Mengintip Kesiapan Pulau Kelapa Jadi Percontohan Wisata Hijau

Objek wisata Pulau Kelapa di Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Pesona Kepulauan Seribu tidak pernah kehabisan cerita untuk memikat hati para pelancong. Di balik deburan ombak dan pasir putihnya, Desa Wisata Pulau Kelapa kini sedang bersiap melangkah ke panggung yang lebih tinggi melalui proses asesmen (penilaian) lapangan. Langkah ini menjadi momentum krusial untuk membuktikan bahwa keindahan alam nusantara mampu berdampingan secara harmonis dengan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Tim dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia turun langsung ke jantung Kecamatan Kepulauan Seribu Utara untuk memastikan seluruh denyut nadi pariwisata di sana berjalan sesuai dengan standar yang ketat. Asisten Deputi Perancangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Muhammad Nurdin, menjelaskan di Jakarta pada hari Kamis bahwa proses verifikasi ini bertujuan untuk memotret langsung implementasi praktik pariwisata berkelanjutan di lapangan.

Dalam penilaian tersebut, tim kementerian membedah empat kategori utama yang menjadi pilar penting destinasi masa depan. Pada aspek pengelolaan berkelanjutan, peninjauan dimulai dari Sekretariat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai motor penggerak lokal. Nuansa kearifan lokal begitu kental terasa saat tim bergerak memeriksa kategori keberlanjutan budaya di Sanggar Seni Kembang Kelapa dan Kampung Adat Bugis, yang selama ini menjadi benteng pertahanan tradisi leluhur.

Tidak hanya seni dan budaya, geliat urat nadi perekonomian warga juga ikut diuji dalam kategori sosial ekonomi. Tim penilai melihat langsung kreativitas warga di unit usaha masyarakat, mulai dari deretan kafe estetis, kerajinan suvenir bahari (laut), hingga keunikan produk batik ecoprint (teknik cetak pewarna alami). Sementara itu, komitmen terhadap alam diuji secara mendalam pada kategori keberlanjutan lingkungan melalui inspeksi ke Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) atau sistem penawar air payau Pulau Kelapa, Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), Bank Sampah Kresek Indah, hingga kawasan konservasi Taman Nasional Seksi I Kelapa Dua.

Melalui rangkaian penilaian yang menyeluruh ini, Desa Wisata Pulau Kelapa diharapkan tidak sekadar mengejar status di atas kertas. Muhammad Nurdin menegaskan bahwa hasil akhir dari standardisasi ini memiliki visi yang jauh lebih besar bagi kawasan Kepulauan Seribu.

“Melalui asesmen tersebut, Desa Wisata Pulau Kelapa diharapkan dapat memperoleh Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dan menjadi contoh pengembangan destinasi wisata yang mengedepankan aspek ekonomi, sosial budaya, serta kelestarian lingkungan di Kepulauan Seribu,” ujar Muhammad Nurdin optimistis.

Tantangan besar ini disambut dengan komitmen tinggi oleh jajaran pemerintah setempat dan pemangku kepentingan terkait. Perubahan mendasar terus disiapkan demi mendongkrak kualitas fasilitas penunjang wisata sekaligus menjaga daya dukung alam.

Lurah Pulau Kelapa, Muhammad Adriansyah, menyampaikan bahwa pemeliharaan dan peningkatan fasilitas terus digenjot secara berkala sesuai dengan rencana masing-masing Unit Kerja Perangkat Daerah (UKPD). Fokus utama jangka pendek adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang krusial bagi ekosistem pariwisata.

“Dalam waktu mendatang akan ada peningkatan mesin Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau sistem penawar air laut dan BWRO untuk mendukung kebutuhan air bersih masyarakat serta wisatawan,” kata Muhammad Adriansyah menjelaskan.

Ia juga menambahkan bahwa sistem pengelolaan lingkungan akan dirombak menjadi lebih modern dan terintegrasi untuk mendukung penuh status desa wisata berkelanjutan. Langkah nyata yang akan segera dieksekusi adalah peningkatan kapasitas Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pulau Kelapa, yang nantinya disinergikan dengan rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup. Segala upaya pembenahan ini diharapkan menjadi fondasi kokoh yang mengukuhkan posisi Pulau Kelapa sebagai destinasi global yang tetap membumi dan lestari.

Menikmati liburan kini bukan lagi sekadar mencari tempat yang indah untuk berswafoto, melainkan tentang bagaimana perjalanan kita dapat berkontribusi positif bagi alam dan manusianya. Ketika sebuah destinasi seperti Pulau Kelapa berjuang merawat buminya, maka setiap jejak langkah kaki kita di sana akan menjadi bagian dari investasi kelestarian masa depan. Sudah siapkah Anda menjadi bagian dari perjalanan hijau ini? (Gdi)