
WANITAINDONESIA.CO – Rasa aman kini bukan lagi sekadar impian bagi kelompok rentan di Indonesia. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) baru saja mengambil langkah besar dengan meresmikan Direktorat Tindak Pidana Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO). Unit khusus ini telah resmi dibentuk di 11 kepolisian daerah (Polda) dan 22 kepolisian resor (Polres) di seluruh penjuru tanah air.
Menariknya, lini depan pertahanan baru ini sengaja diserahkan kepada para polisi wanita (Polwan) demi menciptakan ruang pengaduan yang jauh lebih humanis.
Kehadiran para Polwan di garda terdepan ini bukan tanpa alasan. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa penempatan ini bertujuan untuk menghadirkan penanganan perkara yang lebih cepat tanggap (responsif) dan berperspektif korban. Dengan pendekatan yang lebih empati, korban kejahatan diharapkan tidak lagi merasa takut atau trauma saat melaporkan kasus yang mereka alami.
“Komitmen tersebut diperkuat melalui pengembangan Direktorat Tindak Pidana PPA dan PPO pada 11 Polda serta 22 Polres yang sebagian besar diawaki oleh polisi wanita sehingga penanganan perkara dapat dilaksanakan secara lebih responsif, memunculkan rasa aman dan nyaman bagi korban, khususnya wanita dan anak,” ujar Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat menyampaikan pidatonya pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80 secara daring di Jakarta.
Langkah ini menjadi bagian dari reformasi besar-besaran dalam pelayanan kepolisian. Penegakan hukum kini tidak hanya fokus mengejar dan menghukum pelaku, tetapi juga menempatkan perlindungan serta pendampingan psikologis korban sebagai prioritas utama.
Komitmen baru ini langsung diuji oleh maraknya kasus-kasus besar yang menyita perhatian masyarakat. Mulai dari penanganan dugaan kekerasan terhadap 110 anak di sebuah tempat penitipan anak (daycare) yang menyeret 13 tersangka, hingga kasus penyekapan seorang perempuan di Bandung, Jawa Barat. Tidak kalah mengejutkan, Polri juga berhasil membongkar jaringan penipuan daring berkedok asmara (love scamming) dengan modus jagal babi (pig butchering). Modus kejam ini melibatkan 39 tersangka, termasuk 11 warga negara asing, yang tega memanipulasi emosi korban dalam jangka panjang demi menguras habis harta mereka lewat investasi bodong.
Di samping memperketat ruang gerak para pelaku kriminal, Korps Bhayangkara juga sedang bersolek menjadi institusi yang lebih terbuka dan ramah bagi semua kalangan. Semangat keberagaman ini dibuktikan dengan diterimanya 21 penyandang disabilitas untuk mengabdi sebagai anggota Polri.
Bukan hanya itu, demi membangun sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif, Polri juga menjaring 160 atlet berprestasi melalui jalur pemanduan bakat (talent scouting). Seluruh proses rekrutmen ini dilakukan dengan sistem yang mengutamakan kecakapan (meritokrasi), keterbukaan (transparansi), dan dapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas).
Pada akhirnya, transformasi ini menjadi bukti nyata bahwa kepolisian sedang bergerak menjadi institusi yang lebih peka zaman. Melalui penegakan hukum yang profesional dan berpihak pada keadilan korban, masyarakat kini memiliki sandaran yang lebih kuat saat kedamaian mereka diusik oleh kejahatan.
Mari kita kawal bersama langkah maju kepolisian ini demi menciptakan lingkungan yang benar-benar aman bagi orang-orang tercinta di sekitar kita. Keberanian Anda untuk melapor adalah langkah awal untuk menghentikan rantai kejahatan. (Gdi)




