Ketika Indonesia Menjadi Suar Industri Aesthetic Dunia, Ada Peran Nordberg Medical & Pria Mematut Diri

Ki-ka: Commercial Director Nordberg Medical Hongkong & APAC, Vernon Lau memberikan apresiasi, dan penghargaan sekaligus Expert Ambassador dari Nordberg Medical kepada dokter Elfin M.Biomed (AAM), dokter Jeffri Setiawan Dipl.AAAM. Foto: Wanitaindonesia.co

WANITAINDONESIA.CO – Apa yang mendasari pada ekspert di industri aesthetic Indonesia berkumpul serta melakukan sesi sharing di diskusi “Regenerative Medical Aesthetic Outlook 2026”.

Persona tiga dokter aesthetic dr.Elfin, M.Biomed (AAM), dr. Jeffri Setiawan, Dipl.AAAM, dr. IGN Probo (Bobo) Suteja terlihat memesona. Tampil dengan kepercayaan diri yang tinggi. Smart, ditunjang dengan postur tubuh terjaga, dan aih wajah glowing natural menawan.

Lewat ilmu serta tampilan, mereka membawa pesan penting untuk seluruh kaum pria lainnya di luar sana. Lintas generasi, lintas usia serta latar belakang bahwa ihwal perawatan kulit wajah serta kesehatan menyeluruh, saat ini merupakan kebutuhan mendesak laki-laki.

Pria mutlak untuk memiliki tampilan nan paripurna, dikarenakan citra diri dapat dibangun lewat tampilan yang memesona. Ini menjadi salah satu kunci penting kesuksesan hidup serta karir Anda di masa kini serta masa depan.

Para dokter pria dengan background berbeda di industri aesthetic bersama Nordberg Medical Perwakilan Indonesia sepakat, untuk membumikan bahwa ekosistem evidence-based medicine merupakan hal yang sangat krusial, di tengah pertumbuhan industri aesthetic yang cukup masif.

Mewakili Nordberg Medical Indonesia yang menginisiasi keberadaan ekosistem tersebut,
Country Leader Nordberg Medical perwakilan Indonesia, Eka Meliasari Khu menjelaskan, “Sebagai perusahaan bio technology global medical, Nordberg Medical Indonesia hadir dengan membawa inovasi berupa jawaban atas regeneratif estetika medis, yang menuntut hasil natural, dan teruji secara ilmiah.”

“Perkembangan industri aesthetic Indonesia diikuti oleh sejumlah fenomena. Hal ini berdampak telah terjadi pergeseran paradigma estetika medis, namun yang patut diingat sudah seharusnya praktik estetika medis dilakukan oleh dokter yang memiliki kompetensi.”

“Guna memberikan cara pandang baru terhadap skin enthusiast wanita juga kaum pria, Nordberg Medical Indonesia berupaya untuk membentuk sebuah ekosistem evidence-based medicine yang hidup, solid, dan cair.”

“Tentu saja untuk menghadirkan ekosistem tersebut dibutuhkan sinergitas apik antara Nordberg Medical Indonesia dengan para expert dermatology serta sahabat media.

Hadirnya para dermatology expert dengan latar belakang berbeda memiliki tujuan mulia, ingin membantu para pasien estetika, melindungi sejawat. Juga mengedukasi masyarakat konsumen.”

“Di tengah gempuran industri aesthetic, kami berharap agar skin enthusiast dapat memahami prinsip-prinsip yang baik, dan berkelanjutan. Penting ketika hendak memilih sebuah produk serta treatment estetika harus berpedoman kepada sejumlah hal, agar mereka tak terperdaya oleh testimoni juga over klaim.”

“Skin enthusiast bersama Nordberg Medical Indonesia memiliki tolak ukur pasti sebelum mereka memilah serta memilih sebuah produk. Utamanya mengedepankan pemikiran kritis ihwal keamanan produk, kandungan bahan, inovasi serta efikasi serta siapa praktisi yang dipilih untuk melakukan treatment. Semuanya harus berdasarkan bukti ilmiah. Selain tak mudah terperdaya oleh kata sakti “katanya” maupun rekomendasi menyehatkan.”

