WANITAINDONESIA.CO – Ragam kuliner fermentasi tradisional Indonesia yang selama ini identik dengan kesederhanaan bersiap naik kelas ke panggung kemewahan. Melalui sentuhan teknologi fermentasi mutakhir, makanan khas daerah akan disulap menjadi hidangan berkelas dalam jamuan makan malam formal (fine dining). Transformasi memukau ini menjadi sajian utama dalam festival pangan bertajuk “Akulturasi”, sebuah ajang inovatif yang membuktikan bahwa sains dan seni mampu berjalan beriringan untuk mendongkrak nilai ekonomi warisan leluhur.
Ajang bergengsi ini digagas sebagai pameran hilirisasi riset pangan lintas disiplin dari empat fakultas sekaligus. Wakil Rektor bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Andryanto Rikrik Kusmara, menjelaskan bahwa festival ini menjadi titik temu strategis antara sains, teknologi, seni, dan budaya. Langkah nyata ini diambil agar inovasi yang lahir dari lingkungan kampus tidak berakhir menjadi tumpukan dokumen akademis semata.
“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa sains dan teknologi memiliki banyak inspirasi untuk pengolahan dan ketahanan pangan. Hasil karya peneliti dan mahasiswa tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus berdampak langsung bagi ekonomi masyarakat,” ujar Andryanto Rikrik Kusmara saat ditemui di kawasan Kampus Ganesha ITB, Bandung, Rabu.
Sisi eksklusif dari festival ini akan dikemas dalam agenda utama bertajuk Fermen Station, sebuah jamuan makan malam terbatas yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juni mendatang. Dalam sesi makan malam delapan tahap (8-course dinner) tersebut, para tamu undangan akan disuguhi aneka kuliner unik, seperti tape dan jahe fermentasi yang telah melalui proses kurasi ketat. Menariknya, setiap hidangan yang disajikan akan ditemani oleh narasi mendalam mengenai rahasia teknologi ilmiah di balik proses pembuatannya.
Meski sesi jamuan utama dikemas secara terbatas untuk ruang diskusi strategis bersama mitra perbankan dan pemerintah, masyarakat luas tidak perlu berkecil hati. Festival utama yang digelar di area lapangan depan Aula Kampus Ganesha tetap terbuka untuk publik secara cuma-cuma. Pengunjung dapat menikmati jalannya acara sekaligus mengikuti sesi mencicipi makanan (food tasting) gratis, yang juga menjadi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk melirik peluang pemanfaatan teknologi fermentasi tersebut.
Langkah terobosan ini mendapat apresiasi positif dari jajaran pemerintahan daerah. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, menegaskan bahwa sentuhan teknologi modern sangat krusial agar komoditas pertanian lokal tidak lagi dijual murah sebagai bahan baku mentah. Ia mencontohkan bagaimana ubi cilembu yang biasanya hanya dibakar, kini berpotensi memiliki nilai jual berlipat ganda jika diolah menggunakan teknologi fermentasi kampus.
“Sentuhan teknologi ini sangat mendukung pengembangan gastronomi kita dan membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah naik kelas ke arah industri,” kata Iendra Sofyan menegaskan pentingnya kolaborasi tersebut.
Di sisi lain, potensi besar juga dibidik dari sektor pariwisata melalui konsep kuliner berbasis cerita (storytelling). Narasi kuat yang memadukan sains dan budaya diyakini mampu memperkuat pelestarian kuliner lokal, sekaligus menjadi magnet wisata baru. Kolaborasi strategis ini diproyeksikan akan terus dimatangkan agar dapat digelar dalam skala yang jauh lebih masif di masa depan, hingga mampu menjelma menjadi penanda dagang (trademark) tahunan kepariwisataan di Jawa Barat.
Melihat bagaimana teknologi mampu mengubah ragi dan singkong menjadi sajian mewah di atas meja perak, kita disadarkan bahwa masa depan pangan lokal berada di tangan mereka yang berani berinovasi. Ketika sains tidak lagi kaku bersembunyi di dalam laboratorium dan mulai melebur di atas piring saji, maka di situlah kebudayaan kita bergerak maju tanpa kehilangan jatidirinya. (Gdi)





