
WANITAINDONESIA.CO – Setiap kali kita membuka media sosial atau menyalakan televisi, gambar anak-anak dan ibu-ibu di Gaza seringkali membuat hati kita terenyuh. Namun, tahukah Sahabat Wanita, bahwa apa yang kita lihat bukan sekadar rekaman peristiwa, melainkan sebuah “bingkai” yang sengaja disusun?
Dalam seminar internasional bertajuk “Media Framing of Palestine and Global Audience Impact” yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), para pakar mengungkap bagaimana media sebenarnya “menyetir” perasaan dan opini kita terhadap krisis kemanusiaan di Palestina.
Termasuk yang menjadi penyebab kita secara tidak sengaja menangis saat melihat berita Palestina. Amin Sabana, Komisioner KPI sekaligus dosen UMJ, menjelaskan bahwa media di Indonesia memiliki cara unik dalam menyampaikan berita Palestina. Mereka banyak menggunakan kerangka sentuhan kemanusiaan (human interest frame).
Media kita fokus pada penderitaan warga sipil, perjuangan ibu-ibu di pengungsian, dan ketegaran anak-anak Gaza. Inilah yang membangun ikatan emosional yang kuat antara masyarakat Indonesia dengan Palestina,” ujarnya. Media Indonesia tidak hanya menyajikan angka korban, tapi menyajikan “nyawa” dan “cerita” di balik angka tersebut.

Perang Narasi
Dr. Khadir Aljamal dan Dr. Sami Akaila, akademisi langsung dari Gaza, mengingatkan para perempuan Indonesia untuk lebih kritis. Mereka menyoroti perbedaan tajam antara media Barat dan realitas di lapangan.
“Dunia saat ini sedang berperang narasi. Seringkali, penderitaan di Gaza hanya dianggap sebagai statistik keamanan di beberapa media asing, padahal ini adalah soal hak dasar manusia untuk hidup,” tegas mereka.
Bagi kita sebagai ibu yang menjadi “gerbang informasi” di rumah, sangat penting untuk memahami bahwa pemilihan kata seperti genocide (genosida) atau occupation (penjajahan) sangat berpengaruh pada bagaimana anak-anak kita memahami keadilan di masa depan.
Wakil Ketua Dewan Pers, Toto Suryanto, menegaskan bahwa bagi pers Indonesia, isu Palestina adalah misi kemanusiaan yang sakral. Integritas jurnalis kita diuji untuk tetap menyuarakan kebenaran di tengah sensor global. Dukungan luar biasa dari masyarakat Indonesia—terutama para wanita yang aktif menyebarkan kepedulian di komunitas—menjadi bahan bakar bagi jurnalis untuk terus melaporkan kondisi jujur dari lapangan.
Tips Pembaca Wanita Cerdas
Cek sumber, jangan mudah terprovokasi oleh potongan video pendek tanpa sumber jelas.
Cari berita yang tidak hanya bicara soal “siapa menyerang siapa”, tapi juga dampak kemanusiaannya.
Gunakan berita Palestina sebagai sarana mengajarkan nilai empati dan keadilan kepada si kecil sejak dini.
Seminar ini ditutup dengan pesan kuat dari Dr. Tria Patrianti bahwasanya Media adalah alat. Jika digunakan dengan benar, ia bisa menjadi senjata terkuat untuk membela mereka yang tertindas.
Mari kita terus menjadi wanita yang cerdas dalam mengonsumsi media, demi masa depan dunia yang lebih damai. (Gdi)