“Tentu saja dari lifestyle aesthetic yang berkembang masif, harus hadir tanggung jawab peran pelaku usaha, untuk selalu menggaungkan pentingnya regeneratif estetika medis di masa kini serta di masa depan.”

“Nordberg Medical merupakan perusahaan Bioteknologi Swedia. DNA-nya lekat dengan mengedepankan keunikan ilmu pengetahuan. Bersama dengan dokter membentuk ekosistem evidence-based medicine, baik dari sisi diagnosis, pemilihan produk, prosedur terapi harus berdasarkan atas bukti ilmiah.”

“Ini terbukti nyata dengan teknologi inovatif paten satu-satunya di dunia yang dimiliki Nordberg Medical yakni PLLA-Lasynpro™ yang digunakan sebagai injeksi bio-activator kulit, untuk peremajaan, dan pengencangan di bidang estetika, “ungkapnya.

“Kami hadir untuk memberikan penekanan, bahwa estetika medis bukan sekedar komoditas, tak menimbulkan konflik kepentingan, berani berkata tidak untuk layanan yang tidak berdasarkan evidence-based medicine. Memastikan treatment tidak ditangani oleh yang bukan dokter atau dokter yang belum tersertifikasi.”

“Tujuannya mulia untuk mendukung skin enthusiast serta ekosistem aesthetic Indonesia menjadi kuat, dan lebih bermartabat. Selanjutnya ekosistem tersebut akan berkembang menjadi ekosistem evidence-based medicine, “papar Eka Meliasari Khu.

Tahukah pembaca, salah satu tugas dokter dermatologi sebelum mengedukasi pasien dengan merekomendasikan sebuah produk baru, mereka harus paham beragam aspek agar pesan penting produk baru tersebut sampai ke masyarakat.

Country Leader Nordberg Medical Perwakilan Indonesia, Eka Meliasari Khu menyampaikan, “Dari Swedia lewat produk kolagen simulator terbaik Julaine, hadir jawaban atas regeneratif estetika medis yang menuntut hasil natural serta teruji ilmiah, karenanya penting untuk membentuk sebuah ekosistem evidence-based medicine yang hidup, cair, dan solid. Foto: Wanitaindonesia.co

dokter Bobo dari Praktisi Menjadi Pasien

Salah satunya dengan mengaplikasikan produk secara langsung, guna membuktikan dampak nyata dari efikasi produk tersebut. Inovatif terdepan hadir kolagen stimulator Julaine.

Baca Juga :  Eksis 3 Dekade, Timezone Ekspansi ke Kalimantan & Sulawesi dengan 4 Gerai Baru

dr.IGN Probo Suteja Putra akrab dipanggil dokter Bobo memberikan testimoninya ke sahabat media.

“Awal mengenal produk kolagen stimulator Julaine, itu terjadi di tahun lalu. Sama seperti sejawat saya dokter Deasy, muncul perasaan khawatir ihwal dampak serta efikasi produk, bila tak sesuai dengan klaim pihak Nordberg Medical.”

“Saya banyak membaca jurnal ilmiah serta berdiskusi dengan sesama ahli dermatologi seputar perusahaan yang mengembangkan produk, kualitas, teknologi yang diaplikasikan, juga menyoal aspek keamanan, dan kesehatan.”

“Sayapun takjub dengan teknologi paten satu-satunya di dunia dari Nordberg Medical PLLA-Lasynpro™, yang digunakan sebagai injeksi bio-activator kulit untuk peremajaan, dan pengencangan dalam bidang estetika, “imbuh dokter Bobo.

“Hasil penelitian, kandungan dari PLLA-Lasynpro™ yang unik, bulat sempurna, tersebar merata, terbukti dapat memberikan manfaat, dan minim inflamasi, dikarenakan perawatan ini bekerja secara regeneratif.”

“Dari sini akhirnya saya putuskan untuk mencoba sendiri produk inovatif tersebut. Pertama kali saya melakukan injeksi dengan kolagen stimulator Julaine, November tahun lalu.”

