Kabar Sejuk, Pemerintah Tak Naikkan Pertalite Meski Minyak Dunia Sentuh 107 Dolar AS

Antrean kendaraan mengisi BBM subsidi. Gdi

WANITAINDONESIA.CO — Di tengah bayang-bayang harga minyak mentah dunia yang kian melambung, kabar menyejukkan berembus dari pemerintah untuk seluruh lapisan masyarakat. Kepastian mengenai nasib bahan bakar minyak subsidi akhirnya terjawab terang, memberikan kepastian di kala gejolak ekonomi global memicu kecemasan pasar.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, tidak bakal naik. Jaminan tersebut tetap berlaku kukuh meskipun harga minyak dunia sempat menembus angka 107 dolar AS per barel.

Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga kestabilan harga bahan bakar yang menjadi tumpuan mobilitas harian masyarakat luas tersebut hingga penutup tahun.

“Kalau untuk pertalite, yang disampaikan sama Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia), sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan ini tidak ada kenaikan untuk pertalite, untuk BBM bersubsidi,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot di Jakarta, Selasa.

Baca Juga :  Pemerintah Siap Kucuran Kredit Rp2.000 Triliun Bagi Pelaku UMKM Pada 2027

Meski napas lega dapat dirasakan pengguna BBM bersubsidi, penyesuaian ( adjustment ) harga tetap akan membayangi jenis BBM nonsubsidi. Penyesuaian tersebut terjadi lantaran pergerakannya mengikuti dinamika harga pasar yang dihitung berdasarkan rata-rata harga minyak dunia dalam rentang satu bulan.

“Jadi ini kami melihat rata-rata dalam satu bulan itu kira-kira berapa, penyesuaiannya kira-kira berapa,” ucap Wakil Menteri ESDM Yuliot melanjutkan keterangannya.

Kondisi meroketnya harga minyak dunia ini memang tidak terlepas dari memanasnya ketegangan geopolitik (ilmu tentang pengaruh faktor geografi terhadap ketatanegaraan) akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Fenomena tersebut memicu tren kenaikan harga yang signifikan pada akhir September 2026, setelah sempat melandai pada rentang bulan Juni-Juli.

Guncangan harga minyak global ini sejatinya telah diantisipasi dalam kalkulasi ketahanan keuangan negara. Purbaya Yudhi Sadewa ketika masih menjabat sebagai Menteri Keuangan menjamin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali hingga akhir tahun. Jaminan ini berlandaskan pada asumsi makro rata-rata harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) yang berada di level 100 dolar AS.

Baca Juga :  Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Bertepatan 21 Maret 2026

Kalkulasi tersebut diperkuat oleh perhitungan Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, yang mencatat bahwa rata-rata ICP sepanjang Januari–September berada di kisaran 90,6 dolar AS per barel.

Sebagai langkah responsif jangka panjang menghadapi gejolak global yang dinamis, Kementerian ESDM bergerak cepat merancang strategi ketahanan energi mandiri. Pemerintah berkomitmen melakukan percepatan eksplorasi (penjelajahan lapangan untuk menemukan sumber minyak) dan eksploitasi (pemanfaatan sumber daya) minyak dan gas bumi (migas) di dalam negeri.

Sejumlah kawasan cadangan migas potensial dengan perkiraan produksi sekitar 2.500–3,000 barel per hari telah dipetakan secara terukur. Langkah penambangan aktif ini siap digenjot prosesnya pada tahun 2027 dan 2028 mendatangkan pasokan baru.

Baca Juga :  Pacu Stok Jagung Nasional, Pemerintah Kejar Target Satu Juta Ton

Upaya taktis tersebut menjadi pijakan vital bagi pemerintah dalam merealisasikan target besar produksi 1 juta barel minyak per hari pada rentang tahun 2029–2030 demi mewujudkan swasembada (kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri) energi nasional.

“Eksplorasi dan eksploitasi ini kami akan genjot pada tahun 2027 dan 2028 sehingga target kita 1 juta barel itu bisa tercapai,” kata Wakil Menteri ESDM Yuliot optimistis.

Kepastian ini tentu menjadi penawar dahaga di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus bergejolak. Saat langkah strategis jangka panjang mulai dipacu demi kemandirian energi bangsa, kepastian harga pertalite yang bertahan hingga akhir tahun memberikan ruang bagi masyarakat untuk terus melangkah mantap menyongsong hari esok. (Gdi)