“Kebun Binatang Dadakan” di Trotoar Jakarta Lapak Hewan Kurban Menjamur

Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 2026, sejumlah ruas jalan dan trotoar di berbagai wilayah Jakarta kembali berubah wajah menjadi “kebun binatang dadakan”.

WANITAINDONESIA.CO – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 2026, sejumlah ruas jalan dan trotoar di berbagai wilayah Jakarta kembali berubah wajah menjadi “kebun binatang dadakan”. Deretan kandang sementara berisi sapi, kambing, hingga domba tampak memenuhi bahu jalan, lahan kosong, hingga area pedestrian, menciptakan pemandangan khas tahunan yang bagi sebagian warga menjadi penanda datangnya musim kurban—namun bagi sebagian lainnya justru menghadirkan persoalan baru.

 

Di kawasan seperti Johar Baru, Jakarta Pusat, puluhan lapak hewan kurban berdiri berjejer di atas trotoar. Hewan-hewan ternak diikat atau ditempatkan dalam kandang bambu darurat yang kerap kali berdempetan dengan lalu lalang kendaraan dan permukiman warga. Aktivitas jual beli yang meningkat memang menggairahkan ekonomi musiman, tetapi kondisi kebersihan kandang serta aroma menyengat dari limbah kotoran hewan menjadi keluhan utama masyarakat sekitar.

 

Bau campuran jerami basah, urin, dan kotoran ternak yang menumpuk sering kali tercium tajam terutama pada siang hingga malam hari. Beberapa warga mengaku harus menutup rapat jendela rumah karena aroma tak sedap masuk hingga ke dalam ruangan. Selain itu, genangan air bekas cucian kandang yang bercampur limbah organik juga dikhawatirkan memicu berkembangnya lalat dan menurunkan kualitas sanitasi lingkungan.

“Kalau malam baunya makin terasa, apalagi kalau hujan. Air bercampur kotoran mengalir sampai ke saluran air dan jalanan,” ujar Ayit (29), warga Jakarta Timur, yang rumahnya berdekatan dengan salah satu lapak penjualan kambing.

Fenomena ini juga menimbulkan persoalan tata kota. Banyak lapak berdiri di atas trotoar sehingga mengganggu hak pejalan kaki dan memaksa warga turun ke badan jalan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun kembali menegaskan larangan penggunaan trotoar, taman kota, dan fasilitas umum sebagai lokasi penjualan hewan kurban karena dinilai mengganggu kenyamanan publik serta berpotensi menimbulkan kemacetan.

 

Dari sisi pengawasan lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengingatkan para pedagang agar menjaga kebersihan area penjualan, terutama dalam pengelolaan limbah organik dan air buangan kandang.

“Lapak hewan kurban harus memastikan kebersihan lingkungan sekitar tetap terjaga. Kotoran hewan wajib dibersihkan secara berkala, tidak boleh mencemari drainase, dan harus dikelola agar tidak menimbulkan bau berlebihan maupun gangguan kesehatan bagi warga,” demikian imbauan yang disampaikan pihak Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dalam koordinasi pengawasan musim kurban tahun ini.

Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta juga memperketat pemeriksaan lapak penjualan hewan kurban. Kepala Dinas KPKP, Hasudungan A. Sidabalok, menegaskan bahwa lokasi penjualan wajib memenuhi standar kesehatan, keselamatan, serta kebersihan lingkungan.

“Pengawasan dilakukan untuk memastikan lokasi penjualan memenuhi standar kesehatan hewan, keselamatan, kebersihan, hingga kenyamanan masyarakat sekitar,” ujarnya.

 

Meski menuai kritik, keberadaan lapak hewan kurban musiman tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut Jakarta menjelang Idul Adha. Tantangannya kini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi para pedagang, kelancaran ibadah masyarakat, serta hak warga atas lingkungan kota yang bersih, sehat, dan nyaman. (den)