“Ketika treatment, saya merasakan ada sensasi sedikit rasa nyeri. Selaku profesional hal ini masih terbilang wajar. Setelahnya area yang disuntik terlihat sedikit bengkak, tapi tak lantas mengganggu aktivitas saya. Setelah treatment saya bisa lanjut beraktivitas kembali lho, “terang dokter Bobo.

“Perlu saya jelaskan saat melakukan treatment sesi pertama, belum terlihat perubahan signifikan, tapi saya bisa merasakan perubahan yang lebih baik di area wajah.”

“Kemudian setelah jeda berlanjut treatment sesi dua, dan tiga. Setiap sesi sesuai klaim, hasilnya nyata terjadi perubahan secara bertahap ke arah yang lebih baik, “imbuhnya.

“Dampaknya setelah menyelesaikan treatment sesi ketiga, dan setelah menunggu dalam waktu yang telah diprediksi, barulah saya percaya serta merasa yakin, bahwa kolagen stimulator Julaine sangat direkomendasikan untuk masyarakat Indonesia. Berdampak nyata dengan hasil yang sangat memuaskan, “terang dokter Bobo.

“Kulit saya jadi lebih sehat terawat, glowing natural, plampy, dan yang terpenting tanpa harus merubah karakter wajah, “jelasnya.

Dokter Bobo melanjutkan, “Hal ini selaras dengan tujuan mulia yang hendak dikembangkan oleh Nordberg Medical, guna menghadirkan ekosistem evidence-based medicine di Indonesia.”

Last but not least lewat pengalaman dokter Bobo, kaum pria lintas generasi wajib untuk merencanakan treatment, dengan kolagen stimulator yang kekinian menjadi”bestie”-nya skin enthusiast.

Selaras dengan goal Gen-Z yang menginginkan hidup bahagia serta sejahtera lewat tampilan paripurna. Lekat dengan tubuh sehat, bugar serta wajah terawat yang memancarkan keunikan dari pemiliknya.

Wajah menjadi etalase utama setiap persona serta telah terbukti mampu mendukung kesuksesan karir serta pergaulan. Ini adalah cerminan kesehatan, kebersihan serta perhatian terhadap diri sendiri.

Foto dokter Bobo saat melakukan tahapan treatment sesi 1, 2, & 3 dengan kolagen stimulator Julaine, sebagai profesional, dokter aesthetic harus memastikan keamanan serta efikasi produk dengan mengacu ke evidence-based medicine. Foto: Wanitaindonesia.co

Dari Filler ke Kolagen Stimulator Tercanggih

Pengalaman inspiratif lainnya diceritakan dr.Jeffri Setiawan, Dipl, AAAM. Di awal bincang ia tegas menggarisbawahi ihwal konsep treatment kecantikan dengan hasil yang natural.

Menurut dokter Jeffri tahun 2026 adalah tahun yang transaksional. Yang mana di tahun-tahun sebelumnya banyak skin enthusiast yang ingin terlihat cantik, mereka melakukan treatment dengan menggunakan filler.”

“Filler dianggap sebagai solusi karena untuk menjadi cantik tak perlu repot, hanya selangkah untuk guna mewujudkan obsesi mereka. Banyak area utamanya di bagian wajah yang telah kehilangan volume bisa dipulihkan bentuknya dengan di filler.”

“Dengan kemajuan teknologi upaya cantik lewat filler kemudian beralih ke treatment lain, salah satunya dengan menggunakan kolagen stimulator.”

“Saya tegaskan perubahan ini bukan dikarenakan filler-nya yang tak bagus. Bukan pula kesalahan produk. Bila saya jawab jujur, hal tersebut bisa terjadi karena adanya kesalahan dokter juga pasiennya.”

“Lho kok bisa keduanya disalahkan? Ketika pasien memiliki obsesi berlebih serta mampu membayar, dokter harusnya menjadi garda terdepan untuk memberikan edukasi serta pemahaman ihwal dampak produk yang diaplikasikan. Ketika dokter hanya mengiyakan, jelas hal ini tak bisa dibenarkan oleh etika profesi, “jelasnya.

