WANITAINDONESIA.CO – Istilah Friends With Benefits (FWB) belakangan semakin sering muncul di media sosial, film, hingga percakapan sehari-hari.
Hubungan ini menggambarkan dua orang yang berteman namun juga memiliki kedekatan fisik tanpa komitmen romantis seperti pasangan.
Fenomena ini membuat banyak orang bertanya, apakah konsep ini benar-benar baru, atau hanya istilah modern untuk pola hubungan yang sebenarnya sudah lama ada?
Dalam sejarah hubungan manusia, relasi tanpa komitmen sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai budaya, selalu ada bentuk hubungan kasual yang berada di antara persahabatan dan romansa.
Bedanya, dahulu hubungan semacam ini jarang dibicarakan secara terbuka.
Istilah friends with benefits sendiri mulai populer di Amerika Serikat pada akhir abad ke-20. Budaya pop, termasuk film dan serial televisi, membantu menyebarkan istilah ini hingga akhirnya menjadi bagian dari bahasa sehari-hari generasi muda.
Di era internet, istilah ini semakin meluas. Media sosial dan aplikasi kencan membuat orang lebih terbuka membicarakan berbagai bentuk hubungan, termasuk hubungan yang tidak mengikuti pola tradisional.
Namun para peneliti menilai hubungan semacam ini memiliki dinamika yang kompleks.
Hubungan FWB sering kali berada di antara dua dunia, yaitu persahabatan dan hubungan romantis.
Psikolog dan peneliti seksualitas dari Kinsey Institute, Justin J. Lehmiller, menjelaskan bahwa hubungan ini tidak selalu sederhana.
“Hubungan friends with benefits pada dasarnya memadukan dua hal sekaligus, yaitu kedekatan sebagai teman dan hubungan seksual. Kombinasi ini membuat dinamika relasinya menjadi unik dibanding hubungan romantis biasa.” tulis Justin dalam penelitian Journal of Sex Research yang diterbitkan di 2014.
Artinya, hubungan ini memadukan dua unsur yang biasanya terpisah, yaitu kedekatan emosional sebagai teman dan kedekatan fisik sebagai pasangan.
Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan sering memiliki motivasi yang berbeda ketika memasuki hubungan seperti ini.
Dalam beberapa studi, laki-laki lebih sering menyebut faktor seksual sebagai alasan utama, sementara perempuan lebih menekankan kedekatan emosional.
Perbedaan harapan inilah yang terkadang memunculkan konflik. Tidak jarang salah satu pihak berharap hubungan berkembang menjadi romansa serius, sementara pihak lain tetap ingin mempertahankan hubungan santai.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa kunci utama hubungan semacam ini adalah komunikasi dan kesepakatan yang jelas.
Tanpa batasan yang disepakati, hubungan FWB berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Pada akhirnya, fenomena Friends With Benefits menunjukkan bagaimana generasi modern mencoba menafsirkan ulang hubungan manusia.
Dari konsep yang dulu dianggap tabu, kini ia menjadi bagian dari diskusi terbuka tentang keintiman, persahabatan, dan pilihan relasi. (GIE)





