
WANITAINDONESIACO – Di usia 20 tahun, Ade Mardiah Hayati, S.E., M.M.Par berdiri di balik meja resepsionis. Posisi yang bagi banyak orang hanyalah titik awal. Namun bagi Ade, itu adalah pijakan pertama dari sesuatu yang lebih besar.
Ade tidak datang dengan latar belakang pendidikan tinggi di bidang perhotelan. Ia juga tidak berada di jalur yang mudah. Tetapi sejak awal, ia sudah memahami satu hal yang jarang disadari banyak orang.
“Berkarier itu bukan sekadar bekerja. Harus ada tujuan jangka panjang, dan itu harus kita miliki sendiri.” ujar Ade.
Cara pandang itu yang membuat langkahnya berbeda. Dan hasilnya, dalam waktu empat tahun, ia sudah berada di level Department Head. Sepuluh tahun kemudian, ia memimpin sebagai General Manager.
Menolak Zona Nyaman
Ya! Alih-alih bertahan di satu tempat, Ade memilih terus bergerak. Ia berpindah, bukan untuk lari, tetapi untuk bertumbuh.
Ia pernah bekerja di jaringan Horison Jakarta dan Bandung yang kuat di segmen MICE, kemudian di Imperium Hotel dengan konsep entertainment, hingga BGG Golf Resort yang berfokus pada resort dan golf.
Langkah-langkahnya ini memperluas pemahamannya terhadap berbagai model bisnis perhotelan.
“Saya mengenal karakter saya. Kalau sudah mencapai sesuatu, biasanya mulai jenuh. Jadi saya menghindari zona nyaman dan mencari tantangan baru.” Tegasnya.
Pengalaman tersebut menjadi bekal saat ia menjabat sebagai General Manager di beberapa hotel, di antaranya Bumi Sawunggaling ITB, Hotel Serena, Hotel Kembang, Cassadua, dan Hotel Novena. Ia menjalankan peran tersebut selama kurang lebih 12 tahun di lima properti berbeda.

Menghadapi Tantangan Profesional dan Personal
Dalam prosesnya, Ade menghadapi tantangan yang cukup nyata. Latar belakang pendidikan D1 Perhotelan membuatnya kerap diremehkan, terutama saat harus berhadapan dengan praktisi dari institusi ternama.
“Tantangan itu ada. Tapi saya belajar cepat, bukan hanya yang terlihat, tapi juga yang tidak tertulis,” kenang Ade.
Selain itu, ia juga menjalani peran sebagai ibu dan profesional secara bersamaan. Tantangan semakin besar ketika pada usia 31 tahun ia harus menjadi single parent dengan dua anak yang masih kecil.
“Dinikmati, dihadapi, dan disyukuri,” tambahnya.
Dalam kondisi tersebut, ia tetap melanjutkan kariernya tanpa jeda panjang, sekaligus memastikan anak-anaknya tetap tumbuh dan berkembang.
Strategi Pengembangan Diri
Ade menjalankan beberapa pendekatan yang konsisten dalam membangun kariernya. Ia menjaga ritme perpindahan posisi, memilih lingkungan kerja yang beragam, dan memastikan dirinya terus belajar melalui pelatihan maupun sertifikasi.
“Saya selalu memastikan tetap produktif, bukan sekadar sibuk,” lanjut Ade.
Komitmen terhadap pengembangan diri ini membuatnya dikenal sebagai sosok yang aktif dalam peningkatan kompetensi, bahkan mendapat julukan sebagai pejuang sertifikasi di lingkungannya.

Peran Profesional Saat Ini
Setelah lebih dari satu dekade di posisi General Manager, Ade mengembangkan perannya ke bidang yang lebih luas. Saat ini, ia aktif sebagai auditor pariwisata di LSUP Karsa Bhakti Persada, asesor kompetensi di LSP Pariwisata Bhakti Persada, instruktur swasta di bawah Kemnaker RI, dosen vokasi, serta mediator non hakim.
Ia juga mendalami bidang pengembangan individu seperti NLP dan graphology sebagai bagian dari pendekatan profesionalnya.
Saat ini, ia memiliki fleksibilitas lebih dalam mengatur waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tanpa meninggalkan komitmen untuk terus berkembang.
Perjalanan Ade Mardiah Hayati menunjukkan bahwa karier dapat dibangun secara sistematis melalui perencanaan, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi.
Ia tidak hanya mencapai posisi puncak di industri perhotelan, tetapi juga berhasil mengembangkan perannya ke berbagai bidang profesional yang relevan.
Ketika ditanya tentang kesan atas perjalanan kariernya, ia pun menutup wawancara dengan satu kalimat yang penuh arti.
“Being happy and fulfilled. Merasa bahagia dan bermanfaat,” pungkas Ade. (GIE)