“Lantas mengapa banyak pasien yang kecewa dengan hasil treatment yang tak sesuai dengan ekspektasi mereka? Tipikal sebagian besar konsumen Indonesia adalah ingin hasil instan, dengan pembiayaan yang kalau bisa ditekan seminimal mungkin mereka akan lakukan.”

“Penjelasan sederhananya begini, ketika filler disuntikkan dengan cara yang tepat, hasilnya akan terlihat bagus.Tapi jika kemudian dilakukan berulang-ulang dalam jumlah yang banyak, hasil akhirnya jadi tak sesuai ekspektasi.”

Baca Juga :  Sinar Terang Industri Fashion Indonesia ESMOD Jakarta Hadirkan Inovasi Tren Terbaru di JF3

“Ini menjadi ‘peer’ yang harus segera diselesaikan oleh para sejawat khususnya para dokter aesthetic. Kuncinya kesadaran ihwal tanggung jawab moral, profesi serta aspek kemanusiaan serta upaya untuk terus-menerus melakukan edukasi.”

Estetika Yang Anggun

“Oke mari kita tinggalkan sejenak filler. Angin segar kembali berembus di industri aesthetic Indonesia ketika tahun lalu telah diperkenalkan treatment kolagen stimulator.”

“Walau bukan pemain baru dikarenakan produk sejenis sudah ada beberapa tahun lalu.Tapi kolagen stimulator generasi baru ini memilki keunggulan, yang tak kan pernah ada pada produk sejenis sebelumnya, “terang dokter Jeffri.

“Julaine produk kolagen stimulator produksi Nordberg Medical Swedia memiliki keunggulan, berdampak nyata lewat sejumlah tahapan. Capaiannya berupa hasil yang natural serta menghadirkan estetika yang anggun.”

“Karena tak didapat lewat cara instan, hasilnya jadi terlihat lebih bagus. Semakin memesona ketika terlihat orang lain.”

“Mereka akan merasa takjub, tapi lucunya awam tak pernah tahu, pasien saya telah melakukan treatment apa. Ini yang dikenal sebagai Quiet Luxury Estetika.

“Patut diingat capaian akhir dari hasil treatment yang memuaskan itu, harus dilakukan dengan upaya sepenuh hati. Hal ini bukanlah mudah, jauh lebih sulit dibandingkan treatment dengan hasil instan.”

“Tantangan terbesarnya adalah upaya untuk mewujudkan goal pasien dengan hasil perawatan yang natural, sesuai dengan versi terbaiknya, tanpa merubah karakter wajah mereka menjadi seperti orang lain.”

“Mengacu ke profesionalitas profesi, ketika pasien datang, saya akan melakukan sesi konsultasi dengan menelaah banyak sumber informasi seperti dari cerita yang bersangkutan, riwayat medis sebelumnya, gaya hidup dan lain sebagainya.”

“Saya juga akan bertanya keinginan mereka itu apa, fokusnya seperti apa. Selesai itu berlanjut dengan membuat rencana kerja. Salah satu elemennya, saya membutuhkan produk yang berkualitas, aman, berdampak nyata.”

“Penting dukungan ahli, agar treatment dapat berhasil dengan baik. Tapi tentu saja hal ini masih tak cukup, seorang dokter aesthetic itu harus berjiwa seniman. Karena kedokteran estetika merupakan cabang ilmu yang istimewa, dokter harus memiliki jiwa seni agar dapat menghasilkan bentuk yang indah, yang memuaskan hati pasiennya, “ungkap dokter Jeffri.

dokter Jeffri Setiawan, Dipl.AAAM, “Julaine memiliki keunggulan dari kolagen stimulator generasi sebelumnya, inovatif terdepan dengan teknologi tercanggih PLLA-Lasynpro™, satu-satunya di dunia paten dari Nordberg Medical. Foto: Wanitaindonesia.co

Karakter Unik Julaine

“Berbicara tentang kolagen stimulator, buat saya produk ini bukanlah produk baru. Beberapa tahun lalu sudah masuk ke Indonesia. Salah satu brandnya sudah saya coba, tapi saya merasa produk tersebut tak berbeda dengan filler. Fungsinya hampir mirip.”

