
WANITAINDONESIA.CO – Dunia penyiaran (broadcasting) tanah air kembali diselimuti awan duka yang mendalam. Salah satu pionir sekaligus legenda layar kaca Indonesia, Teddy Resmi Sari, diinformasikan telah mengembuskan napas terakhirnya pada Senin bada subuh dalam usia 90 tahun. Sosok bersahaja yang akrab disapa Kak Teddy ini bukan sekadar pembaca berita biasa; ia merupakan saksi hidup sekaligus pelaku sejarah yang mengawal perjalanan Televisi Republik Indonesia (TVRI) sejak pertama kali mengudara pada dekade 1960-an.
Kepergian mendiang meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarga besar, tetapi juga bagi generasi pemirsa televisi era 1970-an yang tumbuh bersama tuntunan edukatifnya. Selama masa baktinya yang membentang lebih dari tiga dekade, ia tidak hanya dikenal sebagai pembaca berita (news reader) yang lugas, melainkan juga produser (producer) serta penulis naskah (script writer) yang andal. Salah satu legasi terbesarnya adalah kepiawaiannya saat memandu program ikonik “Cerdas Cermat” anak-anak dan “Panorama Remaja” yang menjadi standar emas tayangan edukasi hingga saat ini.
Putri ketiga dari sastrawan legendaris dan pujangga angkatan Pujangga Baru, Sanusi Pane, ini memulai jejak komunikasi publiknya dari dunia radio. Sebelum mendedikasikan diri sepenuhnya di TVRI, ia menempa ketajaman komunikasinya sebagai penyiar Radio Republik Indonesia (RI) bersanding dengan penyiar legendaris lainnya seperti Alex Leo. Darah seni dan sastra yang mengalir kuat dari sang ayah membuat setiap narasi yang dibawakannya selalu terasa hidup, berbobot, dan menginspirasi banyak penyiar generasi setelahnya.
Pernyataan resmi mengenai kepergian sang legenda disampaikan secara langsung oleh putra almarhumah, Audy Mirza Alwi, yang juga merupakan mantan Redaktur Foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara yang kini telah purnatugas. Audy menuturkan bahwa sang ibunda meninggal dengan tenang setelah menuntaskan misi panjangnya sebagai ibu dan pendidik bangsa lewat dunia penyiaran. Almarhumah berpulang dengan meninggalkan dua orang putri dan dua orang putra yang kini seluruhnya telah tumbuh dewasa serta mandiri membina keluarga masing-masing.
“Ibu adalah cerminan dedikasi yang tak pernah padam. Bahkan di masa tuanya, ketika beliau memilih tinggal berdua bersama adik perempuan saya yang paling kecil, perhatiannya terhadap perkembangan dunia komunikasi dan penyiaran di Indonesia tidak pernah berkurang,” ungkap Audy Mirza Alwi dengan nada penuh penghormatan saat memberikan keterangan terkait wafatnya sang ibunda.
Kepergian perintis penyiaran ini melepaskan kerinduan publik pada era keemasan televisi yang mendidik, santun, dan sarat akan nilai kemanusiaan. Jenazah almarhumah Teddy Resmi Sari saat ini telah dikebumikan dengan khidmat di tempat peristirahatannya yang terakhir, yakni di Taman Pemakaman Islam RW 07, Kampung Tipar, Cimanggis, Kota Depok. Selamat jalan Kak Teddy, dedikasi dan suara jernihmu akan selalu abadi menjadi fondasi utama sejarah penyiaran di Indonesia. (Gdi)




