Kabut Asap Mengintai Bandara, Begini Strategi Ketat InJourney Airports Jamin Keselamatan Penerbangan

Keselamatan penerbangan menjadi hal utama selama bencana kebakaran hutan. Meski terpaksa dilakukan penundaan keberangkatan. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Ancaman kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap tebal kini kembali menguji ketangguhan penerbangan nasional. Di tengah jarak pandang penerbangan (visibility) yang merosot tajam hingga menembus batas berbahaya, keselamatan ribuan nyawa penumpang di udara kini bergantung penuh pada presisi koordinasi dan kepatuhan standar navigasi yang tak bisa ditawar.

Langkah cepat langsung diambil oleh operator pengelola bandara udara nasional, PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports. Pihaknya bergerak aktif membangun koordinasi intensif bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk memantau pergerakan titik api serta arah sebaran asap secara waktu nyata (real-time). Strategi penanganan khusus disiagakan di seluruh kawasan titik rawan guna memastikan setiap pergerakan lalu lintas udara tetap berjalan dalam batas aman.

Baca Juga :  Libur Panjang Iduladha, Ratusan Ribu Penumpang Padati Bandara Soetta

Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi menegaskan bahwa pemantauan ketat terus dilakukan pada sejumlah wilayah kunci. Berdasarkan hasil pemantauan intensif, kawasan penerbangan di Pekanbaru hingga saat ini masih berada dalam taraf aman karena arah hembusan angin yang menjauhkan asap. Sementara itu, beberapa wilayah lain sempat mengalami kendala operasional, meski kondisi lapangan terus dinamis.

“Kami berkoordinasi dengan BMKG untuk memastikan keselamatan jalur udara di sana. Medan kemarin sempat terdampak, tetapi Medan sudah kembali normal. Kalau Pekanbaru, saya pantau karena arah tiupan, embusan angin, Pekanbaru sejauh ini tidak terdampak,” ujar Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi sewaktu ditemui usai Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis.

Baca Juga :  Penumpang Bandara AP I Melonjak Capai 2,86 Juta Orang Di Oktober

Ketegasan penerapan standar keselamatan udara ini terbukti saat pesawat yang membawa rombongan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni terpaksa membatalkan pendaratan di Bandara Supadio, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Pejabat beserta rombongan gagal menyentuh landasan pacu akibat pekatnya kabut asap yang memangkas jarak pandang ekstrem hingga tersisa 100 meter saja.

Keputusan penundaan pendaratan tersebut murni diambil demi menjunjung tinggi prosedur keselamatan penerbangan internasional. Setiap maskapai penerbangan memiliki batas toleransi jarak pandang minimum yang wajib dipenuhi pilot dari dalam ruang kemudi (cockpit) menuju ke jalur pendaratan (runway). Apabila jarak pandang berada di bawah ambang batas aman, maka tindakan membatalkan pendaratan atau mengalihkan penerbangan menjadi keputusan mutlak yang wajib diambil.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan membenarkan kejadian pembatalan pendaratan rombongan menteri tersebut. Ia menyampaikan bahwa agenda kunjungan kerja terpaksa disesuaikan ulang sambil menanti kondisi cuaca serta kebersihan ruang udara membaik.

Baca Juga :  Libur Panjang Iduladha, Ratusan Ribu Penumpang Padati Bandara Soetta

“Di tempat kita ini beliau batal datang karena kabut asap dan jarak pandang hanya bisa 100 meter saja, sehingga pesawat tidak berani untuk pendaratan (landing),” tutur Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan di Pontianak, Kamis.

Dinamika cuaca di atas langit Nusantara mengingatkan semua pihak bahwa keselamatan dalam setiap perjalanan adalah prioritas utama yang tak bisa ditawar oleh batas waktu maupun kedudukan. Langkah tegas dan kompromi nol terhadap risiko keselamatan udara menjadi kunci utama agar setiap penumpang dapat kembali mendarat dan berkumpul bersama keluarga tercinta dengan selamat. (Gdi)