
WanitaIndonesia.co, Jakarta – Keadilan sosial tetap terus diperjuangkan.
Dengan semangat Peringatan Hari Pancasila Alunjiva Indonesia yang merupakan gerakan sosial dengan komitmen untuk mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif, dan berdaya
meluncurkan program SheAblepreneur.
Program merupakan hasil kolaborasi lintas sektor, untuk mendorong pelaku UMKM perempuan, dan individu disabilitas menjadi penggerak perubahan.
Keadilan sosial menjadi cita-cita luhur, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama, adil untuk meraihnya. Cakupannya meliputi akses pendidikan, pelatihan serta penghidupan yang layak. Disayangkan hal ini belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh para pelaku UMKM Perempuan, yang menurut Data BPS 2024 jumlahnya mendominasi populasi UMKM di Indonesia (64,5%).
Nicky Clara, Disabilitas, Founder Alunjiva Indonesia menyampaikan, “Di tengah budaya patriarki yang kuat, UMKM Perempuan mendapat beban ganda seperti dibebankan untuk mengurus rumah tangga. Lainnya stigma perempuan yang aktif bertentangan dengan norma sosial. Selain muncul anggapan perempuan tak memiliki kemampuan serta pengalaman yang diperlukan untuk memimpin usaha.”
Nicky menambahkan, “Pada masa sekarang apapun kondisi setiap perempuan, sebaiknya harus berdaya, terutama perempuan disabilitas.”
“Walau berdaya, pelaku UMKM perempuan menghadapi banyak tantangan. Pengalaman saya ketika melakukan pitching dengan investor, mereka meragukan kemampuan perempuan dalam melanjutkan serta membesarkan usaha, “jelasnya.
Nicky menambahkan, “Sebagian besar khawatir setelah berumah tangga mereka akan menjadi tak produktif, tak mampu membesarkan usaha serta meragukan aspek sustainability UMKM perempuan. Ini yang seringkali membuat saya gemas sendiri.
Lewat program SheAblepreneur kami yakin setiap masalah pasti ada solusi.”
“Pun tak semua perusahaan memiliki fokus kepada UMKM perempuan serta individual disabilitas. Saya dan tim kerap mendatangi perusahaan, mengetuk dari pintu ke pintu, namun sayangnya pucuk pimpinan yang kami temui, kurang memahami konsep pemberdayaan bagi perempuan, dan individual disabilitas, “ucapnya.
Lebih lanjut Nicky menceritakan upaya yang telah dilakukan Alunjiva, dalam mengatasi beragam kendala, yang dialami oleh pelaku UMKM perempuan.
Utamanya berperan multitasking sebagai isteri, dan ibu yang tak mudah serta sangat melelahkan. Ditambah peran sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Saking lelahnya, mereka kesulitan untuk menembus pasar, memasarkan produknya. Sulit berinovasi. Kendala lain bagi individual disabilitas, mereka umumnya tak memiliki pendidikan formal.
“Tantangan yang kemudian kami pecahkan lewat Women Support Women, yang mana pelaku UMKM perempuan dapat mempekerjakan perempuan disabilitas yang mayoritas merupakan kaum ibu. Hal ini menjadi solusi jitu saat perempuan disabilitas, sulit mengakses sektor lapangan kerja formal, “terang perempuan dengan limpahan energi kreatif.

Foto : Istimewa.
Berangus Stigma Muliakan Perempuan
Studi Boston Consulting Group & Stellar Women, 73% perempuan memiliki keterbatasan akses terhadap layanan mentoring. Juga kendala lainnya seperti keterbatasan pengetahuan dalam menjalankan bisnis, minimnya akses terhadap jaringan atau komunitas dialami UMKM perempuan disabilitas.
Jonna Aman Damanik, Komisioner Komnas Disabilitas RI berbagi pendapat, “Di saat wirausaha menjadi peluang besar untuk mandiri secara ekonomi, dibandingkan untuk mendapatkan pekerjaan formal, para pelaku UMKM disabilitas mengalami diskriminasi berlapis, terkait gender serta kondisi disabilitasnya. Mereka berada dalam posisi yang lebih rentan, dibandingkan UMKM perempuan non disabilitas.”
Menurut Jonna ada beragam tipe disabilitas, salah satunya disabilitas mental. Mereka itu sebenarnya pintar-pintar, tapi karena mengalami gangguan kejiwaan seringkali kemampuan mereka diragukan.
Cyrcle hanya fokus pada kekurangan tapi tak berusaha memberi ruang serta support system yang baik, “keluh Jonna.
Jonna melanjutkan, “Sebagai pribadi mumpuni,
mereka harus mahir menyembunyikan ihwal gangguan kejiwaan tersebut rapat-rapat, walau sejatinya kondisi mereka sudah dalam keadaan baik. Namun ada pula yang lantang, mengakui karena sudah memiliki kekuatan mental, dan pertahanan lain seperti memiliki skills yang dibutuhkan.”
“Coba bagi yang belum siap, saat mereka mengakui, atau rahasia kesehatan mentalnya tersebut diketahui oleh lingkungan kerja, habislah dia.
Dikarenakan banyak sangsi sosial menanti seperti dikucilkan, dibully bahkan dipecat dari pekerjaan, menjadi konsekuensi yang harus diterima teman-teman, “ujarnya.
“Bagaimana dengan disabilitas yang dikarenakan penyakit kusta?. Stigma yang dibangun tak kalah kejam. Awam banyak yang bergidik, takut membeli manakala mengetahui ada produk UMKM yang diproduksi, oleh teman-teman penderita kusta, “imbuh Jonna.
“Hal lain yang menjadi sangat penting, kurangnya
mentor dari kalangan disabilitas hingga pelatihan kewirausahaan yang bersifat inklusif. Hingga sekarang jumlahnya masih sangat terbatas, “ucapnya.
Kondisi tersebut mendorong Alunjiva Indonesia yang menjadi bagian dari Setara Berdaya Group menjalankan rangkaian program untuk meningkatkan kapasitas, dan kapabilitas individu disabilitas di Indonesia. Lewat kolaborasi, edukasi, pemberdayaan serta support system yang memadai.
Hingga 2024,Setara Berdaya Group telah memberdayakan 62.450 perempuan, disabilitas, pemuda serta keluarga marjinal di berbagai wilayah di Indonesia. Dukungan tersebut telah meningkatkan omset penerima manfaat rata-rata 30%.

