
WANITAINDONESIA.CO – Mantan Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines, Hotasi Nababan, membagikan refleksi mendalam mengenai perjalanannya menghadapi jeratan hukum. Dalam diskusi bertajuk “Menakar Batas Kriminalisasi Kebijakan”, sosok yang pernah menjabat di berbagai posisi puncak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menekankan pentingnya menjaga integritas mental dan kejernihan berpikir di tengah ketidakpastian hukum di Indonesia.
Hotasi mengisahkan momen emosional saat dirinya harus menjalani proses hukum. Ia mengenang perjalanan dari Cengkareng menuju Lapas Sukamiskin Bandung dengan pengawalan ketat petugas.
Alih-alih menyimpan dendam, Hotasi memilih untuk berdialog secara manusiawi dengan para petugas yang menjaganya.
“Saya tidak boleh marah atau benci kepada mereka yang menjalankan tugas. Bahkan saat itu, saya mengobrol dengan para petugas. Saya merasa tidak tega melihat realitas yang ada, karena dalam prinsip saya, kebencian hanya akan menghambat ‘perjalanan’ batin yang sedang saya tempuh,” ujar Hotasi mengenang masa-masa sulitnya.
Ironi Penegakan Hukum
Berdasarkan pengalamannya, Hotasi menyoroti fenomena “hukum tanpa takaran”. Ia menilai bahwa seringkali kebijakan direksi atau keputusan administratif dianggap sebagai kerugian negara atau kelalaian tanpa melihat konteks bisnis yang luas. Hal ini ia tuangkan dalam bukunya yang kini banyak menjadi rujukan akademis di berbagai Fakultas Hukum.
Ia menyimpulkan di dalam sebuah tesis yang cukup tajam mengenai realitas kekuasaan saat ini. Menurutnya, ada kecenderungan di mana kepastian hukum sengaja tidak diciptakan.
“Pemerintah, kekuasaan, dan hukum seolah tidak memiliki insentif untuk membuat aturan menjadi pasti. Semakin abu-abu sebuah aturan, maka semakin besar kebutuhan akan uang dan kekuasaan (money and power). Ini adalah permainan yang tidak menghasilkan nilai tambah bagi keadilan,” tegasnya.
Hotasi juga menceritakan pertemuannya dengan berbagai tokoh saat berada di Lapas Sukamiskin, termasuk seorang pendiri sekolah dari Banjarnegara yang terjerat kasus korupsi di usia senja karena masalah administrasi renovasi sekolah.
Cerita-cerita tersebut memperkuat keyakinannya bahwa banyak orang terjebak dalam sistem yang tidak hitam-putih.
Selama masa refleksi tersebut, Hotasi berhasil tetap produktif dengan menulis. Salah satu karyanya yang fenomenal menjadi bahan diskusi penting bagi mahasiswa hukum untuk memahami bahwa hukum seringkali digunakan sebagai instrumen kekuasaan ketimbang instrumen keadilan.
Sebagai sosok yang pernah memimpin perusahaan besar dan malang melintang di dunia korporasi plat merah, Hotasi berpesan agar para praktisi hukum dan pembuat kebijakan kembali pada etika.
Ia mengingatkan bahwa integritas adalah satu-satunya kompas yang tersisa ketika seseorang berhadapan dengan sistem yang abu-abu. (gdi)




