Nussa, Film Keluarga sarat nilai kebajikan - Wanita Indonesia <
WISATA

Nussa, Film Keluarga sarat nilai kebajikan

wanitaindonesia.co Bila Anda memiliki buah hati berusia 5-10 tahun, mungkin Anda terbiasa menyuguhkan serial Nussa sebagai tontonan mereka di layar televisi. Memang, sosok Nussa, Rarra, dan teman-temannya akrab sebagai karakter edutainment yang mengajarkan nilai baik.

Nussa: The Movie lebih dari itu. Jika Anda berpikir film dengan tokoh sentral anak laki-laki berbaju tunik ini bukan untuk orang dewasa, Anda salah. Justru, ini film kita semua yang tersedot kesibukan untuk melihat sejenak ke diri sendiri. Nussa: The Movie mengajaknya melalui cerita seorang anak yang sarat emosional. Silakan bernostalgia ke masa lalu, atau menjadikannya refleksi diri sebagai orang tua.

Visinema mengembangkan film animasi ini dengan deretan pengisi suara tokoh dewasa, dari Raisa AndrianaDewi SandraAlex AbbadFenita ArieAsri Welas, hingga Maudy Koesnaedi.

Ingkarnya Janji Abba dan Munculnya Johni Si Pesaing

Saat Anda masih kecil, tentu ada hal yang kerap menjadi unjuk kebolehan Anda di hadapan teman dan keluarga.

Begitupun dengan Nussa (Muzakki Ramdhan) yang di usia muda telah andal dengan sistem mekanika sederhana dan proyek sains rakitan barang-barang bekas. Ia bintang sains di Sekolah Nusantara, dan sebuah roket yang disulap dari bahan rongsokan membuatnya pede memenangi kompetisi science fair Ramadhan.

Namun, Nussa mendadak ciut ketika melihat roket modern bermaterial logam karya Jonni (Ali Fikry), anak baru jenius bermodal lebih. Sosok Jonni mengambil sorotan yang sebelumnya mengarah ke Nussa.

Memang, sains bukanlah satu-satunya kelebihan Nussa yang tuna daksa. Ia dihujani kasih sayang dari sabahat, Syifa (Widuri Sasono), Abdul (Malka Hayfa), hingga sang ibu yang dipanggilnya Umma (Fenita Arie), serta Rarra (Aysha Azaana Ocean Fajar), adiknya.

Keluarga hangatnya kerap merindukan sosok Abba (Alex Abbad). Abba bekerja di luar negeri demi kesempatan ekonomi yang lebih baik, di perusahaan tambang lepas pantai internasional dengan posisi yang cukup dipercaya. Ia tak bisa sering-sering pulang.

Yang bikin tambah runyam hati Nussa yang kangen Abba, pesona Jonni mencuri perhatian Rarra dan kedua sahabat. Terlebih Abba, sumber motivasi Nussa tak bisa memenuhi janjinya untuk pulang dan membantunya mengerjakan roket untuk Science Fair. 

Lewat kisah ini, kita juga dibawa melihat sepinya hati anak kecil dari kacamata Jonni. ‘Bertamu’ ke rumah Jonni yang semula tergambar punya segalnya, di ruang keluarga, Jonni adalah anak yang terasing dengan orangtua yang sibuk meeting dan tak lepas dari gadget. 

Sebuah cerita yang relatable, dengan menyelami sudut pandang dua anak kecil yang terbentur cemburu, kecewa, amarah, sepi, dan butuh pengakuan.

Bagaimana cara Nussa kembali mengambil hati sahabat dan keluarganya?

Apakah Nussa akan meraih kemenangannya kembali dari Jonni?

Semuanya terjawab di Nussa: The Movie yang tayang serentak di bioskop mulai tanggal 14 Oktober 2021.

Nussa Terus Berjalan di Tengah Pandemi

Digarap selama 3 tahun, pandemi berpengaruh besar dalam proses produksinya.

Komputer para editor yang semula berada di kantor diboyong ke rumah masing-masing agar Nussa bisa terus ‘mengejar mimpinya’.

