WANITAINDONESIA.CO – Nama Chef Juna Rorimpandey kembali ramai diperbincangkan publik setelah pernyataannya soal budaya kerja karyawan di industri kuliner viral di media sosial. Ucapannya memantik pro dan kontra karena dianggap menyinggung cara pandang terhadap tanggung jawab keluarga dan profesionalisme kerja.
Perdebatan bermula dari potongan podcast bersama Raditya Dika yang beredar luas. Dalam percakapan tersebut, Chef Juna menceritakan pengalaman menghadapi salah satu staf dapurnya yang tiba-tiba tidak masuk kerja dengan alasan menjaga anak yang sedang sakit.
Chef Juna menilai keputusan itu kurang tepat karena menurutnya sang anak masih didampingi istri di rumah. Ia bahkan secara terbuka mempertanyakan efektivitas kehadiran ayah di rumah terhadap proses kesembuhan anak tersebut.
Menurut Juna, sistem kerja dapur profesional memiliki pola yang sangat ketat dan bergantung pada kesiapan seluruh kru di masing-masing posisi. Ketika satu orang mendadak absen, ritme kerja tim bisa terganggu dan memengaruhi operasional restoran secara keseluruhan.
Ia juga mengungkapkan bahwa izin mendadak semacam itu tidak dianggap sebagai cuti dan dapat berdampak pada evaluasi kerja maupun pemotongan pendapatan. Bahkan, Juna mengaku akan memberikan tekanan lebih kepada staf tersebut saat kembali bekerja sebagai bentuk pembelajaran disiplin kerja.
Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi keras dari warganet. Banyak pihak menilai sikap Chef Juna terlalu keras dan kurang menunjukkan empati terhadap kondisi keluarga pekerja. Sebagian netizen juga menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, terutama ketika anak sedang sakit.
Beberapa pengguna media sosial bahkan mengkritik asumsi bahwa seluruh ibu bisa menangani anak sakit sendirian di rumah. Mereka menilai kondisi setiap keluarga berbeda, termasuk adanya pasangan yang sama-sama bekerja atau orang tua tunggal.
Namun, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan kepada Chef Juna. Sejumlah pelaku industri food and beverage (F&B) menyebut tekanan dan disiplin tinggi memang menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia dapur profesional, terutama di restoran fine dining.
Mereka menilai absennya satu kru tanpa persiapan dapat memengaruhi kualitas pelayanan dan performa tim. Karena itu, tuntutan kedisiplinan tinggi dianggap wajar demi menjaga standar operasional restoran.
Perdebatan ini kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai batas antara profesionalisme kerja dan tanggung jawab keluarga di lingkungan kerja modern. (wib)





