
WANITAINDONESIA.CO – Tidak semua perjalanan karier dirancang sejak awal. Ada yang tumbuh perlahan melalui proses panjang, dedikasi tanpa henti, dan kecintaan yang tulus terhadap bidang yang digeluti. Kisah itulah yang tergambar dari perjalanan Dr. Lisda Syamsumardian, S.H., M.H., perempuan yang kini dipercaya sebagai Penjabat (Pj) Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila.
Menariknya, perjalanan Lisda di kampus tersebut dimulai dari posisi yang paling sederhana: seorang mahasiswa baru yang penuh rasa ingin tahu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa puluhan tahun kemudian ia akan berdiri sebagai pemimpin salah satu fakultas hukum terkemuka di Indonesia.
Tumbuh dari Lingkungan yang Sarat Diskusi
Kecintaan Lisda terhadap dunia hukum tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, ia terbiasa berada dalam lingkungan keluarga yang gemar berdiskusi mengenai berbagai persoalan bangsa.
Sang ayah, seorang pengusaha yang memiliki perhatian besar terhadap isu sosial dan politik, kerap mengajak keluarga berdialog mengenai perkembangan Indonesia. Sementara ibunya mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara di bidang keimigrasian.
Percakapan-percakapan sederhana di meja makan ternyata menjadi fondasi penting yang membentuk cara berpikirnya. Dari situlah tumbuh rasa penasaran terhadap hukum, kebijakan publik, dan tata kelola negara.
“Kalau ingin memahami persoalan bangsa dan hukum secara mendalam, saya harus belajar hukum,” begitu keyakinan yang akhirnya mengarahkan langkahnya.
Menemukan Rumah di Fakultas Hukum
Tahun 1999 menjadi titik awal perjalanan akademiknya ketika ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Pancasila. Saat itu Indonesia sedang berada dalam masa transisi pascareformasi, sebuah periode yang penuh dinamika politik dan ketatanegaraan.
Situasi tersebut justru semakin menguatkan ketertarikannya pada bidang Hukum Tata Negara.
Bagi Lisda, Universitas Pancasila bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang membentuk karakter dan pola pikirnya. Ia menemukan lingkungan akademik yang terbuka, sehat, dan mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi.
Kehangatan hubungan antara dosen dan mahasiswa menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan. Tidak ada jarak yang terlalu kaku. Ide dan gagasan dapat diperdebatkan secara ilmiah dalam suasana yang menghargai perbedaan pandangan.
Dari ruang-ruang diskusi itulah kemampuan berpikir kritisnya terus berkembang.
Memilih Mengabdi di Kampus yang Dicintai
Usai menyelesaikan pendidikan sarjana, Lisda sebenarnya memiliki banyak pilihan karier. Namun, hatinya justru tertarik untuk tetap berada di lingkungan akademik.
Ia memulai langkah sebagai asisten dosen sambil melanjutkan pendidikan magister. Pengalaman tersebut membuka wawasan baru tentang dunia pendidikan tinggi yang selama ini hanya dilihatnya dari bangku mahasiswa.
Perlahan, ia semakin menikmati perannya sebagai pendidik.
Setelah menyelesaikan studi magister, Lisda resmi menjadi dosen tetap di bidang Hukum Tata Negara. Sejak saat itu, perjalanan akademiknya terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menyelami Dunia Hukum Hingga Tingkat Doktoral
Semangat belajar yang tinggi mendorongnya melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Brawijaya, Malang.
Pada Januari 2021, ia berhasil meraih gelar doktor dengan penelitian yang mengangkat isu pengawasan pengungsi asing di Indonesia dalam perspektif kedaulatan negara.
Topik tersebut mempertemukan tiga bidang yang menjadi minat akademiknya, yakni Hukum Tata Negara, Hukum Internasional, dan Hukum Keimigrasian.
Penelitian itu juga memperlihatkan kepeduliannya terhadap isu-isu global yang semakin relevan di tengah meningkatnya mobilitas manusia lintas negara.
Kepemimpinan yang Tumbuh dari Pengalaman
Selain aktif sebagai akademisi, Lisda juga dipercaya mengemban berbagai posisi strategis di lingkungan kampus.
Ia pernah memimpin Satuan Penjaminan Mutu Fakultas Hukum yang bertanggung jawab menjaga kualitas akademik dan akreditasi. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat.
Peran tersebut mempertemukannya secara langsung dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Baginya, mahasiswa bukan sekadar peserta didik, melainkan generasi yang sedang mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia nyata.
Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal penting ketika ia dipercaya menjabat sebagai Penjabat Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila.
Lisda memandang jabatan tersebut bukan sebagai pencapaian pribadi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Menyiapkan Generasi Hukum yang Siap Terjun ke Lapangan
Di bawah kepemimpinannya, Fakultas Hukum Universitas Pancasila terus memperkuat program-program yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Salah satunya adalah program magang terintegrasi yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di kementerian, lembaga negara, kantor hukum, perusahaan, maupun institusi peradilan.
Tak hanya itu, ia juga mendorong keterlibatan para praktisi hukum dalam kegiatan pembelajaran melalui program Praktisi Mengajar.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bagaimana teori hukum diterapkan dalam praktik sehari-hari.
Integritas, Warisan Terpenting untuk Generasi Muda
Di tengah berbagai pencapaian akademik dan jabatan yang diemban, ada satu nilai yang selalu menjadi pesan utama Lisda kepada para mahasiswa: integritas.
Menurutnya, kecerdasan tanpa integritas tidak akan cukup untuk membangun bangsa.
Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menjaga prinsip.
Karena itulah ia percaya bahwa tugas perguruan tinggi bukan sekadar menghasilkan lulusan dengan indeks prestasi tinggi, melainkan membentuk manusia yang berkarakter.
Dari ruang-ruang kuliah Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Lisda berharap lahir para hakim, jaksa, advokat, birokrat, akademisi, dan pemimpin masa depan yang mampu menjaga kepercayaan publik dan menegakkan hukum dengan hati nurani.
Perjalanan Dr. Lisda Syamsumardian membuktikan bahwa pengabdian yang dilakukan dengan konsisten akan menemukan jalannya sendiri. Dari seorang mahasiswi yang gemar berdiskusi tentang persoalan bangsa, kini ia menjadi sosok yang berada di garda depan pendidikan hukum Indonesia—mempersiapkan generasi baru yang akan menentukan arah penegakan hukum di masa depan. (*)




