Site icon Wanita Indonesia

Cermat Menilai Tanggal Kedaluwarsa Produk Susu Demi Menjaga Kesehatan Keluarga

Perhatikan untuk melihat batas kedaluwarsa produk susu dan olahannya agar terhindar dari gangguan kesehatan. Gdi

WANITAINDONESIA.CO — Rasa ragu kerap menghampiri saat mendapati kemasan susu atau olahannya di dalam lemari pendingin telah melewati tanggal yang tertera pada kemasan. Keinginan untuk segera membuangnya sering kali bertabrakan dengan rasa sayang akan bahan makanan yang tampak masih utuh. Namun, kapankah produk susu benar-benar harus dilepas demi melindungi tubuh dari risiko gangguan kesehatan?

Laporan majalah kesehatan EatingWell mengungkap fakta bahwa label tanggal pada produk makanan cair maupun olahan susu sebenarnya lebih banyak merujuk pada puncak kualitas rasa serta kesegaran, bukan serta-merta menjadi batas pasti keamanan konsumsi. Meski demikian, karakter bahan olahan susu yang sensitif terhadap pertumbuhan mikroorganisme menuntut kewaspadaan ekstra dalam memilah mana yang masih layak dikonsumsi dan mana yang wajib dibuang.

Ahli keselamatan makanan (food safety expert) dari University of Rhode Island, Profesor Nicole Richard, M.S., menjelaskan bahwa tidak semua tanggal kedaluwarsa diciptakan sama. Menurutnya, penandaan seperti “baik digunakan sebelum” (best if used by) menandakan penurunan mutu cita rasa, sedangkan penandaan “digunakan sebelum” (use by) atau “kadaluwarsa” (expiration date) memerlukan perhatian yang jauh lebih ketat karena berkaitan langsung dengan potensi pembiakan bakteri.

Susu cair pasteurisasi (pasteurized milk) biasanya masih relatif aman dikonsumsi hingga beberapa hari setelah tanggal yang tertera selama disimpan pada suhu stabil di bawah empat derajat Celsius. Namun, ketika aroma asam yang menyengat mulai tercium atau tekstur cairan berubah menjadi bergumpal (curdled), hal tersebut menjadi pertanda mutlak bahwa koloni bakteri pengetat (spoilage bacteria) telah berkembang pesat dan produk harus segera dibuang.

Perhatian khusus harus diberikan pada jenis keju lunak (soft cheese) seperti keju krim (cream cheese), keju ricotta (ricotta cheese), dan keju feta (feta cheese). Berbeda dengan keju keras (hard cheese) yang memiliki kadar air rendah, keju lunak menyimpan kelembapan tinggi yang menjadi media ideal bagi pertumbuhan jamur serta bakteri berbahaya seperti Listeria monocytogenes. Jika tampak bercak jamur atau permukaan keju menjadi licin berlendir (slimy), pemotongan bagian yang berjamur tidak akan memutus kontaminasi karena spora telah meresap hingga ke bagian dalam.

Sementara itu, produk susu fermentasi (fermented dairy products) seperti yoghurt (yogurt) dan krim asam (sour cream) memiliki tingkat keasaman alami yang mampu menekan perkembangan bakteri jahat untuk jangka waktu tertentu. Kendati demikian, munculnya cairan berlebih yang disertai perubahan bau menyengat atau timbulnya lapisan jamur berwarna kemerahan maupun hijau menjadi sinyal tegas bahwa masa edar produk tersebut telah habis secara alami.

Mengonsumsi produk olahan susu yang telah mengalami pembusukan berisiko memicu gangguan pencernaan (gastrointestinal distress) hingga keracunan makanan (foodborne illness). Oleh karena itu, pancaindra seperti penciuman dan penglihatan tetap menjadi instrumen evaluasi utama yang paling akurat di dapur ketimbang hanya bergantung pada deretan angka di kemasan.

Menjaga kualitas serta keandalan bahan pangan di rumah merupakan langkah awal dalam mewujudkan pola hidup yang bersih dan sehat. Dengan memahami perbedaan karakter setiap jenis olahan susu serta tanda-tanda kerusakan fisiknya, keputusan terbaik dapat diambil secara bijak—melindungi kesehatan seluruh anggota keluarga sekaligus mencegah pembuangan makanan yang sebenarnya masih layak guna. (Gdi)

Exit mobile version