Ketika Inovasi Kampus dan Jiwa Kewirausahaan Menjawab Solusi Problem Perkotaan di Tambora

Pimpinan Universitas CIputra Jakarta menjawab pertanyaan dalam temu media terkait dengan kuliah umum Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Gdi

WANITAINDONESIA.CO — Di balik riuk pikuk dan padatnya lorong-lorong pemukiman di kawasan Tambora, Jakarta Barat, tersimpan potret tantangan sosial serta ekonomi kota yang amat kompleks. Berangkat dari kondisi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengajak Universitas Ciputra Jakarta untuk turun tangan dan berkolaborasi secara nyata membenahi persoalan di kawasan padat penduduk tersebut melalui kajian ilmiah serta aksi kontekstual.

Menjawab tantangan tersebut, pihak akademisi menyambutnya dengan gerak cepat. Penjajakan awal bersama jajaran pemerintah daerah pun langsung ditindaklanjuti demi merumuskan solusi yang tepat sasaran bagi masyarakat setempat.

“Kita gerak cepat dengan wali kota Jakarta Barat survei awal untuk entaskan problem di kampus Tambora,” ungkap Board of Executive Director Yayasan Ciputra Pendidikan, Prof. Denny Bernardus dalam temu media di Jakarta, Kamis..

Prof. Denny Bernardus menjelaskan bahwa Tambora menyimpan persoalan yang kompleks, sehingga penyelesaiannya dapat didekati melalui studi tingkat strata satu (S1) dengan pendekatan kepemimpinan kewirausahaan (leadership entrepreneurship), khususnya dalam menyikapi persoalan sosial ekonomi yang kurang.

Baca Juga :  Inovasi Social-commerce Woobiz

Inovasi yang dihadirkan pun tidak selalu berjarak dari kebutuhan sehari-hari warga. Pendekatan praktis dan berbasis teknologi sederhana pernah dibuktikan secara nyata dalam menjawab permasalahan warga sekitar.

“Contohnya kita pernah memberikan solusi terhadap persoalan jemuran pakaian, bikin peringatan lewat ponsel apabila terjadi hujan, sehingga persoalan jemuran ini bisa diatasi,” pangkas Prof. Denny Bernardus.

Kehadiran pengalaman belajar yang membumi ini berakar dari kurikulum yang merajut teori dan dunia nyata. Universitas Ciputra Jakarta memfasilitasi para mahasiswanya untuk berinteraksi langsung dengan ekosistem bisnis serta tantangan aktual di lapangan.

“Kita punya Pengalaman Bisnis Nyata (Real Business Experience / RBX), ini adalah jembatan yang menghubungkan mahasiswa agar dapat terkoneksi langsung dengan dunia industri,” ujar Campus Director Universitas Ciputra Jakarta, Prof. Christina Eviutami Mediastika, S.T., Ph.D.

Baca Juga :  Potensi Bahan Pangan Lokal Lewat Sentuhan Inovasi Hasil Kemitraan Indonesia dan Australia

Dukungan tersebut diperkuat oleh jaringan bisnis ekosistem Ciputra Group melalui unit Mal Ciputra di Jakarta, Tangerang, dan Cibubur. Unit-unit bisnis ini menyediakan studi kasus operasional untuk dianalisis serta dikembangkan usulan solusinya oleh mahasiswa melalui beberapa mata kuliah hingga semester berikutnya. Sinergi ini menghubungkan pembelajaran akademik dengan praktik inovasi, kebutuhan konsumen, serta persoalan bisnis nyata.

Sebelumnya, Universitas Ciputra Jakarta juga telah membuktikan keberhasilan orientasi kampus mahasiswa baru di M Bloc Taman Tiahahu yang menunjukkan bahwa proses transformasi dapat diwujudkan secara nyata.

Filosofi mendidik yang diusung pun merujuk pada semangat pendiri grup. “Kita ingin menjadikan mahasiswa bukan sekedar bekerja di tempat lain, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan pekerjaan kepada masyarakat. Kita mencontoh almarhum Ciputra,” tutur Prof. Denny Bernardus.

Langkah ini telah membuahkan banyak catatan manis. Sejumlah mahasiswa tercatat sukses membangun bisnis dari nol, sementara yang lain berhasil meneruskan bisnis orang tua. Ada pula mahasiswa yang merintis usahanya sejak awal kuliah dengan memproduksi kerupuk, yang kemudian berkembang sukses hingga menjadi tempat magang bagi rekan-rekan sesama mahasiswa.

Baca Juga :  LG Electronics Perkuat Inovasi di Asia, Hadirkan Solusi Rumah Pintar yang Lebih Personal di InnoFest 2026

Tak heran jika sebanyak 60-70 persen mahasiswa sukses menjadi pengusaha. Di kampus ini, pada setiap semester, aktivitas bisnis dan perkuliahan dapat berjalan secara sejajar (pararel). Mahasiswa juga diperbolehkan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI), namun tidak sampai bergantung serta tetap memegang teguh etika yang ada. Walhasil, para mahasiswa bisa lulus dengan nilai yang bagus sekaligus menjalankan bisnis yang sedang bertumbuh.

Mampukah sentuhan inovasi dan kolaborasi pendidikan ini mengubah tantangan di kawasan padat seperti Tambora menjadi peluang baru yang memberdayakan? Perjalanan merawat harapan dan membangun kota tentu membutuhkan peran serta kita semua. (Gdi)