Visinema berkolaborasi dengan studio animasi The Little Giantz, melibatkan 130 animator yang seluruhnya adalah orang Indonesia. Hasilnya membanggakan.

Memerankan sosok Bibi Mur, Asri Welas mengaku cukup kaget saat pengambilan suara, bermodal sketsa karakternya. Anggia Kharisma, produser Nussa: The Movie sengaja melakukan proses dubbing dahulu, agar animasinya nanti tidak terasa sebagai proses dubbing. Gerakan mulut animasi justru akan mencermikan dialek dan tempo pengisi suara. Hasilnya lebih riil.

Pengisi suara karakter ibu Nussa, Fenita Arie, membenarkannya. “Ini berbeda dengan dubbing film animasi. Saya pikir prosesnya akan seperti saat reading dengan ada lawan aktingnya. Namun di bilik rekam suara, memang hanya ada saya sendiri.”

“Film ini memang berbeda dengan seri edutainment Nussa yang biasa ditonton anak-anak,” ujar Anggia yang juga menjabat sebagai President of Kids & Family Business di Visinema. Sentuhan tata krama dan pendidikan sains terasa sepanjang cerita yang diwarnai kompleksitas  ‘drama’ sehari-hari seorang anak yang terkadang kita anggap remeh.

Pelajaran untuk bersabar dan bersyukur tampak ranum untuk dipetik dari film garapan Bony Wirasmono ini.

Alex Abbad terdengar prima menyuarakan emosi Abba di posisi terjepit antara keluarga dan pekerjaan.

Asri sebagai Bibi Mur sempurna menggambarkan si bibi yang menghibur, mengisi perhatian orangtua yang hilang di masa kecil Jonni.

Namun, karakter paling kuat memanglah milik Muzakki Ramdhan. Aktor berusia 12 tahun ini memandu penonton mengarungi derasnya emosi Nussa. Akting suaranya membumi, menjadikan karakternya ngena di hati penonton. Tentu, penonton banjir air mata di film berdurasi 1 jam 47 menit ini.

Potensi Nussa Untuk Berkembang

Memang masih ada celah untuk Nussa: The Movie berkembang.

Animasi bisa lebih baik lagi, dan potensi itu terpampang jelas di layar perak.

Begitupun dengan beberapa plot cerita yang terkesan melompat dan merubah karakter tanpa penjelasan riil.

“Ini sebuah film, kami berharap penonton bisa menggunakan imajinasi mereka dalam menjawab pertanyaan sebab-akibat yang tidak dijelaskan dalam film ini,” ujar Anggia, menjelaskan.

Tapi bukankah kompleksnya cerita justru bisa diurai dengan perkembangan karakter yang tergambar nyata dan bukan sekadar imajinasi tebak-tebak buah manggis penonton? Coba saksikan filmnya, Anda pasti akan paham bagian mana yang Femina maksud.

Dengan kekuatan cerita yang kokoh masih ada beberapa karakter seperti Pak Ucok dan Babe Jaelani yang stereotipikal suku tertentu. Mungkin untuk menggambarkan keragaman, namun karakter tersebut bisa dicap sebatas gimmick yang justru mengganggu. Mungkin, anak kecil tidak akan terlalu paham dengan dialek yang dibawakan dan untuk dewasa, hal tersebut bisa terasa mengganjal. Jalannya cerita tetap bisa mengalir indah bila keduanya berbicara dengan bahasa Indonesia seperti karakter lainnya.

Dari tiga karakter dengan latar belakang suku tertentu, hanya karakter Bibi Mur yang bertutur seperti biasa dan baru menunjukkan dialeknya saat terjadi luapan emosi. Sebuah hal yang amat masuk akal dan digambarkan dengan cerdas oleh Asri Welas.

Dari kekuatan cerita, Nussa menawarkan nilai kehidupan, maupun potensi secara bisnis. Seandainya tidak terhalang pandemi dan batasan memasuki bioskop untuk anak di bawah usia 12 tahun, kualitas film ini pasti sanggup menarik orang tua memboyong anak-anaknya untuk memenuhi jajaran kursi bioskop.

Menampilkan lebih banyak

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button