
WANITAINDONESIA.CO — Batik lawas dan gulungan kain kenangan menjadi peninggalan paling berharga yang diterima Mira Hoeng dari sang bunda. Selama 35 tahun, ibundanya membangun usaha busana yang sangat lekat dengan keanggunan batik, kebaya, hingga cheongsam.
Namun, ketika tongkat estafet itu resmi berpindah ke tangannya, Mira tidak serta-merta tahu ke mana harus melangkah. Ia membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk merenung dan mencari jawaban sampai akhirnya lahirlah MIWA Heritage, sebuah second label yang menjadi cara Mira merawat warisan sang bunda sekaligus memberi energi baru agar busana tradisional terasa lebih dekat dan relevan dengan generasi muda.
Mira memilih untuk tidak sekadar melanjutkan peninggalan tersebut dalam bentuk yang persis sama, melainkan mempertemukan sebagian karya otentik sang bunda dengan sentuhan desain barunya. Hasilnya adalah perpaduan batik berkarakter modern dan potongan yang disesuaikan dengan selera Gen Z serta millenial.
Bersama para desainer dari Indonesia Fashion Chamber (IFC) Chapter Jakarta, Mira membawa warisan penuh emosi ini ke panggung mode megah Fashion Nation Senayan City Jakarta pada 20 September 2026. Mira mengungkapkan bahwa sebagian koleksinya merupakan karya mamanya sejak 35 tahun lalu yang dipadankan dengan rancangan barunya untuk meneruskan legacy beliau lewat napas baru, batik modern, dan potongan yang menyesuaikan gaya anak muda.
Semangat untuk mendekatkan heritage Nusantara ke ritme masa kini diterjemahkan secara apik lewat koleksi bertajuk “City Light”. Koleksi ini mempertemukan kekayaan tekstil Indonesia dengan dinamika lanskap urban, mulai dari bayangan gedung pencakar langit, refleksi cahaya pada arsitektur modern, hingga garis geometris kota metropolitan.

Menurut Mira Hoeng selaku CEO sekaligus Founder MIWA Heritage, koleksi City Light hadir untuk membawa warisan budaya ke dalam ritme masa kini dan membuktikan bahwa kriya Indonesia dapat terus berkembang, relevan bagi perempuan modern, serta tetap memiliki jiwa kearifan lokal.
Nuansa malam di metropolitan diekspresikan lewat perpaduan palet warna charcoal, abu-abu, silver, gold, hingga yellow ochre yang merepresentasikan ketegasan struktur arsitektural kota, siluet bangunan tinggi, serta hangatnya pendar keemasan di sepanjang skyline. Untuk menjaga keotentikan akar budaya Indonesia, motif geometris urban dipadukan dengan detail bordir bunga anggrek yang menjadi salah satu identitas visual khas Nusantara.
Kekuatan utama dari koleksi City Light terletak pada eksplorasi Batik Prada khas Tasikmalaya, di mana aksen kilau emas pada kain tersebut memberikan dimensi mewah pada siluet kebaya dan janggan wanita, sekaligus menjadi metafora visual bahwa warisan budaya Indonesia sanggup terus memancarkan pesona di tengah pusaran modernisasi.
Bagi MIWA Heritage, elemen emas tidak sekadar hiasan estetis, melainkan simbol harapan dan optimisme menatap masa depan.
Redefinisi busana tradisional ini terlihat jelas dari hadirnya struktur tailoring yang tegas dan presisi, dipadukan dengan garis asimetris, sentuhan payet, aplikasi floral, serta permainan tekstur yang memberikan kesan struktural nan futuristik tanpa mengikis identitas heritage.
Perpaduan antara keanggunan Batik Prada Tasikmalaya dan warna-warna arsitektural kota menciptakan keseimbangan utuh antara ketegasan struktur modern dan kelembutan kriya tradisional buatan tangan para pengrajin lokal, sebuah perayaan atas warisan Nusantara yang terus berevolusi, relevan, dan berkilau bagaikan cahaya kota yang dapat disimak lebih lanjut melalui akun Instagram resmi @miwaheritage. (Des)




