Darurat Ikan Sapu-Sapu di Jakarta, Gubernur Siapkan Pasukan Khusus

Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Pusat berkolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta melakukan kerja bakti penangkapan ikan sapu-sapu di kali Cideng, depan Plaza Indonesia Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jumat (10/4/2026). HO-Pemerintah Kota Jakarta Pusat. Foto : Dok Pemkot Jakarta Pusat

WANITAINDONESIA.CO – Kabar mengejutkan datang dari perairan Jakarta yang ternyata kini sedang dalam kondisi “darurat” akibat serbuan ikan sapu-sapu. Bayangkan saja, hanya dalam hitungan jam, pemerintah berhasil mengangkut hampir 7 ton ikan yang kerap dianggap sebagai pembersih kaca akuarium ini dari sungai-sungai di ibu kota. Gerakan pembersihan besar-besaran ini dilakukan serentak di lima wilayah Jakarta sebagai bentuk keseriusan dalam menjaga kelestarian lingkungan air kita.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengungkapkan bahwa hasil tangkapan yang mencapai 6,98 ton tersebut membuktikan betapa padatnya populasi ikan ini di bawah permukaan air sungai Jakarta.

Wilayah Jakarta Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan angka yang fantastis, yakni lebih dari 63 ribu ekor atau setara dengan 5,3 ton yang diangkut dari kawasan Setu Babakan. Sementara itu, wilayah lain seperti Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat juga menyumbangkan ratusan hingga ribuan ekor ikan yang selama ini mendominasi ekosistem air.

Baca Juga :  Meet The Masters Kala Ekosistem Dokter Expert Dunia Sharing Keahlian

Melihat kondisi yang sudah sangat mengkhawatirkan ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa perlawanan terhadap ikan sapu-sapu tidak boleh hanya sekadar acara seremonial belaka. Beliau secara tegas menyatakan rencana untuk membentuk satuan tugas khusus dari tenaga honorer lapangan yang memang didedikasikan sepenuhnya untuk menangkap dan mengatasi hama ini secara berkelanjutan. Gubernur ingin memastikan bahwa penanganan ini dilakukan setiap hari agar populasi ikan yang merugikan ini bisa ditekan habis hingga ke akar-akarnya.

Kehadiran ikan sapu-sapu yang tidak terkendali ini merupakan ancaman serius bagi kelangsungan ekosistem asli Jakarta. Sifatnya yang sangat rakus dalam memangsa telur ikan-ikan lokal membuat ikan jenis lain sulit untuk berkembang biak, sehingga keanekaragaman hayati di sungai kita bisa punah jika dibiarkan. Jika populasi ini tidak segera dikendalikan, maka sungai Jakarta hanya akan berisi ikan sapu-sapu dan kehilangan keseimbangan alamnya yang berakibat pada matinya rantai makanan alami di perairan.

Baca Juga :  Inovatif Terdepan IVFair Perkuat Ekosistem Fertilitas Indonesia, Agungkan Peran Perempuan

Dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh ikan sapu-sapu ternyata jauh lebih mengerikan dari yang kita duga. Selain mematikan populasi ikan lain, ikan ini memiliki kebiasaan buruk membuat lubang di pinggiran sungai untuk dijadikan sarang. Kebiasaan ini secara perlahan merusak dinding sungai atau tanggul yang sudah dibangun pemerintah. Jika dinding sungai ini terus digerogoti dan berlubang, maka risiko tanggul jebol dan longsor akan meningkat tajam, yang tentu saja dapat membahayakan keselamatan warga di sekitar bantaran sungai.

Baca Juga :  Haloskin Menyala Dukung Ekosistem Aesthetic Indonesia

Gubernur Pramono juga memberikan peringatan keras bagi warga agar tidak sekali-kali mencoba mengonsumsi ikan ini. Berdasarkan temuan ahli, tubuh ikan sapu-sapu di Jakarta telah mengandung zat sisa berbahaya yang sangat tinggi karena mereka hidup di air yang tercemar.

Kadar racun dalam tubuh ikan ini sudah melampaui batas aman bagi kesehatan manusia. Mengonsumsi ikan ini sama saja dengan memasukkan zat berbahaya ke dalam tubuh yang bisa memicu berbagai penyakit kronis dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pembersihan besar-besaran ini bukan hanya soal menjaga keindahan sungai, tapi juga melindungi kesehatan dan keamanan seluruh warga Jakarta.(gdn)