Melodi di Balik Jeruji: Sangkar Burung Lokal Jadi Simbol Kebangkitan Ekonomi Rakyat

Sumber gambar kemedag. (Sumber Gambar: Kemendag)

WANITAINDONESIA.CO – Deretan sangkar burung berukir halus mencuri perhatian di Festival Lomba Burung Berkicau yang digelar di lapangan Kementerian Perdagangan, Minggu (3/5). Di tengah semarak para pecinta burung kicau, karya-karya perajin lokal tampil bukan sekadar sebagai perlengkapan hobi, melainkan sebagai produk seni bernilai ekonomi tinggi.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, tampak terpikat saat mengamati detail ukiran pada salah satu sangkar kayu yang dipamerkan. Festival tersebut menjadi gambaran bagaimana ekosistem hobi burung berkicau mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat dari berbagai sektor.

Bagi Nurhasanah Dewi, pemilik Kios Fortuna di Pasar Pramuka, Jakarta, setiap sangkar memiliki nilai lebih dari sekadar tempat bagi burung peliharaan. Sangkar-sangkar yang ia pasarkan merupakan hasil kerja keras para perajin dari berbagai daerah seperti Bandung, Semarang, hingga Sidoarjo.

“Setiap sangkar dibuat dengan karakter yang berbeda sesuai jenis burungnya. Burung murai memiliki standar sangkar tersendiri, begitu juga cucak hijau. Semua dibuat agar burung merasa nyaman,” ujar Nurhasanah.

Melalui kiosnya, Nurhasanah menyediakan berbagai jenis sangkar, mulai dari model mentahan bernuansa natural hingga sangkar siap pakai dengan ukiran artistik. Ia menyebut minat masyarakat terhadap hobi burung berkicau mengalami peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir.

“Tiga tahun belakangan, minat terhadap burung semakin meningkat. Kesadaran masyarakat terhadap pelestarian alam juga ikut mendorong tren burung kicau mania menjadi lebih semarak. Dampaknya sangat terasa terhadap penjualan kami,” katanya.
Peningkatan tren tersebut membuat pasar Kios Fortuna tidak lagi terbatas di Jakarta.

Kini, pelanggan datang dari berbagai daerah seperti Batam hingga Medan. Kondisi itu turut membuka peluang ekonomi bagi para perajin, peternak, produsen pakan, hingga pedagang burung.
Namun demikian, Nurhasanah mengaku masih menghadapi kendala dalam memperluas pasar ke luar negeri. Menurutnya, tingginya biaya pajak ekspor menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha kecil. “Kesulitan kami saat ini kalau ingin menjual ke luar negeri, pajaknya masih terlalu tinggi,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dapat terus memberikan dukungan terhadap pelaku usaha dalam ekosistem hobi burung berkicau, termasuk para perajin lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari rantai ekonomi rakyat.

“Saya berharap pemerintah terus memperhatikan pelestarian alam, perdagangan, dan para perajinnya agar seluruh siklus usaha ini bisa berjalan dengan baik dan berkelanjutan,” tutur Nurhasanah.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai hobi burung berkicau bukan sekadar hiburan masyarakat, melainkan salah satu penggerak ekonomi rakyat yang memiliki efek berantai cukup besar.

“Kalau lomba burung kicau semakin ramai, dampaknya akan dirasakan banyak sektor. Peternak bertambah, pengembangbiakan meningkat, pembuat sangkar berkembang, pabrik pakan bergerak, hingga penjual burung ikut merasakan manfaatnya. Kami ingin nilai ekonomi dari hobi burung ini terus meningkat,” jelasnya.

Festival burung berkicau tersebut menjadi bukti bahwa aktivitas hobi masyarakat dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang mendukung usaha kecil dan memperkuat karya perajin lokal Indonesia. (bri)