Pameran Wastra Langka Rayakan Setengah Abad Museum Tekstil Jakarta

Himpunan Wastraprema (HWP) dan Museum Tekstil (Mustek) Jakarta bekerja sama menggelar pameran wastra langka bertajuk ”Menjaga Warisan untuk Masa Depan”. (HO-HWP)

WANITAINDONESIA.CO – Lembaran kain tradisional bukan sekadar jalinan benang berwarna-warni, melainkan lembaran sejarah yang merekam peradaban sebuah bangsa. Menandai setengah abad perjalanannya dalam merawat memori kolektif Nusantara, Himpunan Wastraprema (HWP) bersinergi dengan Museum Tekstil (Mustek) Jakarta menggelar sebuah perhelatan budaya yang megah. Melalui pameran kain tradisional (wastra) langka dan bersejarah bertajuk “Menjaga Warisan untuk Masa Depan”, masyarakat diajak kembali menyusuri jejak-jejak estika masa lalu yang bernilai historis tinggi.

Perayaan tahun emas ini menjadi ajang pembuktian bahwa dedikasi menjaga akar budaya tidak pernah pudar oleh gempuran zaman modern. Ruang pameran kini menjelma menjadi jembatan waktu yang menghubungkan kisah para tokoh bangsa terdahulu dengan generasi masa kini.

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Miftahulloh Tamary, menyampaikan bahwa peringatan 50 tahun ini bukan sekadar penanda usia sebuah institusi pelestarian, melainkan momentum penting untuk merefleksikan komitmen bersama. Dalam keterangan resminya, beliau menegaskan nilai penting dari keberlanjutan sebuah budaya.

“Pelestarian bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu generasi, melainkan proses panjang yang membutuhkan kolaborasi berkelanjutan agar museum berfungsi sebagai ruang dialog dan pembelajaran masyarakat,” ujar Miftahulloh dengan penuh penekanan.

Baca Juga :  Pameran Indonesia International Electronics and Smart Appliances Expo 2025 Kembali Hadir dengan Inovasi Terkini

Tonggak sejarah berdirinya museum ini sejatinya tidak lepas dari kontribusi besar Himpunan Wastraprema yang menghibahkan 500 koleksi kain tradisional sebagai modal awal pada tahun 1976. Koleksi tersebut berasal dari nama-nama besar yang mengukir sejarah Indonesia, mulai dari Ibu Negara Tien Suharto, Ali Sadikin, Go Tik Swan (Panembahan Hardjonegoro), Gusti Putri Mangkunegoro VIII, Lasmidjah Hardi, hingga Herawati Diah. Tradisi mulia ini terus berlanjut hingga perayaan ke-25 dengan tambahan 200 helai kain, dan kini di tahun ke-50, museum kembali menerima hibah istimewa berupa 114 kain tenun khas batak (ulos) dari kolektor ternama Torang Sitorus.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati, mengungkapkan bahwa pameran ini sarat akan nilai edukasi sejarah yang sangat penting bagi kaum muda. Pihaknya berharap kehadiran pameran ini mampu menjadi magnet budaya bagi publik.

Baca Juga :  Kia Hadirkan ‘Resonance of Opposites’ Lewat Dua Pameran di Milan Design Week 2026

“Museum tekstil berperan vital menjaga, merawat, mengembangkan, sekaligus memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara. Kami berharap pameran ini menginspirasi masyarakat mengenal lebih dekat budaya kita dengan ke Museum Tekstil,’’ tutur Sri Kusumawati hangat.

Komitmen senada juga digaungkan oleh Ketua Umum Himpunan Wastraprema periode 2023-2027, Sri Sintasari Iskandar, atau yang akrab disapa Neneng. Beliau menyatakan bahwa warisan budaya bernilai seni tinggi merupakan mahakarya agung bangsa yang wajib mendapatkan apresiasi tertinggi. Oleh karena itu, organisasinya terus berkomitmen kuat untuk meningkatkan citra, pemahaman, dan penghargaan terhadap kain tradisional Indonesia agar estafet pengetahuan ini terus mengalir kepada generasi penerus.

Terbuka untuk umum hingga 30 Agustus mendatang, pameran ini menyuguhkan 62 helai kain pilihan, termasuk 19 kain legendaris sumbangan para pendiri Himpunan Wastraprema dan 12 kain tenun batak langka. Namun, yang menjadi magnet dan daya tarik utama bagi para pengunjung adalah keberadaan umbul-umbul Caruban Nagari dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Lambang kenegaraan Kesultanan Cirebon yang dibuat dengan teknik batik menggunakan motif kaligrafi ini memiliki nilai historis yang luar biasa sebagai simbol pembakar semangat nasionalisme pribumi dalam mengusir penjajah di bandar udara kuno Jakarta (Sunda Kelapa) kala itu.

Baca Juga :  Kado HUT Ke -50, Properti Summarecon Selalu di Hati

Atmosfer kemeriahan pameran ini kian terasa global dengan kehadiran para duta besar negara sahabat, seperti perwakilan dari Belanda, Turki, dan Ekuador. Selain memanjakan mata dengan pameran fisik, rangkaian perayaan ini juga akan memperkaya wawasan publik melalui kegiatan diskusi (Bincang-Bincang Wastra) pada 4 Juli 2026, yang akan mengupas tuntas sejarah dan filosofi panji pusaka (Dwaja Pusaka) Caruban Nagari bersama budayawan serta sejarawan Cirebon, Astaqim Asteja.

Menatap selembar kain tradisional berarti membaca kembali kisah perjuangan, cinta, dan jati diri kita sebagai bangsa yang besar. Menghabiskan waktu akhir pekan dengan mengunjungi pameran di Museum Tekstil Jakarta ini bisa menjadi langkah nyata dan menyenangkan untuk ikut serta melestarikan warisan leluhur demi masa depan dunia. (Gdi)