
WANITAINDONESIA.CO – Aroma rempah dan kekayaan herbal Nusantara kembali mendapat panggung istimewa. Dalam rangka memperingati Hari Jamu Nasional yang diperingati setiap 27 Mei, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi membuka rangkaian Pekan Jamu 2026 melalui kegiatan Kick-Off Pekan Jamu 2026 yang berlangsung di Aula Bhinneka Tunggal Ika BPOM, Selasa (2/6/2026).
Mengusung tema “Menjamu Masa Depan dengan Jamu”, perhelatan tahun ini menjadi ajakan untuk melihat jamu bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga sebagai bagian penting dari masa depan kesehatan masyarakat Indonesia dan dunia.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa jamu memiliki posisi yang sangat istimewa sebagai identitas bangsa yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Menurutnya, pengakuan dunia terhadap budaya jamu menjadi momentum penting untuk memperluas pemanfaatan jamu, baik di dalam maupun luar negeri. Seperti diketahui, pada 2023, Budaya Jamu Sehat telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
“Pengakuan dunia ini harus dijaga melalui perluasan pengembangan dan pemanfaatan jamu, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri,” ujar Taruna Ikrar.
Ketika Dunia Kembali Melirik Bahan Alam
Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan kesadaran masyarakat terhadap produk alami, jamu dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi produk kesehatan yang semakin relevan.
Taruna Ikrar menjelaskan, saat ini ekosistem jamu nasional terus tumbuh berkat dukungan berbagai komunitas, sentra jamu daerah, akademisi, hingga para peneliti yang aktif mengembangkan inovasi berbasis bahan alam.
Menurutnya, kecenderungan masyarakat global yang mulai kembali memilih produk natural dan wellness berbahan herbal menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan Indonesia.
“Jamu dibutuhkan untuk membantu menjaga kesehatan. Masyarakat dunia kini ingin kembali ke bahan alam. Kecenderungan global yang dipadukan dengan potensi kekayaan alam Indonesia akan menjadi peluang pengembangan jamu,” katanya.
Tiga Langkah agar Jamu Semakin Berdaya Saing
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BPOM juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama memperkuat masa depan jamu Indonesia melalui tiga langkah utama.
Pertama, menjaga budaya mengonsumsi dan memanfaatkan jamu agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.
Kedua, memperkuat riset dan inovasi sehingga produk jamu memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar global.
Ketiga, memperluas kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, pelaku usaha, hingga komunitas agar hasil inovasi jamu dapat dihilirisasi dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.
Festival Jamu Nusantara Jadi Puncak Perayaan
Sebagai bagian dari rangkaian Pekan Jamu 2026 yang berlangsung pada 2–7 Juni 2026, BPOM telah menyiapkan berbagai kegiatan edukatif, promotif, dan kolaboratif.
Masyarakat akan diajak mengikuti seminar dan talkshow ilmiah mengenai inovasi serta hilirisasi produk bahan alam, peningkatan literasi regulasi bagi mahasiswa dan pelaku usaha, layanan konsultasi terpadu BPOM DEKAT, hingga promosi pengembangan kosmetik berbahan alam Indonesia.
Puncak acara akan digelar melalui Festival Jamu Nusantara 2026 pada 7 Juni mendatang di kawasan Hutan Kota Gelora Bung Karno, hasil kolaborasi BPOM bersama Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia.
Festival tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan berbagai pihak mulai dari regulator, industri, UMKM, akademisi, komunitas, pelaku wellness, hingga masyarakat umum untuk memperkuat ekosistem jamu nasional dari hulu hingga hilir.
Indonesia Punya 35 Persen Herbal Dunia
Dukungan terhadap Pekan Jamu 2026 juga datang dari berbagai kalangan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia, Jony Yuwono, menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama industri herbal dunia.
“Sebanyak 35 persen herbal dunia berada di Indonesia. Ini menunjukkan betapa besar potensi kekayaan alam yang kita miliki. Tidak hanya kaya bahan baku, Indonesia juga memiliki budaya sehat jamu yang sudah diwariskan turun-temurun,” ujarnya.
Senada dengan itu, Guru Besar Farmakognosi dan Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Sukardiman, menegaskan pentingnya menjadikan jamu sebagai kebanggaan nasional.
“Jamu Indonesia harus menjadi raja dan tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya.
Menjaga Warisan, Menyambut Masa Depan
Di tengah gempuran berbagai produk kesehatan modern, jamu tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena khasiatnya, tetapi juga karena jamu menyimpan nilai budaya, kearifan lokal, dan identitas bangsa yang telah diwariskan lintas generasi.
Melalui Pekan Jamu 2026, BPOM berharap kolaborasi antara dunia akademik, bisnis, dan pemerintah semakin kuat sehingga jamu tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga tumbuh menjadi produk kesehatan berbasis budaya yang inovatif, modern, dan mampu bersaing di pasar global.
Dengan kekayaan biodiversitas yang melimpah dan tradisi yang mengakar kuat, masa depan jamu Indonesia tampaknya tidak hanya akan terus hidup, tetapi juga semakin mendunia. (ver)




