Hantavirus

Belajar dari masa pandemi COVID-19 di mana Indonesia sempat kesulitan mengakses kebutuhan medis darurat, pemerintah kini gencar membangun fasilitas riset sendiri. Dari semula hanya ada satu perusahaan vaksin, kini Indonesia sudah memiliki empat perusahaan farmasi besar, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.

Saat ini, Indonesia sudah mampu memproduksi secara mandiri 5 dari 11 antigen untuk program imunisasi rutin nasional dari hulu ke hilir. Menkes Budi menargetkan, sebelum tahun 2030, seluruh sisa antigen harus bisa diproduksi utuh di dalam negeri tanpa ketergantungan impor bahan baku lagi. (Des)