​”Biarkan Mas Imam yang Percaya Padamu”: Pesan Menyentuh Dosen ITB Imam Santoso tentang Kekuatan Sebuah Kehadiran

Di hadapan ribuan guru dan dosen yang hadir, Imam menekankan bahwa di era serba canggih saat ini, esensi utama seorang pendidik tetaplah sederhana, yaitu kehadiran dan rasa percaya. (Foto : Dok Paragoncrop)

WANITAINDONESIA.CO — Pernahkah Anda berada di titik terendah, saat dunia rasanya tidak berpihak dan rasa percaya diri hilang sepenuhnya? Di momen seperti itulah, kehadiran seseorang yang mau mengulurkan tangan tanpa menghakimi bisa menjadi pengubah takdir hidup seseorang.

​Prinsip kehangatan dan kepedulian itulah yang dipegang teguh oleh Imam Santoso, seorang dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus kreator konten pendidikan ternama. Di balik gemerlap dunia digital dan popularitasnya di media sosial, ada kepedulian tulus dari sosok pendidik yang menyentuh hati.

​Kisah nyata ini bermula saat salah satu mahasiswa ITB bernama Bagus terancam tidak bisa menyelesaikan studinya. Ia hanya memiliki waktu sekitar 30 hari sebelum masa studinya usai dan dinyatakan gagal lulus. Kabar tersebut sampai ke telinga Imam Santoso yang saat itu baru saja kembali dari perjalanan studinya di Finlandia.

​Tanpa ragu sedikit pun, Imam langsung mengambil tindakan tegas yang penuh kasih. Ia menghubungi Bagus dan menawarkan tempat tinggal agar sang mahasiswa bisa fokus menyelesaikan tugas akhirnya. Imam menegaskan bahwa jika Bagus tidak datang ke tempatnya, maka ia sendiri yang akan menjemput Bagus ke rumah orang tuanya di Jakarta.

​Beberapa hari kemudian, Bagus akhirnya datang dan tinggal di apartemen kecil milik Imam, sebuah fasilitas rumah singgah ITB yang saat itu dihuni sekitar sepuluh orang. Di sanalah Bagus merampungkan tugas akhirnya di bawah bimbingan intensif Imam. Berkat dukungan kelonggaran tenggat di masa pandemi Covid-19, Bagus akhirnya berhasil meraih gelar sarjananya, dan kini ia telah berkeluarga serta menata masa depannya dengan baik.

(Foto : Dok Paragoncrop)

​Cerita haru ini dibagikan kembali oleh Imam Santoso dalam panggung Inspiring Educator bertajuk “Menjaga Masa Depan, Untuk Pertiwi” pada gelaran Inspiring Educators ParagonCorp 2026 di Jakarta. Di hadapan ribuan guru dan dosen yang hadir, Imam menekankan bahwa di era serba canggih saat ini, esensi utama seorang pendidik tetaplah sederhana, yaitu kehadiran dan rasa percaya. Menurutnya, mahasiswa sering kali tidak butuh seseorang yang menceritakan kehebatan mereka, melainkan sosok yang percaya pada mereka agar rasa percaya diri itu kembali dengan sendirinya.

​Imam pun kerap membisikkan kalimat magis kepada anak-anak didiknya yang sedang ragu: “Kalau kamu enggak percaya pada dirimu sendiri, kali ini biarkan Mas Imam yang percaya padamu.”

​Sebagai seorang kreator konten, Imam juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan kebaikan. Jika dahulu seorang pendidik hanya bisa menyapa puluhan murid di dalam satu kelas, kini teknologi memungkinkan pesan-pesan edukatif menyentuh jutaan anak muda tanpa batas ruang dan waktu. Meski begitu, ia menegaskan bahwa teknologi tetaplah sekadar alat, sementara karakter, ketangguhan, dan jiwa anak didik tetap tumbuh dari sentuhan kemanusiaan yang nyata.

​Kepedulian Imam ini tidak tumbuh begitu saja. Ia mengenang sosok Pak Harsono, gurunya semasa sekolah di Jember yang mengajar tiga generasi di keluarganya—mulai dari sang nenek, ibunya, hingga dirinya sendiri. Kehangatan pendidik masa kecilnya itulah yang terus ia rawat dan salurkan kembali kepada generasi penerus.

​Imam juga menyadari bahwa perjuangan memajukan pendidikan tidak bisa dibebankan kepada guru dan dosen semata, melainkan butuh sinergi dari berbagai pihak. Ia mengapresiasi keberadaan ekosistem yang dibangun ParagonCorp melalui berbagai inisiatif seperti Wardah Inspiring Teacher untuk guru, Inspiring Lecturer Program untuk dosen, serta Paragon Scholarship Program yang tidak hanya memberikan bantuan finansial tetapi juga pendampingan bagi mahasiswa.

​Pada akhirnya, kisah Imam Santoso memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, baik sebagai orang tua, pendidik, maupun sesama perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali, orang-orang di sekitar kita yang sedang berjuang tidak membutuhkan nasihat panjang lebar, melainkan hanya butuh kepastian bahwa ada satu orang yang percaya pada kemampuan mereka. (Des)