WANITAINDONESIA.CO – Film legendaris Children of Heaven akan segera tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Mei 2026. Adaptasi garapan MD Pictures dengan sutradara Hanung Bramantyo ini mengambil latar Jawa era 1980-an, menghadirkan nuansa lokal yang kental pada kisah kakak-beradik Ali dan Zahra yang harus berbagi sepasang sepatu untuk pergi ke sekolah.
Di balik kisah dua bocah itu, ada sosok ibu yang diperankan aktris Faradina Mufti. Ia sendiri sudah berpengalaman dua kali berperan sebagai ibu. Namun, pengalamannya di film ini ternyata berbeda dari peran-peran sebelumnya.

Alih-alih menjadi figur yang mengarahkan, Faradina justru merasa para pemeran cilik di film ini, yaitu Jared Ali (Ali) dan Humaira Jahra (Zahra), yang membimbingnya selama proses syuting.
“Biasanya aku yang lebih berperan untuk memegang di film itu. Tapi di sini anak-anak ini yang lebih menceritakan dari sudut pandang mereka. Jadi cukup beda banget,” ujar Faradina.
Ia mengaku justru menikmati dinamika yang tidak biasa itu. “Istilahnya, mereka yang bimbing aku di film ini. Aku menjadi ibu mereka di sini karena mereka. Cerita ini kan dipegang mereka,” kata dia.
Kedekatan itu bahkan sudah terasa sejak hari pertama casting. Faradina mengisahkan bagaimana pertemuan pertamanya dengan pemeran Zahra yang langsung meninggalkan kesan mendalam.
“Dari pertama kali ketemu, dia bisa berikan kenyamanan sama aku. Kayak memang anak ini tahu dia di sini sebagai Zahra. Once mereka ketemu dengan calon ibunya, mereka bisa connect dengan gampangnya,” kenangnya.
Faradina juga mengungkap bahwa para pemeran cilik itu sudah menjalani proses persiapan jauh lebih panjang darinya. Ketika Faradina datang untuk casting, anak-anak itu sudah berlatih membaca naskah berminggu-minggu sebelumnya.
Pasalnya, mereka adalah anak-anak Jakarta yang harus menguasai dialek Jawa untuk film ini. Tantangan soal dialek juga dialami Faradina sendiri. Meski ia asli Yogyakarta, tetapi latar film yang dipakai Hanung adalah Semarang. “Semarang dan Jogja itu berbeda, walaupun sama-sama Jawa. Dari situ aku juga belajar lagi,” ungkapnya.
Selain itu, dalam proses kreatifnya, Faradina juga tetap membuka diri untuk berkontribusi, tetapi selalu dalam koridor arahan sang sutradara. “Aku hanya mengimbuhi sedikit bumbu-bumbu. Kalau Mas Hanung setuju dengan apa yang aku idekan, oke. Kalau enggak, ya sesuai apa yang Mas Hanung inginkan,” urai dia.
Pada akhirnya, Faradina berharap sentuhan lokal yang kental dalam film ini bisa membuat penonton Indonesia merasa lebih dekat dengan ceritanya. “Ini semoga bisa lebih relate lagi dengan kehidupan kita, meskipun setting-nya di tahun 1980-an. Jadi aku merasa ini lebih banyak unsur lokal Indonesia yang kita rasakan,” tutupnya. (GIE)





