
WANITAINDONESIA.CO – Di sudut Gang Jemah HEK, Kelurahan Tengah, Kramat Jati, guratan kebahagiaan terpancar dari wajah Ibu Upik. Di usianya yang telah menginjak 63 tahun, impian sederhana untuk memiliki aliran listrik mandiri di rumahnya akhirnya terwujud. Selama bertahun-tahun, lansia ini harus menggantungkan kebutuhan listriknya pada kebaikan hati tetangga karena keterbatasan biaya.
Melalui program Light Up The Dream (Nyalakan Impian), PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya membawa secercah harapan baru bagi Ibu Upik. Program ini bukan sekadar bantuan korporasi biasa, melainkan buah dari ketulusan hati para pegawai PLN yang secara sukarela menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk menerangi rumah warga yang membutuhkan.
Momen penyalaan listrik pertama di kediaman Ibu Upik berlangsung penuh haru pada Sabtu (23/5). Tak kuasa menahan tangis, ia bersyukur karena kini tak perlu lagi merasa waswas atau sungkan saat menyalakan lampu di malam hari.
“Setiap malam saya hanya bisa pasrah. Untuk makan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi untuk pasang listrik sendiri. Ya Allah, terima kasih banyak. Akhirnya di masa tua saya, rumah ini bisa terang seperti rumah orang lain,” ungkap Ibu Upik dengan suara bergetar.
Kehadiran listrik mandiri ini memberikan rasa aman dan kenyamanan yang lebih bagi warga lanjut usia. General Manager PLN UID Jakarta Raya, Moch. Andy Adchaminoerdin, menekankan bahwa akses listrik yang terpasang langsung di rumah sangat mendukung aktivitas harian, terutama dari sisi keamanan instalasi.
“Listrik yang terpasang langsung memberikan rasa aman dan mendukung aktivitas sehari-hari, terutama bagi warga lanjut usia seperti Ibu Upik. Partisipasi pegawai melalui Light Up The Dream membantu menghadirkan bantuan yang tepat sasaran,” ujar Andy Adcha.
Senada dengan hal tersebut, Manager PLN UP2D Jakarta, Dwi Arya Yudha, menambahkan bahwa program ini lahir dari kepedulian tulus insan PLN terhadap lingkungan sekitar. Biaya penyambungan gratis ini murni merupakan donasi pribadi para pegawai yang ingin melihat senyum di wajah warga seperti Ibu Upik.
Bagi seorang ibu, rumah adalah pelabuhan terakhir tempat ia mencari ketenangan. Lewat cahaya baru ini, Ibu Upik tidak hanya mendapatkan penerangan fisik, tetapi juga martabat dan kemandirian di masa senjanya.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita bahwa kepedulian kecil yang dikumpulkan bersama dapat menjadi lentera besar yang mengubah hidup seseorang, memberikan kehangatan yang meresap hingga ke dalam sanubari. (gdi)




