Menyingkap Strategi Danantara Membenahi Utang dan Tumpukan Masalah di BUMN Karya

BUMN Karya memiliki peran penting dalam pembangunan infrastruktur. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Di balik megahnya deretan infrastruktur di berbagai penjuru negeri, tersimpan benang kusut keuangan dan beban utang bernilai fantastis yang kini tengah diurai secara perlahan. Penyehatan klaster BUMN Konstruksi atau BUMN Karya bukan sekadar urusan membalikkan telapak tangan atau memutus kebijakan di atas kertas. Di dalamnya, terdapat ekosistem bisnis yang sangat luas, ribuan tenaga kerja, serta mata rantai bisnis pendukung yang nasibnya dipertaruhkan.

Kondisi inilah yang membuat proses penataan ulang (restrukturisasi) BUMN Karya berlangsung penuh kalkulasi matang. Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengelola BUMN Dony Oskaria menegaskan bahwa prinsip kehati-hatian menjadi fondasi utama dalam membenahi sengketa dan beban finansial yang terakumulasi selama bertahun-tahun.

“Memang hati-hati sekali. Ini yang memakan waktu, dan yang juga masyarakat harus tahu bahwa masalah BUMN Karya ini kan sudah cukup lama dan besar. Inilah yang satu per satu diselesaikan,” ujar Dony Oskaria saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa.

Baca Juga :  Danantara Bakal Dorong Bunga Murah dan Bebas Uang Muka Demi Pengembangan Motor Listrik Nasional

Kompleksitas pembenahan ini bersumber dari akar masalah yang beranak-pinak. Selain akumulasi kewajiban pembayaran (liabilities) dan utang skala besar, rumitnya struktur organisasi perusahaan induk (holding) hingga ke anak-cucu usaha menjadi tantangan tersendiri.

“Persoalannya itu cukup luas. Pertama bahwa kewajiban besar, utangnya besar-besar. Yang kedua, masalahnya ini tidak hanya di level holding, tapi dia punya anak-anak perusahaan yang juga bermasalah. Bisa bayangkan masing-masing punya anak perusahaan lebih dari 20. Jadi dengan begini sebetulnya bisa membayangkan seperti apa kita bekerja menyelesaikan satu per satu,” jelas Dony Oskaria.

Mengambil langkah pintas seperti penggabungan (merger) secara tergesa-gesa atau penutupan usaha akibat kebangkrutan (pailit) sejatinya merupakan opsi yang paling mudah diambil. Namun, langkah drastis tanpa perhitungan matang berpotensi memicu efek domino yang merusak ekosistem industri konstruksi nasional. Oleh karena itu, Danantara Indonesia memilih jalan yang lebih terukur demi melindungi seluruh pihak yang terhubung dalam ekosistem BUMN Karya.

Baca Juga :  Perkuat Inklusi Keuangan Bersama Danantara, BRImo Capai 49,7 Juta Pengguna dengan Volume Transaksi Rp4.166 Triliun hingga Juni 2026

“Tapi kalau kita mau instan tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang-orang yang terdampak, itu kan gampang saja. Kita bisa gabungkan, kita pailitkan, dan sebagainya. Tapi kami memikirkan juga dampaknya apa untuk ekosistem yang lainnya. Jadi memang hati-hati sekali,” tegas Dony Oskaria.

Dinamika hukum dan kewajiban bisnis di lapangan turut memperpanjang tenggat waktu penyelesaian. Berbagai tantangan mulai dari aset hunian terpadu dekat transportasi umum (Transit-Oriented Development/TOD) seperti LRT City hingga gugatan hukum pada unit bisnis WIKA Realty menuntut penanganan yang terintegrasi dan presisi.

Hal ini berimplikasi pada penyesuaian jadwal konsolidasi. Target penggabungan tujuh perseroan BUMN Karya yang semula dirancang selesai pada Juni 2026 kini digeser ke kuartal empat tahun 2026. Rencana besar ini mencakup pembenahan dan penyatuan entitas PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).

Baca Juga :  4 Tahun Kepemimpinan Menteri BUMN, Ini Corporate Action BNI

Meskipun harus melalui proses yang berliku dan dinamis, komitmen untuk menuntaskan perbaikan struktur keuangan ini tetap berjalan sesuai arah yang ditetapkan. Langkah hati-hati ini diharapkan menjadi titik balik lahirnya BUMN konstruksi yang lebih sehat, transparan, dan berdaya saing tinggi demi menopang pertumbuhan ekonomi nasional jangka panjang.

Proses penyehatan BUMN Karya ini membuktikan bahwa membangun fondasi ekonomi yang kokoh membutuhkan kesabaran serta keberanian untuk menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Menurut Anda, apakah langkah penataan penuh kehati-hatian ini mampu mengembalikan kejayaan industri konstruksi nasional di masa depan? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar! (Gdi)