Ketika Candaan Fisik di Sekolah Justru Menjadi Cedera Emosional

Jauhkan sekolah dari perundungan. gdi/AI

WANITAINDONESIA.CO – Julukan fisik yang sering kali dianggap sebagai lelucon biasa di lingkungan sekolah kini disorot tajam sebagai bentuk perundungan (bullying) yang nyata. Alih-alih memicu tawa, candaan yang menyasar tampilan fisik berpotensi besar melukai perasaan peserta didik dan merusak ruang aman mereka dalam menuntut ilmu. Fenomena ini memicu desakan kuat bagi institusi pendidikan untuk segera merombak atmosfer belajar menjadi lebih memanusiakan manusia (humanis), terbuka bagi semua (inklusif), dan melibatkan peran aktif seluruh warga sekolah (partisipatif).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengingatkan dengan tegas bahwa sebagian perilaku melucu di sekolah sering kali tanpa sadar telah melewati batas menjadi pelecehan (harassment). Kebiasaan memanggil teman dengan sebutan yang merendahkan kondisi fisik tidak boleh lagi dinormalisasi sebagai banyolan antarmurid. Sekolah memikul mandat mutlak untuk menjadi benteng pertahanan yang menjamin keamanan dan kenyamanan psikologis setiap anak.

Baca Juga :  Mendikdasmen Resmikan 100 Sekolah yang Sudah Selesai Revitalisasi di Tangerang Raya

“Kadang-kadang sebagian dari melucu itu justru melakukan pelecehan. Misalnya, ‘Eh si kuntet!’ Itu kan maunya melucu, tetapi itu pelecehan, itu perundungan sebenarnya,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam kegiatan bertajuk “Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” di Jakarta Pusat, Rabu.

Guna mengikis habis akar perundungan verbal tersebut, sistem pendidikan nasional kini diarahkan untuk menghapus segala bentuk diskriminasi. Tidak boleh ada lagi sudut pandang yang memandang rendah peserta didik, baik dari segi tampilan fisik eksternal maupun capaian akademik mereka di kelas. Setiap warga sekolah, mulai dari guru hingga tenaga kependidikan, harus memiliki kesadaran penuh bahwa setiap murid dilahirkan dengan bakat, kemampuan, dan potensi unik yang berbeda-beda.

Langkah konkret yang kini tengah didorong adalah penerapan prinsip dasar dari pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Melalui konsep ini, proses belajar mengajar didesain untuk tidak sekadar mentransfer materi pelajaran, melainkan sebuah proses luhur yang memuliakan ilmu pengetahuan dan menghargai martabat setiap manusia di dalamnya. Pendekatan ini diharapkan mampu menggeser atmosfer kompetisi beracun menjadi lingkungan sosial yang saling mendukung.

Baca Juga :  Jumlah Calon Peserta Terus Bertambah, Sekolah dan Murid Tunjukkan Minat Ikuti TKA

Melalui transformasi budaya belajar ini, suasana sekolah diharapkan berubah menjadi tempat yang menggembirakan tanpa ada ruang bagi tindakan merendahkan teman sebaya. Keberagaman yang ada di sekolah, baik dalam bentuk fisik maupun latar belakang kemampuan, seharusnya dirayakan sebagai sebuah kekayaan komunal, bukan justru dijadikan bahan olok-olok yang menyakitkan.

Pada akhirnya, sekolah bukan sekadar pabrik pencetak nilai di atas kertas, melainkan laboratorium moral tempat karakter dan empati generasi masa depan dibentuk. Menghentikan panggilan fisik yang merendahkan adalah langkah awal yang sederhana namun krusial untuk mengembalikan marwah sekolah sebagai rumah kedua yang penuh kasih.

Baca Juga :  Gerakan #RukunSamaTeman: Kolaborasi Nasional Mewujudkan Sekolah Aman dan Nyaman

“Kami ingin semua anak itu belajar bergembira. Sekolah menjadi tempat di mana semua orang merayakan keberagaman. Inilah nilai dasar kenapa kemudian kami tekankan aspek yang lebih humanis, yang inklusif menerima semuanya, dan partisipatif,” tutur Abdul Mu’ti.

Pada akhirnya, sekolah bukan sekadar pabrik pencetak nilai di atas kertas, melainkan laboratorium moral tempat karakter dan empati generasi masa depan dibentuk. Menghentikan panggilan fisik yang merendahkan adalah langkah kecil yang teramat krusial untuk mengembalikan marwah sekolah sebagai rumah kedua yang penuh kasih. Sebab, tidak akan pernah ada tawa yang benar-benar lucu, jika ia lahir dari air mata dan rasa minder anak lain yang terluka. (Gdi)