Menengok Serunya Kuliah Rasa Pesantren Moderen di UIN Malang

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kampus 3. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Suasana haru biru menyelimuti halaman kampus ketika ratusan orang tua melepas anak-anak mereka. Ada air mata yang tumpah, berbaur dengan debar dada para mahasiswa baru yang bersiap memasuki babak baru kehidupan. Namun, ini bukan sekadar hari pertama kuliah biasa. Di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, lembaran awal dunia belahan tinggi dimulai dengan sebuah petualangan spiritual yang unik, yakni wajib menetap di pesantren kampus selama satu tahun penuh.

Lewat Ma’had Al-Jamiah Sunan Ampel al-Ali (MSAA), kampus ini sukses mengawinkan sistem pendidikan tinggi dengan tradisi luhur pesantren. Langkah berani ini bahkan menuai apresiasi tinggi dari menteri-menteri yang berkunjung serta menyebutnya sebagai percontohan pendidikan yang sukses membentuk kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan intelektual (IQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) dalam menjawab tantangan global.

Kepala Pusat Ma’had Al-Jamiah UIN Malang, Dr. Ahmad Izzudin, M.HI., mengungkapkan bahwa gagasan integratif yang dirintis sejak tahun 2000 ini lahir agar pendidikan keagamaan menemukan efektivitasnya di era moderen. Pola ini pun kini telah diadopsi secara luas oleh berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) hingga madrasah di tanah air.

“UIN Malang punya gagasan untuk terus berinovasi dalam mengawinkan dua sistem pendidikan ini dalam satu institusi. Di Ma’had, mereka berada di habitat aslinya sehingga memiliki landasan (basic) yang kuat untuk hidup di lingkungan kampus dan perkotaan,” ujar Ahmad Izzudin.

Baca Juga :  Cara Hindari Keborosan Saat Kuliah

Menariknya, kehidupan di dalam Ma’had berjalan sangat inklusif dan disesuaikan dengan kemampuan awal sang mahasiswa. Ahmad Izzudin menjelaskan, mahasantri (mahasiswa santri) yang sudah memiliki pengalaman pesantren selama bertahun-tahun akan diarahkan ke kelas tingkat lanjut seperti tafsir atau kepenulisan.

Sebaliknya, bagi mereka yang belum bisa membaca Al-Quran sama sekali, pembimbingan akan dilakukan dengan sabar dari tingkat paling dasar tanpa mengganggu beban perkuliahan formal mereka. Sistem otomatis ini juga berlaku bagi mahasiswa asing maupun mahasiswa nonmuslim, dengan penyesuaian materi keagamaan yang menggandeng lembaga keagamaan terkait. Ke depan, sistem wajib asrama ini juga akan diterapkan penuh di Kampus 3 UIN Malang yang baru, sebuah kawasan yang sempat dijuluki sebagai “Kampus Eksotik” oleh Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan periode 2019–2024, Muhadjir Effendy.

Pendidikan satu tahun ini berpijak pada empat pilar utama, yaitu keagungan akhlak, kedalaman spiritual termasuk kesehatan mental (mental health), keluasan ilmu, serta kematangan profesional yang menuntut mahasantri adaptif terhadap teknologi. Sebagai penanda kelulusan dari Ma’had, selain evaluasi khidmat berupa wisuda Al-Quran dalam acara Mujahadah Kubro , para mahasantri juga menggelar pesta perpisahan atau inaugurasi (muwadaah) yang dikemas penuh kreativitas.

Kepala Pusat Ma’had Al-Jamiah UIN Malang, Dr. Ahmad Izzudin, M.HI. gdi

Staf Penata Layanan Operasional Ma’had Al-Jamiah UIN Malang, Mochamad Agus Nurcahyo, S.Psi., menekankan bahwa asrama ini adalah kawah candradimuka untuk membangun karakter. Pada tahun ini, pentas kreasi muwadaah mengusung tema Horizon yang bermakna titik pertengahan garis cakrawala (ufuk) , sebuah refleksi rasa syukur atas kesempatan mereguk ilmu umum sekaligus agama.

Baca Juga :  Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam UIN Salatiga Pelajari Program Keluarga Berkualitas di Kemendukbangga/BKKBN

“Melalui tema ini, teman-teman tim kreatif ingin memberikan testimoni dan kenangan indah mengenai perjalanan mahasantri, mulai awal masuk tinggal di Ma’had, momen haru diantar orang tua, drama dibangunkan subuh, hingga kelulusan yang terekam dalam bentuk video cuplikan pendek (trailer) di media sosial,” kata Mochamad Agus Nurcahyo.

Guna memperluas wadah kreativitas tersebut, pihak Ma’had menangkap peluang sinergi dengan Lumbung Coin Eco-Resort untuk mewujudkan ekosistem digital yang mampu menggali bakat mahasantri agar tetap produktif. Sinergi ini sejalan dengan visi UIN Malang untuk melahirkan generasi ulama yang intelek dan kaum intelek yang berjiwa ulama. Dari sinilah diharapkan muncul filosof-filosof muda masa kini yang mencerminkan kejayaan Dinasti Abbasiyah, layaknya Al-Farabi yang menguasai metafisika dan politik, Ibnu Khaldun sang bapak sosiologi yang hafal Al-Quran sejak dini, hingga Ibnu Sina sang pelopor ilmu kedokteran.

Direktur Lumbung Coin Eco-Resort, Rosantika, menilai bahwa masa satu tahun di Ma’had memiliki konsep yang menyerupai pelatihan intensif (bootcamp) untuk mengasah minat. Melalui bekal karakter itu, lulusan Ma’had diharapkan memiliki ketahanan moral dan adaptasi digital yang kuat di luar asrama. Sebagai kelanjutan kemandirian mahasantri, Lumbung Coin menawarkan program pelatihan intensif (bootcamp) praktis yang dapat membantu mahasiswa menghasilkan pendapatan mandiri, bahkan hingga mampu membiayai rumah kos mereka sendiri.

Baca Juga :  BSI Maslahat Dukung Pertumbuhan Ekonomi Syariah yang Inklusif Lewat Kemandirian Ekonomi Pesantren

Akomodasi alternatif ini dirancang ramah muslim (muslim-friendly) dengan fasilitas yang selaras dengan nilai spiritual tanpa menepikan budaya lokal. Konsep ini sengaja dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan generasi Z yang mendambakan tempat singgah unik, estetik, berkarakter, namun dengan biaya yang tetap terjangkau.

Lebih dari sekadar memanjakan mata yang layak dibagikan ke media sosial (instagramable), resort ini berkomitmen pada keberlanjutan lingkungan melalui penyediaan fasilitas kendaraan ramah lingkungan. Guna mendukung produktivitas para pekerja digital dan aktivitas pelatihan, infrastruktur seperti konektivitas Wi-Fi yang stabil, ketersediaan stopkontak yang melimpah di setiap sudut, serta pencahayaan alami yang optimal telah disiapkan dengan matang. Tempat ini memosisikan diri sebagai laboratorium gaya hidup anak muda sekaligus ruang alternatif yang membumi, sunyi, dan kaya akan koneksi emosional.

Perpaduan antara kokohnya tradisi spiritual pesantren dan tajamnya kesiapan menghadapi era digital terbukti mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral. Menatap masa depan dengan fondasi karakter yang kuat seperti ini tentu membuat kita optimis bahwa kemajuan teknologi di tangan generasi muda akan tetap membawa kemaslahatan yang humanis. Mari kita dukung terus ruang-ruang bertumbuhnya anak muda yang seimbang antara ilmu dan adab! (Gdi)