Kemenpar Dongkrak Daya Saing KEK Lewat Desa Wisata Berkelas

Kawasan wisata di Kota Malang, Jawa Timur. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata di Indonesia kini tidak lagi sekadar menjadi zona eksklusif yang terisolasi dari lingkungan sekitarnya. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) secara agresif tengah menggulirkan strategi komprehensif untuk menyulap kawasan-kawasan ini menjadi motor penggerak ekonomi yang jauh lebih luas. Melalui penguatan ekosistem secara menyeluruh, wajah destinasi unggulan tanah air bersiap menyambut gelombang baru investasi dan kunjungan pelancong global.

Langkah strategis ini bukan sekadar rencana di atas kertas. Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Reza Fahlevi, menegaskan bahwa intervensi pemerintah sengaja dirancang mengalir melampaui batas fisik kawasan inti. Saat berbicara dalam rapat dengar pendapat bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Badan Pengelola Otorita, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), dan Mandalika Puteri Danau (MPRD) di Jakarta pada Rabu, ia membuka cetak biru pengembangan masa depan pariwisata nasional tersebut.

Baca Juga :  Begini Strategi Kemenpar Ubah Pelemahan Rupiah Jadi Peluang

“Dukungan Kementerian Pariwisata untuk KEK pariwisata tidak hanya berfokus pada kawasan inti KEK, karena itu menjadi kawasan yang dikelola oleh pengelola KEK, tetapi juga mencakup penguatan ekosistem pariwisata secara menyeluruh,” ujar Reza Fahlevi memaparkan komitmennya.

Reza menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah mendongkrak daya saing wilayah penyangga di sekitar KEK. Melalui pendampingan yang intensif, fasilitasi, serta promosi investasi yang agresif, pemerintah berupaya menciptakan efek domino ekonomi yang merata. Tidak hanya itu, Kemenpar juga memasang strategi promosi destinasi yang gencar, memfasilitasi penyelenggaraan berbagai kegiatan (event) mulai dari tingkat daerah hingga internasional, serta memperkuat layanan pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions/MICE).

Baca Juga :  Kolaborasi Kao Indonesia Bersama Kemenparekraf Wujudkan Desa Wisata Masa Depan

Dalam upaya memperkuat daya saing tersebut, pemerintah menyentuh aspek-aspek fundamental pariwisata yang dikenal dengan formula tiga A, yakni atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Formula ini kemudian diintegrasikan dengan pengembangan desa wisata di sekitar kawasan, penyusunan pola perjalanan wisata yang terstruktur, penguatan mitigasi bencana, hingga penganekaragaman (diversifikasi) produk serta layanan wisata tematik yang unik di setiap KEK.

Menariknya, karpet merah bagi para investor juga telah digelar lebar-lebar. Kemenpar bersama Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Tourism) telah menyusun sebuah panduan komprehensif bertajuk Tourism Doing Business: Investing in Indonesia (Berbisnis Pariwisata: Berinvestasi di Indonesia). Dokumen ini berfungsi sebagai peta jalan (roadmap) sekaligus kompas bagi para penanam modal yang ingin melirik potensi besar pariwisata Indonesia.

Baca Juga :  Kemenpar Fasilitasi Business Matching Industri Pariwisata RI-Korsel di IBM 2025

“Ini memuat informasi mengenai iklim investasi pariwisata di Indonesia, kerangka regulasi, berbagai insentif investasi serta profil peluang investasi di kawasan KEK,” kata Reza meyakinkan para pemangku kepentingan.

Sebagai komitmen penutup, Kemenpar memastikan tidak akan melepas para pengelola KEK berjalan sendirian. Pendampingan berkelanjutan, bantuan dalam mengurai sumbatan atau hambatan investasi, hingga promosi masif melalui forum bisnis di dalam dan luar negeri serta jejaring media sosial terus dilakukan.

Langkah berani ini menegaskan bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada keindahan alam semata, melainkan pada kematangan ekosistem yang mampu memberikan pengalaman tak terlupakan bagi pelancong sekaligus jaminan kenyamanan bagi para investor. (Gdi)