WANITAINDONESIA.CO – Sebuah jarum suntik mungkin bisa menjadi tameng fisik yang kokoh melawan virus. Namun, di balik pelindung medis tersebut, ada aspek kemanusiaan yang kerap terlupakan dalam memerangi salah satu penyakit paling mematikan di dunia, yakni kanker serviks (leher rahim). Perlindungan terbaik ternyata tidak hanya bekerja di dalam laboratorium, melainkan tumbuh subur di dalam kehangatan keluarga dan lingkungan sosial yang saling mendukung.
Pakar Onkologi (oncologist) dari Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti, menegaskan bahwa langkah preventif (pencegahan) paling mutakhir tidak akan pernah bekerja optimal tanpa adanya ekosistem yang sehat di sekitar individu. Dalam sebuah diskusi hangat bersama media di Jakarta, Kamis, ia membagikan sudut pandang mendalam mengenai pentingnya menyelaraskan upaya medis dan kekuatan sosial.
“Tidak ada cara yang lebih efektif selain vaksinasi. Sebagai orang Indonesia, jika Anda memiliki anak baik laki-laki maupun perempuan, maka vaksinasi HPV sesuai anjuran pemerintah yang kini sudah digulirkan sejak usia sekolah adalah cara yang paling benar,” ujar Dr. See Hui Ti dengan penuh keyakinan.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa urusan kesehatan tidak melulu soal menebus resep atau mendatangi pusat kesehatan masyarakat. Dr. See Hui Ti menyoroti bahwa edukasi gaya hidup sehat dan anjuran vaksinasi akan menguap begitu saja jika seseorang tumbuh di lingkungan yang abai dan penuh tekanan.
Baginya, keputusan untuk membangun keluarga atau tinggal di tengah masyarakat yang peduli adalah fondasi kesehatan yang sesungguhnya. Komunitas yang sehat, saling menyemangati, dan memberikan rasa aman merupakan elemen krusial yang membuat seseorang mampu bertahan hidup lebih lama dan bahagia.
Lebih lanjut, pakar kanker tersebut juga menitikberatkan pentingnya menjaga kesehatan mental diri sendiri. Rasa bahagia dan perasaan aman secara psikologis dinilai menjadi modal utama agar tubuh mampu merespons segala bentuk pengobatan maupun tindakan pencegahan penyakit secara maksimal. Di era modern ini, pilihan hidup semakin beragam dan terbuka lebar bagi generasi muda. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan saat menginjak usia senja adalah keberadaan lingkaran pertemanan maupun keluarga yang siap mendampingi.
Langkah konkret di ranah medis saat ini sebenarnya telah dipermudah oleh pemerintah. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menyediakan vaksin Human Papillomavirus (HPV) secara cuma-cuma yang ditargetkan bagi anak perempuan usia sekolah dasar kelas lima dan enam. Melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah yang rutin digelar pada bulan Agustus dan November, anak-anak usia sebelas dan dua belas tahun akan mendapatkan dua dosis vaksin demi menekan angka fatalitas akibat kanker mematikan ini.
Pemerintah sendiri mematok target ambisius untuk mencapai cakupan imunisasi hingga sembilan puluh persen pada anak perempuan usia lima belas tahun di tahun 2030. Langkah besar ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam membebaskan generasi masa depan dari bayang-bayang kanker leher rahim yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi kesehatan masyarakat di Indonesia.
Melindungi diri dari penyakit bukan sekadar tentang seberapa sering kita mengunjungi dokter, melainkan bagaimana kita merawat kesehatan jiwa dan memilih lingkungan tempat kita bertumbuh. Mulailah hari ini dengan memeluk pola hidup sehat, memastikan buah hati mendapatkan hak vaksinasinya, dan ciptakan ruang hidup yang penuh energi positif demi masa depan yang lebih bugar serta bermakna. (Gdi)





