Menakar Makna Hijrah Menuju Indonesia Emas 2045

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno memperingati memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, di Taman Bendera Pusaka, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/6/2026). HO- Pemprov DKI Jakarta.

WANITAINDONESIA.CO – Pergantian kalender keagamaan bukan sekadar ritual tahunan yang berlalu tanpa bekas. Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah kini menjadi ruang refleksi bersama yang krusial untuk memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam membangun Indonesia yang berintegritas, berkeadilan, dan berkemajuan di tengah derasnya arus modernisasi global.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Asep Saepudin Jahar, menyatakan bahwa peristiwa hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah merupakan tonggak sejarah peradaban yang besar. Perjalanan tersebut tidak boleh hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, melainkan sebuah transformasi sosial untuk melahirkan masyarakat yang adil, inklusif, produktif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Langkah transformasi ini menjadi kian mendesak karena Indonesia sedang memasuki era baru yang dinamis. Bangsa ini dihadapkan pada tantangan global yang kompleks, mulai dari ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga disrupsi teknologi seperti kehadiran kecerdasan artifisial (artificial intelligence).

Baca Juga :  BKKBN Siap Jadi Kementerian Tuntaskan Stunting dan Kemiskinan

“Makna hijrah yang sesungguhnya adalah keberanian untuk berubah menjadi lebih baik. Semangat itulah yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Profesor Asep Saepudin Jahar.

Semangat perubahan ini harus menyentuh sektor tata kelola publik demi mewujudkan transparansi dan profesionalisme pelayanan. Di bidang ekonomi, penguatan hilirisasi industri yang sedang berjalan diharapkan mampu menjadi fondasi kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Sementara itu, dunia pendidikan memegang kendali atas kualitas sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan otomatisasi digital. Menurut Profesor Asep Saepudin Jahar, perguruan tinggi harus menjadi pusat riset dan inovasi yang tidak hanya melahirkan lulusan unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas tinggi serta tanggung jawab sosial demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Langkah nyata dalam menerjemahkan nilai-nilai hijrah juga ditunjukkan oleh Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Guna menyambut tahun baru ini, institusi tersebut meluncurkan rangkaian program sosial-keagamaan bertajuk Peaceful Muharam 1448 Hijriah dengan tema Menebar Maslahat Menguatkan Umat. Rangkaian kegiatan yang dihadirkan menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari santunan anak yatim dan penyandang disabilitas, nikah massal, hingga gerakan bersih-bersih masjid.

Baca Juga :  Yandri Susanto, Menteri Desa yang Optimis Wujudkan Indonesia Emas 2045 Melalui Pembangunan Desa

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Profesor Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa seluruh program dirancang untuk memperkuat kemaslahatan umat melalui pendekatan spiritual, kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Agama harus hadir secara nyata di tengah masyarakat melalui kontribusi konkret terhadap berbagai persoalan sosial, bukan sebatas ritual formal. Dalam menggerakkan program ini, para penyuluh agama di berbagai daerah dikerahkan sebagai agen perubahan sosial yang menjembatani program dengan kebutuhan riil masyarakat.

Kemeriahan menyambut tahun baru ini juga terasa di tingkat regional. Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta menggelar Festival Muharam di Taman Bendera Pusaka, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Uniknya, tradisi pawai obor yang identik dengan momen ini dimodifikasi menggunakan obor elektrik sebagai bentuk adaptasi cuaca dan pertimbangan faktor keamanan tanpa mengurangi nilai filosofisnya.

Baca Juga :  Ade Fitrie Kirana Bicara Tentang Hijrah, Amanah, dan Menjaga Keberkahan di Setiap Peran

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan bahwa festival ini digelar di ruang terbuka sebagai wujud syukuran bersama sekaligus mengaktifkan kembali taman kota sebagai ruang interaksi publik yang positif. Momen pergantian tahun ini sekaligus menjadi pijakan bagi seluruh warga Jakarta untuk bersiap melakukan pergerakan ke arah yang lebih baik, terlebih kota Jakarta akan memasuki usia ke-500 pada tahun depan. Pemerintah daerah mengajak masyarakat untuk memperkuat sinergi dan merawat lingkungan guna menyongsong transformasi Jakarta menjadi kota global yang tangguh.

Rangkaian refleksi, aksi sosial, dan perayaan simbolis dari berbagai pihak ini menegaskan bahwa esensi tahun baru adalah momentum kolektif untuk bergerak maju. Ketika semua pihak mampu bersinergi, langkah menuju perubahan bangsa yang berdaulat bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah kepastian yang sedang diwujudkan bersama. (Gdi)