Bukan Cuma Urusan Ibu, Kehadiran Ayah Jadi Kunci Kecerdasan Anak Sejak Dalam Kandungan

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono berinteraksi dengan perempuan dan bayi. Kemenkes

WANITAINDONESIA.CO – Perkembangan otak manusia mengalami lonjakan paling pesat pada rentang usia nol hingga dua tahun. Fase krusial ini menuntut keterlibatan penuh dari kedua orang tua, bukan hanya bertumpu pada sosok ibu. Guna memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menginisiasi Gerakan Keayahan (Fatherhood Movement) sebagai fondasi utama dalam mengawal seribu hari pertama kehidupan. Langkah ini menjadi angin segar dalam upaya nasional menekan angka tengkes (stunting) serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.

Pemerintah menetapkan empat intervensi kunci dalam program seribu hari pertama kehidupan, yang mencakup masa sebelum kehamilan, periode kehamilan hingga persalinan, masa bayi di bawah dua tahun (baduta), serta penguatan layanan kesehatan. Namun, keberhasilan seluruh langkah strategis tersebut sangat bergantung pada kekuatan ikatan dan dukungan solid di dalam rumah tangga.

Baca Juga :  Cuma Belanja Produk Anak Rp25 Ribu, Ibu Berkesempatan Raih Mobil

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa peran aktif seorang ayah harus diwujudkan nyata sejak janin masih berada di dalam kandungan. Menurutnya, investasi pada tahun-tahun awal kehidupan anak merupakan langkah terpenting dalam mencetak generasi unggul.

“Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years (tahun-tahun awal) ini sangat penting. Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement (Gerakan Keayahan) agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak. Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK (seribu hari pertama kehidupan) juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat,” ujar Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono.

Baca Juga :  Ayah Penyanyi Cilik Farel Prayoga Ditangkap Polisi Karena Kasus Judi Online

Kesiapan fisik dan mental untuk menyambut buah hati sejatinya harus dipupuk jauh sebelum pernikahan berlangsung, yakni mulai dari usia remaja, calon pengantin, hingga pasangan usia subur. Pemenuhan gizi seimbang serta pola asuh yang sehat kini menjadi tanggung jawab bersama yang sejajar antara ayah dan ibu.

Sinergi pemerintah dalam mengaitkan kebijakan dengan realitas kehidupan masyarakat turut menjadi sorotan. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menilai keberhasilan program pemerintah sangat ditentukan oleh keharmonisan interaksi harian di tingkat rumah tangga.

“Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk. Maka yang terpenting adalah membangun quality time (waktu berkualitas) antara bapak, ibu, dan anak. Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat,” kata Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan.

Baca Juga :  Ibu Bijak Digital Benteng Utama Anak dari Kejahatan Siber

Pola hidup sehat yang dimulai dari meja makan keluarga serta kehadiran utuh seorang ayah dalam tumbuh kembang anak adalah investasi terbaik yang tidak dapat dinilai dengan materi. Pengasuhan anak bukanlah perjalanan tunggal, melainkan sebuah kerja tim yang harmonis antara ayah dan ibu demi melahirkan generasi masa depan yang cerdas, sehat, dan berdaya saing tinggi. Sudahkah Anda mengambil peran aktif dalam mengukir masa depan buah hati hari ini? (Gdi)