WANITAINDONESIA.CO – Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mampu, baik secara fisik, finansial, maupun keamanan perjalanan. Setiap tahun, jutaan umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan rangkaian ibadah yang sarat makna spiritual, mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS dan tuntunan sunah Rasulullah
Pelaksanaan haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ruhani menuju ketakwaan. Agar ibadah berjalan sempurna, jamaah perlu memahami tahapan-tahapan haji sesuai tuntunan syariat.
Pengertian dan Tujuan Ibadah Haji
Secara bahasa, haji berarti “menuju” atau “mengunjungi”. Secara syariat, haji adalah ibadah dengan mengunjungi Baitullah di Makkah pada waktu tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu sesuai ketentuan Islam.
Allah SWT berfirman:
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 196)
Tujuan utama haji adalah menyempurnakan penghambaan kepada Allah, membersihkan dosa, serta mempererat persaudaraan umat Islam sedunia.
Rangkaian Ibadah Haji Sesuai Sunah Rasulullah
1. Ihram dari Miqat
Tahapan pertama dimulai dengan niat ihram dari miqat yang telah ditentukan.
Tata cara:
Mandi sunnah sebelum berihram
Memakai pakaian ihram (dua lembar kain putih bagi laki-laki)
Shalat sunnah ihram (jika memungkinkan)
Berniat haji:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ حَجًّا
“Labbaikallahumma Hajjan”
(Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji)
Memperbanyak talbiyah:
Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak.
Larangan saat ihram:
Memotong kuku atau rambut
Menggunakan wewangian
Berburu
Bertengkar atau berkata kotor
Bagi laki-laki menutup kepala
2. Tawaf Qudum (Mengelilingi Ka’bah)
Setibanya di Masjidil Haram, jamaah melaksanakan tawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran, dimulai dari Hajar Aswad.
Sunah saat tawaf:
Menghadap Hajar Aswad sambil bertakbir
Berjalan cepat kecil (raml) pada tiga putaran pertama bagi laki-laki
Banyak berzikir dan berdoa
Membaca antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar
3. Sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah
Setelah tawaf, jamaah melakukan sa’i sebanyak 7 kali perjalanan antara Bukit Shafa dan Marwah.
Tata cara:
Memulai dari Bukit Shafa
Menghadap kiblat sambil bertakbir dan berdoa
Berjalan menuju Marwah
Laki-laki disunahkan berlari kecil di area lampu hijau
Sa’i mengenang perjuangan Hajar mencari air bagi putranya, Nabi Ismail AS.
4. Wukuf di Arafah (Puncak Haji)
Tanggal 9 Zulhijah, jamaah wajib berada di Padang Arafah sejak tergelincir matahari hingga magrib.
Rasulullah bersabda:
“Al-Hajju ‘Arafah”
“Haji itu adalah wukuf di Arafah.”
(HR. Tirmidzi)
Amalan utama:
Memperbanyak doa
Istigfar dan taubat
Membaca Al-Qur’an
Dzikir dan talbiyah
Ini adalah momen paling mustajab untuk memohon ampunan.
5. Mabit di Muzdalifah
Setelah magrib, jamaah bergerak ke Muzdalifah untuk bermalam.
Sunah yang dilakukan:
Menjama’ shalat Magrib dan Isya
Mengumpulkan batu kerikil untuk jumrah
Beristirahat hingga menjelang Subuh
Berdoa setelah shalat Subuh
6. Melontar Jumrah Aqabah
Pada tanggal 10 Zulhijah, jamaah menuju Mina untuk melontar 7 batu kerikil ke Jumrah Aqabah.
Makna:
Simbol perlawanan terhadap godaan setan dan komitmen menaati Allah.
7. Tahallul (Mencukur Rambut)
Setelah melontar jumrah, jamaah melakukan tahallul.
Sunah:
Laki-laki mencukur habis rambut (lebih utama)
Perempuan memotong sedikit ujung rambut
Dengan tahallul, sebagian larangan ihram telah berakhir.
8. Tawaf Ifadah
Tawaf ini termasuk rukun haji dan wajib dilakukan.
Caranya sama seperti tawaf sebelumnya, kemudian dilanjutkan sa’i jika belum dilakukan.
9. Mabit di Mina dan Melontar Tiga Jumrah
Pada tanggal 11–13 Zulhijah, jamaah bermalam di Mina dan melontar:
Jumrah Ula
Jumrah Wustha
Jumrah Aqabah
Masing-masing 7 lemparan.
Hikmah Ibadah Haji
Ibadah haji mengajarkan:
Kesabaran dan keikhlasan
Persamaan derajat manusia
Kepatuhan total kepada Allah
Pengorbanan dan pengendalian diri
Persaudaraan umat Islam global
Rasulullah bersabda:
“Barang siapa berhaji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup
Menunaikan ibadah haji bukan hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga momentum transformasi spiritual menuju pribadi yang lebih bertakwa. Memahami rangkaian ibadah sesuai sunah Rasulullah menjadi bekal penting agar haji tidak sekadar sah, tetapi juga mabrur.
Semoga seluruh jamaah haji diberikan kemudahan, kesehatan, dan memperoleh predikat haji mabrur. Aamiin. (Den)