Foto : Istimewa.
Dukungan Kementerian UMKM, Terkait Wirausaha Perempuan
Christina Agustin, A. P. i., M.M, Asisten Deputi Ekosistem Bisnis Wirausaha, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah RI mengatakan, “Kami mendukung penuh inisiatif SheAblepreneur yang selaras dengan program Kementerian UMKM dalam menumbuhkan wirausaha, dan mempercepat pencapaian target peningkatan rasio kewirausahaan di tahun 2045 sebesar 8%.”
Christina menambahkan, “Untuk mencapainya dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, sinergi serta dukungan nyata dari semua pihak, bagi pengusaha perempuan, dan disabilitas. Berharap program mendorong lahirnya kolaborasi-kolaborasi baru yang memiliki semangat yang sama.”
“Program SheAblepreneur sangat menarik, unik yang menampilkan kekuatan perempuan dari kolaborasi non disabilitas dengan disabilitas, dalam kiprah mereka sebagai pelaku UMKM, yang mana sektor UMKM diibaratkan sebagai tulang punggung perekonomian bangsa, “imbuhnya.
“Saat ini Kementerian UMKM tengah mengajukan rancangan peraturan Presiden, terkait wirausaha perempuan. Jika ini disetujui oleh Presiden, tentu akan berdampak masif bagi pelaku UMKM perempuan. Seperti mengurangi ketidaksetaraan gender, mendorong inovasi, pemberdayaan ekonomi, menciptakan lapangan kerja serta manfaat lainnya, “terang Christina.
Kristy Nelwan, Head of Communication & Chair of Equity, Diversity & Inclusion (ED&I) Board Unilever Indonesia memberikan tanggapan, “Kolaborasi kami berlandaskan pada misi bersama untuk mewujudkan masyarakat yang lebih adil, beragam, dan inklusif. Ihwal keadilan gender, kami memberikan kesempatan yang sama, perlakuan adil, dan support yang sesuai dengan kemampuan unik dari setiap perempuan.”
“Sisi keadilan individu disabilitas, program akan menciptakan masyarakat yang ramah disabilitas serta membuka peluang perempuan disabilitas untuk membuktikan kemampuan mereka, dalam berwirausaha tanpa keraguan, “ujarnya.
Kristy menambahkan, “Untuk penghapusan diskriminasi, dan stigma, kami memberikan kesempatan yang adil, bagi semua UMKM perempuan, dan individu disabilitas untuk melawan diskriminasi, dan stigma.”

Foto : Istimewa
Program hadir dalam bentuk mentoring, dan pelatihan kewirausahaan intensif untuk 75 UMKM perempuan, dan individu disabilitas. Program diselenggarakan di sejumlah kota seperti Tangerang, Bandung, dan Yogyakarta selama Juni – September 2025. Bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, dan pemanfaatan digital serta keuangan usaha.
Meningkatkan nilai kesetaraan gender pada masyarakat, terkait pemberdayaan ekonomi terhadap perempuan serta meningkatkan pendapatan ekonomi pelaku UMKM.
Program juga telah memberdayakan 80% dari jumlah penerima manfaat melalui pengembangan kapasitas, dan kapabilitas. Serta membuka kesempatan magang di UMKM perempuan kepada disabilitas.
Di masing-masing kota, pelatihan akan diikuti oleh 15 perempuan disabilitas serta non disabilitas, dan 10 perempuan disabilitas yang baru ingin menjajaki dunia wirausaha. Pelatihan dilakukan secara daring, dan luring lewat rangkaian modul yang sangat adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pelaku UMKM seperti Business Model Canvas, Literasi Digital, Literasi Keuangan, Media Sosial, dan pengenalan AI.
Tertarik untuk bergabung dalam Program SheAblepreneur? Tampilkan produk terbaik serta performamu yang handal untuk melewati tahapan kurasi serta wawancara oleh Kak Nicky Clara bersama tim. Materi yang ditanyakan pada saat wawancara dibocorkan oleh Nicky, salah satunya bagaimana upaya calon peserta untuk memetakan bisnis mereka ke depan, dari beragam permasalahan yang ada.
Selain upaya berkelanjutan untuk memasarkan produk.
“Kami tak mau pelaku UMKM itu hanya gemar berlatih, belajar tapi mereka juga harus punya kompetensi sebagai penjual, “pungkas Nicky.




