WANITAINDONESIA.CO – Di tengah derasnya industri musik yang sering kali menuntut sensasi dan popularitas instan, Nida Putri Nashiroh memilih jalan yang berbeda. Perempuan yang dikenal dengan nama panggung Nida Putri N ini percaya bahwa musik bukan sekadar tentang suara merdu atau teknik vokal semata, melainkan ruang untuk menyampaikan rasa yang paling jujur.
Dari karakter vokalnya yang lembut dan tenang, Nida ingin setiap lagu yang ia nyanyikan bukan hanya terdengar indah, tetapi juga mampu menyentuh hati pendengarnya. Baginya, musik adalah bahasa perasaan yang kadang sulit diungkapkan lewat kata-kata biasa.
Lahir di Jakarta pada 6 November 2000 dan tumbuh besar di Tangerang Selatan, perjalanan Nida di dunia tarik suara dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia aktif mengikuti paduan suara sekolah hingga seorang guru mulai menyadari kualitas vokalnya yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Namun perjalanan menuju rasa percaya diri tidak datang begitu saja. Nida mengaku sempat merasa minder dengan kemampuannya sendiri. Keyakinan itu baru perlahan tumbuh ketika dirinya duduk di bangku SMP. Dukungan guru kembali menjadi penyemangat yang membuatnya berani tampil solo dalam berbagai acara sekolah.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil memenangkan lomba solo vokal dan mendapatkan apresiasi dari sekolah. Dari titik itulah, Nida mulai percaya bahwa bernyanyi bukan sekadar hobi, tetapi sesuatu yang memang menjadi bagian dari dirinya.
Di balik perjalanan musiknya, ada sosok ibu yang menjadi kekuatan terbesar dalam hidup Nida. Sang ibu selalu mendukung kecintaannya pada musik, termasuk membantu Nida mengikuti les vokal meski dengan fasilitas sederhana dan gratis. Dukungan kecil yang penuh kasih itu justru menjadi pondasi besar yang membentuk keyakinan Nida hingga hari ini.
Meski sang ibu telah berpulang saat Nida berusia 19 tahun, semangat dan dukungannya tetap hidup dalam setiap langkah yang dijalani Nida sebagai penyanyi.

Perjalanan Nida kemudian berkembang perlahan. Ia memulai semuanya dari komunitas kecil, mengunggah cover lagu di YouTube dan Instagram, hingga tampil dari satu panggung ke panggung lainnya. Tidak ada jalan instan dalam prosesnya. Semua dijalani dengan belajar, mencoba, dan terus mengenali karakter dirinya sendiri.
Dalam bermusik, Nida banyak terinspirasi dari sejumlah musisi seperti Maudy Ayunda, Audy, Adele, hingga Vidi Aldiano. Dari mereka, Nida belajar banyak hal, mulai dari teknik vokal, pengolahan napas, hingga bagaimana menghadirkan emosi dalam sebuah lagu.
Fase membawakan lagu cover menjadi ruang belajar penting bagi Nida. Ia tidak ingin sekadar meniru versi asli, tetapi mencoba menghadirkan rasa yang lebih personal melalui suaranya sendiri. Meski begitu, ia juga memahami bahwa membawakan cover memiliki tantangan tersendiri karena pendengar kerap membandingkan dengan penyanyi aslinya.
Karena itu, ketika membawakan lagu ciptaannya sendiri, Nida merasa lebih bebas bereksplorasi. Ia bisa menyampaikan emosi dengan lebih utuh tanpa tekanan untuk terdengar seperti orang lain.
Karakter suara Nida yang soft dan tipis membuatnya menyukai aransemen musik yang sederhana dan tidak terlalu ramai. Ia lebih nyaman dengan nuansa pop, folk, ballad, akustik, hingga piano orchestra yang terasa hangat dan emosional.
Bagi Nida, bernyanyi bukanlah ajang untuk memamerkan kemampuan vokal semata. Musik adalah cara untuk bercerita. Teknik memang penting, tetapi rasa tetap menjadi pusat dari semuanya.
“Teknik vokal itu penting karena untuk menyampaikan rasa juga perlu teknik sebagai penunjang. Tapi kalau harus memilih, aku memilih rasa, karena inti dari seni musik adalah menyampaikan rasa,” ungkap Nida.
Sebagai penyanyi indie, Nida menyadari bahwa membangun nama di industri musik bukan perkara mudah. Keterbatasan biaya promosi hingga harus mengerjakan banyak hal secara mandiri menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun, semua itu tidak membuatnya berhenti.
Justru lewat jalur independen, Nida merasa memiliki kebebasan untuk tetap jujur pada karya dan karakter musiknya sendiri. Ia percaya, tidak semua keberhasilan harus diukur dari popularitas televisi atau viral di media sosial.
Di era digital seperti sekarang, media sosial menjadi ruang penting bagi Nida untuk memperkenalkan karya-karyanya. YouTube, Instagram, dan berbagai platform digital menjadi jembatan yang mempertemukannya dengan para pendengar yang memiliki rasa yang sama.
Di luar aktivitas bermusik, Nida juga menjalani pekerjaan lain seperti live streaming dan menjadi host demi menambah pemasukan. Baginya, menjadi penyanyi indie bukan hanya soal berkarya, tetapi juga tentang bertahan sambil terus menjaga mimpi tetap hidup.
Meski terkadang rasa minder datang ketika melihat kerasnya persaingan industri musik, Nida memilih untuk kembali pada alasan awalnya bernyanyi: menyampaikan isi hati.
“Cinta dan rasa yang membuat aku bertahan. Seperti orang yang jatuh cinta, dia akan selalu punya waktu dan energi, apa pun kondisinya,” katanya.
Ke depan, Nida ingin terus belajar menulis lagu sendiri dan memperluas jangkauan pendengarnya hingga ke seluruh Indonesia. Ia juga tertarik mendalami musik seriosa dan nuansa orchestra yang menurutnya mampu menghadirkan emosi yang lebih dalam.
Nida ingin dikenal bukan hanya karena suaranya, tetapi karena cerita dan rasa yang hadir dalam setiap lagu yang ia bawakan.
“Aku bernyanyi bukan hanya untuk didengar, tapi untuk menyampaikan rasa yang mungkin tidak selalu bisa diucapkan,” ujar Nida.
Bagi Nida Putri N, musik adalah tempat pulang. Dan lewat setiap nada yang ia nyanyikan, ia ingin membuktikan satu hal sederhana: sesuatu yang dibuat dengan hati, akan selalu sampai ke hati. (citra)