“Kemudian hadir produk baru Julaine, sebagai dokter ketika pertama mengetahui, dan mengenal produk estetika baru, tentunya muncul rasa ingin tahu yang sangat besar. Hal ini sangat penting, karena menyangkut pengayaan wawasan seorang profesional.”

“Saya melihat Julaine itu memiliki karakter yang unik, berkualitas. Terpenting unggul dengan alasan mendasar yakni Julaine mampu memproduksi kolagen secara alami, tanpa meninggalkan volume berlebih.”

“Dan goals yang paling banyak diimpikan oleh para skin enthusiast, Julaine mampu memberikan hasil optimal, dengan mewujudkan mindset orang banyak, yakni ingin menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.”

“Bagi saya kehadiran Julaine di Indonesia sangat membantu praktik profesional dermatologi sehari-hari. Untuk satu kali treatment dengan memakai produk Julaine umumnya harus dilakukan sebanyak 3 sesi. Tapi jumlah sesi tersebut tidak mutlak, karena ada juga pasien saya , cukup dengan 2 sesi pengaplikasian, hasilnya sudah terlihat optimal.”

“Nah di sini dituntut kepekaan profesional medis untuk menghentikan treatment-nya, jika hasilnya sudah optimal, “tegas dokter Jeffri.

“Patut dipahami ihwal pengaplikasian Julaine, menurut keilmuan saya, produk hanya cocok untuk treatment aging ringan hingga sedang, yang ditandai mulai terlihat garis senyum serta volumenya tidak hilang terlalu banyak.”

dokter Elfin, M.Biomed (AAM) lewat treatment dengan Julaine, pasiennya yang mengalami face overfilled syndrome dapat dipulihkan kondisinya hingga terlihat natural. Foto: Wanitaindonesia.co

Cantik Versi Terbaik Diri Sendiri

Praktisi lainnya yang memberikan testimoni sehubungan dengan pemakaian Julaine adalah dokter Elfin, M.Biomed (AAM). Dokter yang melakukan praktik di kota Medan ini menceritakan telah kedatangan seorang pasien berusia 50 tahun.

“Dia memiliki proporsi tubuh ideal. Dia datang dengan keluhan, wajahnya terlihat kendur, dan melebar, dan ingin membuatnya kembali kencang.”

Baca Juga :  WINGS Care Luncurkan Happily, Popok Celana Dewasa 3in1 Pertama di Indonesia, Hadirkan Kebahagiaan Lansia Aktif di Usia Emas

“Saya berpikir keras, apa penyebab utama, kemudian menanyakan kepada pasien tersebut apakah sebelumnya, pipinya pernah chubby? lalu dijawabnya tidak.”

“Pertanyaan berikutnya tentang treatment yang pernah dia lakukan. Dengan gamblang diawab, dia rutin melakukan filler setiap 6 bulan sekali. Rutinitas ini telah dilakukan selama bertahun-tahun, “terang dokter Elfin.

Sebagai pembanding problem pasiennya tersebut, dokter Elfin memperlihatkan dua foto superstar Madonna yang memiliki bentuk wajah berbeda, di tahun 2011, dan 2023.

“Nyata terlihat kan, yang cantik yang tahun berapa, foto satunya lagi terlihat tak elok seperti bintitan. Nah dari kedua contoh kasus antara pasien saya dengan superstar Madonna mereka memiliki kesamaan, yakni mengalami face overfilled syndrome yakni sindrom kelebihan volume di area pipi.

“Sindrom tersebut memperlihatkan kedua pipi penuh. Hal ini akan membuat pipi terasa berat, tak kuat untuk menampung volume yang berlebihan.”

“Dampaknya pipi akan turun serta area mata akan terdorong ke atas. Tampilan wajah menjadi tak natural.”

“Setelah mengetahui penyebabnya, pasien saya berikan informasi yang komprehensif perihal permasalahan kulit wajahnya.”

“Agar dia mudah mencerna setiap informasi, saya menggunakan bahasa yang mudah dipahami, diantaranya dengan mengartikan atau menganalogikan bahasa ilmiah kedokteran ke dalam bahasa sehari-hari, “ungkap dokter Elfin.

