WANITAINDONESIA.CO – Layar gawai dan tenggat waktu tugas akademis kini diwarnai oleh kepraktisan teknologi. Cukup mengetikkan beberapa kata kunci, barisan paragraf analisis hingga solusi rumit tersaji dalam hitungan detik lewat bantuan kecerdasan artifisial generatif (generative AI). Namun, di balik segala kemudahan instan tersebut, tersimpan ancaman tersembunyi berupa tumpulnya nalar dan daya kritis generasi muda.
Kekhawatiran inilah yang melandasi penegasan dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. Ia mengimbau seluruh perguruan tinggi di Indonesia agar tidak membiarkan para mahasiswa hanyut dalam ketergantungan teknologi. Menurutnya, kecerdasan buatan seharusnya diposisikan sebagai pemicu ketajaman berpikir, bukan mesin pemikir otomatis yang menggeser peran otak manusia.
Pesan bernas tersebut disampaikan Wamenkomdigi Nezar Patria saat memberikan arahan dalam Seminar Nasional dan Bimbingan Teknis Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ). Di hadapan para pengajar, Nezar menekankan pentingnya pembentukan paradigma baru di ruang kelas. Mahasiswa harus diajak memandang teknologi cerdas ini sebagai rekan diskusi untuk memperkaya pemikiran, sembari tetap memegang teguh etika, integritas akademik, serta kemampuan bernalar mandiri.
Perkembangan teknologi yang melesat bagai anak panah memang menuntut dunia akademis untuk sigap merumuskan tata kelola yang kontekstual dan berlandaskan nilai moral. Guna menjawab tantangan zaman tersebut, Nezar mengajak para tenaga pendidik pengampu MKWK UPNVJ untuk mengeksekusi tiga langkah strategis.
Langkah pertama berfokus pada reorientasi pedagogi, yaitu memperbarui metode pengajaran agar selaras dengan era digital. Langkah kedua ditandai dengan penguatan literasi kecerdasan artifisial yang berbasis nilai. Penguatan ini krusial agar mahasiswa tidak hanya mahir mengoperasikan sistem, tetapi juga memahami cara kerja, keterbatasan, hingga bias yang mungkin terkandung di dalamnya, sembari mengaitkannya dengan kesadaran kedaulatan digital bangsa. Sementara itu, langkah ketiga diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi dan pemerintah.
Melalui sinergi erat tersebut, generasi muda tidak lagi diposisikan sekadar sebagai penonton atau objek pasif dari arus transformasi digital. Sebaliknya, mahasiswa didorong untuk mengambil peran aktif dalam merancang arah kebijakan serta memancangkan rambu-rambu etika kecerdasan artifisial di tanah air.
“Perlu reorientasi pedagogi yang menjadikan Generative AI sebagai mitra dialektis dalam pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir kritis mahasiswa,” kata Nezar dalam keterangannya yang diterima di Jakarta.
Lantas, akankah teknologi ini menjelma menjadi kawan bertukar pikiran yang mematangkan wawasan, atau justru memanjakan pikiran hingga kehilangan tajamnya daya kritis? Jawabannya ada pada bagaimana akademisi dan generasi muda menentukan arah kemudi teknologi mulai hari ini. (Gdi)





