
WANITAINDONESIA.CO – Tidak semua perempuan memulai langkahnya dari sorotan. Ada yang tumbuh perlahan, menguat dari peran-peran sunyi, dari ruang yang kerap tak terlihat. Begitulah perjalanan Tinawati Andra Soni—seorang perempuan yang dulu lebih banyak berada di balik layar, kini menjelma menjadi sosok inspiratif di garis depan pemberdayaan masyarakat Banten.
Mengawali perjalanan sebagai pendamping dalam dunia politik, Tinawati menemukan panggilan yang lebih luas. Ia tak lagi sekadar hadir dalam seremoni, tetapi hadir dengan makna. Isu pendidikan keluarga, kesehatan ibu dan anak, hingga pemberdayaan perempuan kini menjadi napas dari setiap langkahnya. Sebuah transformasi yang menegaskan: perempuan bukan hanya mendampingi, tetapi juga mampu memimpin perubahan.

Bagi Tinawati, Hari Kartini bukan sekadar peringatan tahunan. Sosok Kartini adalah simbol keberanian untuk berpikir maju dan melampaui batas. Di Banten, semangat itu ia hidupkan dalam langkah-langkah sederhana namun berdampak—mendorong perempuan untuk terus belajar, berani mencoba, dan aktif berkontribusi, baik di dalam rumah maupun di tengah masyarakat.
“Perempuan harus mandiri, percaya diri, dan membawa perubahan, tanpa kehilangan nilai budaya,” menjadi prinsip yang ia pegang erat.
Perempuan dan Harmoni Dua Dunia
Di tengah dinamika zaman modern, perempuan masih dihadapkan pada satu tantangan klasik: menyeimbangkan peran domestik dan ruang publik. Sebagai ibu, perempuan adalah fondasi keluarga—penjaga nilai, pembentuk karakter, sekaligus penguat harmoni. Namun di sisi lain, mereka juga memiliki potensi besar untuk berkarya dan berdaya di luar rumah.
Tinawati melihat realitas ini dengan empati. Ia memahami bahwa tidak semua perempuan memiliki akses yang sama terhadap pendidikan, peluang ekonomi, maupun pelatihan keterampilan. Di sinilah peran TP PKK menjadi penting—hadir sebagai jembatan yang membuka jalan.
Pendekatan yang ia dorong pun terasa dekat dan membumi. Pemberdayaan tidak harus dimulai dari hal besar. Justru dari langkah kecil yang konsisten: belajar keterampilan seperti memasak dan menjahit, mengembangkan usaha rumahan, hingga berani masuk ke dunia digital melalui media sosial dan marketplace.
Sebuah konsep keseimbangan yang tidak menghakimi, tetapi merangkul. Perempuan tetap bisa bertumbuh tanpa harus meninggalkan perannya di keluarga.
Memimpin dengan Hati dan Kolaborasi
Memimpin organisasi sebesar TP PKK tentu bukan tanpa tantangan. Namun Tinawati memilih jalan kepemimpinan yang hangat—menjadi teladan, menjaga konsistensi, dan membangun kolaborasi.
Baginya, kekuatan terbesar PKK terletak pada semangat gotong royong. Ia merangkul berbagai pihak—pemerintah, swasta, akademisi, hingga masyarakat—untuk memastikan setiap program tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar memberi dampak nyata.
Dan di balik semua itu, ada momen-momen kecil yang justru paling bermakna: ketika melihat desa menjadi lebih mandiri, ibu-ibu mulai memiliki penghasilan sendiri, anak-anak tumbuh dengan gizi yang lebih baik, dan lingkungan menjadi lebih sehat.
Di situlah esensi kerja sosial—bukan sekadar program, tetapi tentang kehidupan.
Untuk Perempuan Muda: Berani Bermimpi, Tetap Berakar
Kepada generasi perempuan muda, Tinawati menitipkan pesan yang sederhana namun menguatkan: beranilah bermimpi besar, teruslah belajar, dan jangan takut mengambil peran. Pegang teguh nilai dan jati diri, serta saling mendukung satu sama lain.
Karena masa depan perempuan tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh keberanian untuk melangkah.
Jika hari ini ia bisa berbicara kepada Kartini, mungkin satu hal yang ingin ia sampaikan adalah: perjuangan belum selesai. Perempuan memang telah melangkah jauh—mengenyam pendidikan, berkarier, bahkan memimpin. Namun tantangan tetap ada, hadir dalam bentuk yang lebih halus.
Dan di tangan perempuan masa kini, api itu harus terus dijaga—agar setiap perempuan, di mana pun berada, memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, tumbuh, dan mewujudkan dirinya sepenuhnya. (yas)




