WANITAINDONESIA.CO – Di balik gemerlap kemajuan teknologi dan pesatnya arus kecerdasan buatan (AI/ artificial intelligence), sebuah tantangan besar dalam hal kesetaraan dan kesiapan masyarakat masih membayang. Kehadiran teknologi digital di tengah kehidupan sehari-hari sejatinya bukan sekadar alat pembantu, melainkan mesin penggerak utama yang menentukan arah kemajuan suatu bangsa. Namun, manfaat besar ini belum sepenuhnya tersalurkan secara merata.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini, menegaskan bahwa langkah mendorong kecakapan digital di tengah masyarakat—khususnya bagi kelompok perempuan—bukanlah sekadar wacana atau agenda kesetaraan semata. Lebih jauh dari itu, hal tersebut merupakan fondasi dan strategi krusial untuk memperluas daya jangkau serta manfaat transformasi digital hingga ke level keluarga, usaha, masyarakat, hingga tingkatan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Rini saat memberikan pengarahan dalam Diskusi Kelompok Terarah (FGD/ Focus Group Discussion) Penyusunan Modul Sekolah Kepemimpinan Kartini yang diselenggarakan oleh Kartini Leader Society di Jakarta, Jumat (7/8).
“Pemberdayaan di era digital bukan sekadar agenda kesetaraan. Ini adalah strategi untuk memperluas manfaat transformasi digital,” tegas Rini dalam keterangannya di Jakarta.
Langkah percepatan ini dinilai kian mendesak mengingat tingkat penetrasi internet yang belum sepenuhnya seimbang, di mana tingkat akses pengguna perempuan baru menyentuh angka 79,79 persen, berada di bawah capaian laki-laki yang telah mencapai 83,95 persen. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa meski partisipasi masyarakat sebagai pengguna aktif teknologi terus meningkat, posisi sebagai pihak yang memegang kendali, membentuk teknologi, serta mengambil keputusan strategis masih membutuhkan ruang penyesuaian yang jauh lebih besar.
Untuk mewujudkan ekosistem digital yang benar-benar inklusif dan memberikan dampak menyeluruh, terdapat empat pilar utama yang perlu diperkuat bersama. Pertama, memperluas akses digital secara menyeluruh tanpa mengabaikan kelompok yang memiliki tingkat kesiapan berbeda. Prinsip pelayanan serba digital (digital by default) hendaknya tidak mematikan opsi pendampingan (digital only), sehingga integrasi layanan serba saluran (omnichannel) tetap hadir memfasilitasi setiap lapisan masyarakat.
Pilar kedua bertumpu pada penguatan literasi digital dan pemahaman kecerdasan buatan secara kritis. Pemahaman teknologi kini tidak lagi cukup sebatas kepiawaian mengoperasikan aplikasi, melainkan mencakup pemanfaatan data yang produktif, kesadaran menjaga kerahasiaan (privacy), keamanan ruang siber, hingga kejelian dalam menyaring risiko informasi menyesatkan (misinformation).
Selanjutnya, pilar ketiga menekankan pentingnya perluasan kesempatan nyata bagi individu yang telah memiliki kompetensi untuk terlibat langsung dalam proyek digital, uji coba pelayanan, hingga ruang evaluasi sistem. Sementara itu, pilar keempat menggarisbawahi pentingnya tata kelola kecerdasan buatan yang tetap menjunjung tinggi etika serta berpusat pada kemanusiaan (human-centered), guna memastikan teknologi hadir membantu tanpa mengikis tanggung jawab moral manusia maupun mereplikasi ketidakadilan sistemik.
Urgensi peningkatan kemampuan digital ini terbukti membawa efek berlipat (multiplier effect) yang sangat masif bagi roda perekonomian nasional. Realita di lapangan mencatat bahwa lebih dari 60 persen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) digerakkan oleh perempuan, sekitar 64 persen tenaga kesehatan diisi oleh praktisi perempuan, serta lebih dari separuh bangku perguruan tinggi dihuni oleh mahasiswi.
“Ketika seseorang semakin cakap memanfaatkan teknologi, manfaatnya dapat mengalir kepada keluarga, tempat kerja, usaha, masyarakat, bahkan generasi berikutnya,” tutur Rini optimis.
Semangat penguatan kapasitas ini mendapat sambutan hangat dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993–1998, Wardiman Djojonegoro. Ia menilai kemauan internal untuk terus belajar dan berani melangkah merupakan kunci utama dalam memutus sikap pasrah terhadap perubahan zaman.
“Saya senang mendengar semangat ‘aku mau’ yang disampaikan Ibu Rini. Yang perlu kita bangun adalah kemauan untuk terus maju dan tidak hanya pasrah. Semangat ini perlu menjadi bagian dari kurikulum Sekolah Kepemimpinan Kartini,” ujar Wardiman penuh apresiasi.
Guna mewujudkan cita-cita besar tersebut, pembangunan ekosistem pendukung yang solid—mulai dari program pembimbingan (mentoring), dukungan kepemimpinan (sponsorship), hingga penyediaan ruang belajar yang aman—menjadi kebutuhan mutlak. Sinergi seluruh elemen masyarakat dan lembaga seperti Kartini Leader Society diharapkan mampu menjadi navigasi utama dalam melahirkan generasi tangguh yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, melainkan mampu mengarahkan kemudi perubahan demi kemaslahatan masyarakat luas.
Perjalanan menavigasi derasnya arus era kecerdasan buatan memang membutuhkan kejelian, keberanian, dan kemauan untuk terus beradaptasi. Lantas, sudah siapkah Anda mengambil peran strategis dan memegang kendali penuh dalam gelombang transformasi digital masa kini? (Gdi)