“Hal ini mutlak dikuasai praktisi medis, dikarenakan merupakan bagian dari seni berkomunikasi ke awam. Tujuannya agar tidak ada salah komunikasi serta pesan yang hendak disampaikan dapat dimengerti dengan baik oleh pasien.”

“Tentunya selama menjelaskan, dokter harus mampu membangun suasana yang santai, tujuannya agar mood pasien menjadi lebih baik serta berdampak dengan pemahaman pasien. Saya memahami pasien yang datang ke klinik itu sebagian dalam kondisi stres.”

“Setelah suasana cair, lanjut saya kemukakan rencana kerja untuk menangani permasalahan kulitnya tersebut, seperti dengan menghilangkan filler.’

Ketika kaum pria mematut diri ada peran industri aesthetic yang lekat dengan inovasi teknologi, bantu memberikan fasilitas serta kemudahan, kini menjadi tampan hanya tinggal selangkah. Foto: Wanitaindonesia.co

Hempas Hasil Dramatis Dengan Tampilan Natural

“Pada saat proses penghilangan filler hendak dilakukan, saya jelaskan apa saja yang akan terjadi serta kemungkinan lainnya. Utamanya wajah akan berubah menjadi kempot karena pengisinya (filler) sudah dikeluarkan.”

“Agar wawasan mereka bertambah, saya kemukakan ihwal penggunaan filler berulang dalam waktu panjang. Filler yang dilakukan berulang tanpa diasesmen dengan baik, tidak diteliti dengan seksama oleh dokter yang melakukan, dampaknya pasti negatif. Wajah akan terasa berat, dan bentuknya menjadi terlihat tak natural.”

“Dari satu kasus ini, saya tekankan masyarakat tak boleh serta-merta menyalahkan produk. Mereka juga harus paham bahwa setiap produk industri aesthetic itu, memiliki dampak positif serta negatif.”

“Butuh pemahaman oleh kedua belah pihak yakni dokter yang meng-encourage juga pasien yang harus memiliki nalar kritis, guna mencegah dampak yang tak diinginkan, “tegasnya.

“Hal ini akan terjadi bila sudah terbangun ekosistem evidence -based medicine, yang selaras dengan tujuan mulia Nordberg Medical perwakilan Indonesia.”

“Setelah pasien menyetujui, lanjut saya beritahukan pengganti filler yang hendak diaplikasikan. Bahan apa yang tepat, sesuai dengan pemeriksaan awal serta kasus yang dialami oleh pasien tersebut. Kemudian saya memilihkan kolagen stimulator generasi terbaru serta yang terbaik, dari yang pernah ada sebelumnya, “ucap dokter Elfin.

“Penjelasan sengaja saya ringkas, dengan penjabaran yang komprehensif, agar tak membuat pasien bingung seperti menyoal aspek keamanan, keunggulan bahan serta efikasinya.”

“Kolagen stimulator cara kerjanya berbeda dengan filler. Filler memberikan hasil instan. Kolagen stimulator bekerja dengan melewati tahapan proses, dan terbukti nyata bahwa Julaine mampu mengatasi volume yang berkurang, mengatasi kulit yang kendur dengan hasil senatural mungkin.”

“Lantas apa yang terjadi dengan kondisi wajah pasien saya setelah melakukan perawatan dengan kolagen stimulator Julaine? dokter Elfin menjelaskan dengan ekspresi bungah, “Kontur pipi jauh lebih rapi dari sebelum dilakukan treatment, terlihat lebih natural. Garis senyum di sudut bibir hingga ke rahang mulai membaik.”

“Dari pengalaman inspiratif pasien di kota Medan yang telah saya ceritakan tersebut, benang merah untuk meraih hasil treatment estetika yang lebih baik, bukanlah dengan memberikan perubahan yang sebanyak-banyaknya, melainkan hasil yang terlihat baik itu sesungguhnya adalah yang natural. Pasien bisa mewujudkan goalsnya dengan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, “pungkas dokter Elfin. (*)