WANITAINDONESIA.CO – Di Indonesia, sebuah bangunan tidak hanya bertarung melawan waktu, tetapi juga melawan alam. Terletak tepat di jantung Ring of Fire, Indonesia menghadapi tantangan arsitektur yang unik: bagaimana menciptakan bangunan yang indah namun tetap mampu berdiri tegak saat bumi berguncang?
Jawabannya ternyata bukan pada seberapa berat fondasi ditanam, melainkan pada seberapa cerdas material dipilih. Dalam diskusi terbaru yang digelar di Jakarta (16/1), para pakar arsitektur nasional mengungkapkan bahwa baja kini menjadi “aktor utama” dalam transformasi wajah infrastruktur Indonesia yang tangguh bencana sekaligus kaya budaya.
Belajar dari Sumatra: Saat “Ringan” Berarti “Selamat”
Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ar. Georgius Budi Yulianto, membuka diskusi dengan sebuah fakta lapangan yang menarik dari Pulau Sumatra. Berbeda dengan Jawa yang identik dengan genteng berat, masyarakat Sumatra sudah lama akrab dengan material metal atau baja ringan.
“Di luar Pulau Jawa, penggunaan material metal pada atap sangat populer karena bobotnya yang ringan. Ini bukan soal selera, tapi soal nyawa,” ujar Ar. Bugar, sapaan akrabnya.
Dalam skenario gempa bumi, material konstruksi yang berat sering kali menjadi risiko terbesar bagi penghuninya. Baja hadir sebagai solusi karena sifatnya yang modular, fleksibel, dan adaptif terhadap guncangan. Menariknya lagi, teknologi baja memungkinkan pembangunan fasilitas darurat seperti rumah sakit dan sekolah dilakukan dalam waktu singkat tanpa mengorbankan kekokohan struktur.
Menghidupkan Roh Tradisi dalam Presisi Modern
Ada kekhawatiran umum bahwa penggunaan material modern seperti baja akan melunturkan karakter arsitektur tradisional Indonesia. Namun, Ar. Firman Setia Herwanto, Juri Panelis ASEAN Steel Architectural Awards 2026, justru mematahkan anggapan tersebut.
Menurut Firman, arsitektur tradisional kita seperti Rumah Gadang di Minangkabau atau rumah adat Toraja sebenarnya sudah lama mengadopsi prinsip “fleksibilitas”. Sistem pasak tanpa paku yang digunakan nenek moyang kita memiliki filosofi yang sama dengan teknologi baja masa kini.
“Arsitektur tradisional kita sebenarnya sangat ramah gempa. Prinsip ini sangat kompatibel dengan teknologi baja modern yang fleksibel dan presisi,” jelas Firman. Melalui teknik adaptive reuse, bangunan tua yang sarat sejarah kini bisa “dihidupkan kembali” dengan penguatan baja, menjadikannya relevan di era modern tanpa kehilangan jati diri.
Ambisi di Panggung ASEAN: Dari Penonton Menjadi Dominator
Langkah IAI tidak berhenti pada diskusi. Melalui Simposium 2025 bertajuk “Shaping Resilient Futures”, IAI sedang mempersiapkan talenta-talenta terbaik Indonesia untuk berlaga di Steel Architectural Awards ASEAN 2026.
Ajang internasional bertema “Timeless Design with Coated Steel” ini akan menjadi pembuktian bagi arsitek Indonesia untuk bersaing dengan karya-karya hebat dari Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Berkolaborasi dengan mitra strategis seperti BlueScope, IAI ingin memastikan bahwa arsitek lokal memiliki panggung untuk menunjukkan taringnya.
“Arsitek Indonesia punya talenta luar biasa. Kita ingin arsitek kita tidak hanya jadi penonton, tapi jadi dominator di kancah internasional,” tegas Ar. Bugar dengan optimis.
Masa Depan yang Tangguh
Sinergi antara teknologi baja dan kreativitas arsitek menandai babak baru bagi Indonesia. Bangunan masa depan kita kini tidak hanya dituntut untuk cantik dipandang di media sosial, tetapi juga harus mampu “bercerita” tentang budaya dan, yang terpenting, melindungi setiap nyawa yang ada di dalamnya. (Gdi)





