Koneksi Bawah Tanah Senayan, Solusi Macet dan Ruang UMKM Baru

Kepadatan di lampu lalulintas penyeberangan yang menghubungkan dua mal di Senayan, Pemprov DKI Jakarta meminta keduanya membangun terowongan di bawah tanah bagi pejalan kaki. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Wajah kawasan Senayan, Jakarta Selatan, berpeluang besar mengalami transformasi besar dalam waktu dekat. Jalur bawah tanah (underground) yang selama ini tersembunyi di balik aspal jalanan, rencananya akan disulap menjadi ruang publik yang hidup dan produktif. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, tengah merancang langkah strategis untuk menghubungkan dua pusat perbelanjaan raksasa, Senayan City dan Plaza Senayan, melalui terowongan bawah tanah yang diperuntukkan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah ini tidak hanya menjadi angin segar bagi roda ekonomi kecil, tetapi juga menjadi strategi jitu dalam mengurai benang kusut kemacetan serta memperkuat konektivitas (connectivity) bagi para pejalan kaki di kawasan padat tersebut.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa pemanfaatan ruang publik harus dilakukan secara optimal demi kenyamanan warga. Menurutnya, ruang di bawah jalanan Senayan memiliki potensi besar yang selama ini terabaikan. Beliau menyampaikan bahwa ruang di bawahnya bisa dimanfaatkan untuk berjualan UMKM dan keperluan produktif lainnya, sebagai bagian dari pengelolaan Jakarta yang lebih baik, terutama dalam mengurai titik-titik kemacetan yang kerap mengular di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Ekonomi Sedang Sulit, Industri Rumahan Bisa Jadi Solusi

Selama ini, ego sektoral antar-pengelola pusat perbelanjaan disinyalir menjadi ganjalan utama mengapa kedua mal besar ini terkesan berjalan sendiri-sendiri. Pramono mengungkapkan bahwa jika kedua pusat perbelanjaan di Senayan tersebut tidak dihubungkan di bawah tanah, hal itu akan sangat mengganggu sistem transportasi dan sering kali memicu kemacetan yang melelahkan bagi para pengguna jalan.

Demi memecahkan kebuntuan tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil sikap tegas. Pramono bahkan menyiapkan langkah ekstrem berupa penalti fiskal jika pihak pengelola mal terus menunda kerja sama ini.

Baca Juga :  Solusi Tepat Anjuran Ahli, Ibu Bisa Berikan MPASI Fortifikasi

Pramono menyatakan bahwa jika mereka tidak mau disambungkan, pemerintah akan menaikkan pajaknya karena terbukti mengganggu lalu lintas. Dengan menaikkan pajak, pihak pengelola dipastikan akan bersedia untuk duduk bersama dan bernegosiasi, karena pada dasarnya interkoneksi ini akan saling menguntungkan kedua belah pihak.

Optimisme ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya telah sukses menerapkan konsep serupa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Keberhasilan masa lalu itulah yang ingin direplikasi di Senayan. Pramono telah meminta Asisten Pembangunan DKI Jakarta untuk segera menindaklanjuti rencana ini agar dapat segera terealisasi. Beliau berharap proyek ini lekas berjalan karena proyek yang lebih rumit saja bisa diatasi di Bundaran HI, seperti menghubungkan Grand Hyatt, Pullman, Mandarin, dan Kempinski, di mana area bawah tanahnya langsung terhubung masuk ke stasiun moda raya terpadu (MRT) sekaligus menghidupkan lapak UMKM.

Baca Juga :  Unilever Indonesia Gandeng Pakar Ilmu Sosial Cari Solusi Permasalahan Sampah

Pada akhirnya, penyambungan Plaza Senayan dan Senayan City menjadi potret kecil dari ambisi besar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun konektivitas antarkawasan yang terintegrasi. Proyek ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pejalan kaki yang ramah, aman, dan bernilai ekonomi tinggi adalah kunci utama untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang tidak hanya nyaman, tetapi juga memanusiakan seluruh warganya.

Bagaimana jika kenyamanan berbelanja dan kemudahan bermobilisasi di Jakarta kelak dapat dinikmati hanya dalam satu langkah kaki di bawah tanah? Kita tunggu bersama realisasi nyata dari wajah baru Senayan ini. (Gdi)