
WANITAINDONESIA.CO – Transformasi digital yang begitu cepat telah mengubah pola interaksi dalam keluarga. Gawai kerap menjadi pusat perhatian, bahkan di ruang-ruang yang seharusnya menghadirkan percakapan dan kehangatan. Tidak sedikit orang tua yang merasakan kedekatan dengan anak perlahan memudar, meski berada di bawah atap yang sama.
Di bulan Ramadan yang sarat nilai spiritual, situasi ini menjadi refleksi penting. Momentum yang seharusnya mempererat hubungan emosional keluarga justru berpotensi teralihkan oleh layar dan notifikasi yang tak henti berbunyi.
Ade Fitrie Kirana, artis dan pebisnis yang kini kian dikenal sebagai aktivis sosial yang konsisten memperjuangkan hak perempuan dan anak, menilai bahwa Ramadan merupakan kesempatan emas untuk membangun kembali kualitas kebersamaan dalam keluarga. Menurutnya, kedekatan tidak lahir dari durasi kebersamaan semata, melainkan dari perhatian yang utuh.

“Hubungan orang tua dan anak tidak dibangun dari seberapa sering kita berada di rumah, tetapi dari seberapa hadir hati kita saat bersama mereka,” ujar Ade Fitrie Kirana dalam sebuah forum diskusi keluarga.
Ade Fitrie Kirana menegaskan bahwa aktivitas non-digital selama bulan puasa dapat menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali dialog yang hangat. Momen menyiapkan sahur, berbincang ringan menjelang berbuka, atau membaca kisah inspiratif sebelum tidur dapat menjadi ruang pembelajaran nilai kesabaran, empati, dan kebersamaan.
Menurut Ade Fitrie Kirana, anak membutuhkan pengalaman emosional yang nyata, bukan sekadar hiburan visual. “Anak-anak akan mengingat rasa, bukan layar. Mereka akan mengingat tawa saat menyiapkan hidangan berbuka, atau percakapan sederhana yang membuat mereka merasa didengar,” tuturnya.
Ade Fitrie Kirana juga menekankan bahwa pembatasan penggunaan gawai bukanlah bentuk pengekangan, melainkan langkah bijak untuk menciptakan ruang interaksi yang lebih berkualitas.

Ramadan, kata Ade Fitrie Kirana, adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan kembali makna kebersamaan yang autentik. “Kita tidak sedang melawan teknologi. Kita hanya sedang mengembalikan prioritas. Ada momen yang tidak boleh tergantikan oleh layar, terutama momen yang membentuk kedekatan keluarga,” tambahnya.
Dengan pendekatan yang lebih sadar dan terarah, Ade Fitrie Kirana berharap keluarga Indonesia mampu menjadikan Ramadan sebagai titik balik untuk memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Kedekatan yang terbangun dari interaksi nyata diyakini akan membentuk karakter anak yang lebih hangat, percaya diri, dan memiliki ketahanan emosional. “Ketika anak merasa diperhatikan dan dihargai, ia tumbuh dengan rasa aman. Dari rasa aman itulah lahir pribadi yang kuat dan penuh empati,” tutup Ade Fitrie Kirana. (GIE)




